Gula Langka di Sanggau dan Entikong

Maraknya razia yang berujung pada penangkapan gula illegal dari Malaysia akhir-akhir ini, berimbas pada langkanya pasir manis itu dipasaran. .

Diterbitkan 20 Desember 2011, 13:38 WIB
Share
Copy Link
Batalkan
Citizen6, Sanggau: Maraknya razia yang berujung pada penangkapan gula illegal dari Malaysia akhir-akhir ini, berimbas pada langkanya pasir manis itu dipasaran. Berdasarkan pantauan di sejumlah toko dan mini market di kawasan kota Sanggau pada, Minggu (18/12), tidak ada satupun toko, mini market atau warung menjual pasir manis itu. Bukan hanya berdampak pada komoditas gula saja, seluruh barang makanan dan minuman yang selama ini didatangkan dari Malaysia, juga langka. Seperti misalnya minyak goreng kemasan asal Malaysia. Meskipun begitu, masih ada beberapa toko dan warung yang menjual tentunya dengan harga yang lebih mahal dari sebelumnya yaitu 11 ribu menjadi 13 ribu.

Langkanya gula di sejumlah toko, warung dan minimarket berdampak pada ibu-ibu rumah tangga. Berdasarkan bincang-bincang dengan salah satu ibu rumah tangga, Asnah yang bekerja sebagai penjual kue, dia mengeluhkan langkanya gula. Pasalnya, gula merupakan kebutuhannya untuk membuat kue. Akibatnya, penghasilannya sebagai penjual kue menjadi terganggu. “Susah sejak tidak ada gula, bagaimana mau buat kue kalau gitu,”keluhnya. Hal senada juga disampaikan salah satu pemilik toko yang berlokasi depan Rawa Bhakti, Sanggau. Menurutnya, kelangkaan gula dipicu penangkapan dan razia gula yang dilakukan aparat terkait. Sementara itu, Sanggau selama ini, tidak pernah mendapat pasokan gula dari Pulau Jawa. “Kita tidak pernah menjual gula dari Jawa. Karena memang tidak pernah ada. Selama ini kita tergantung dengan gula Malaysia. Kalau pas lagi razia macam gini, ya susahlah,” katanya.

Bukan hanya Sanggau di kawasan Kota Sanggau saja yang mengalami kelangkaaan, di perbatasan Entikong juga demikian. Seperti yang disampaikan Tokoh Masyarakat Perbatasan Etikong, H Thalib, dia mengaku warga di Entikong sekarang ini sudah merasa resah dengan kelangkaan gula. Kalau pun ada harganya mengalami kenaikan hingga 14 ribu per kilogram. Apalagi kondisi tersebut dihadapkan dengan perayaan Natal 2011. “Sejak penangkapan gula yang dilakukan instansi terkait, warga di sini takut mau membeli gula di Malaysia. Itulah yang memicu langkanya gula,” kata H Thalib. Gula yang lewat dari pos lintas batas harus sesuai perjanjian Sosek-Malindo, itupun juga sulit masuk. Diceritakannya, di beberapa toko Malaysia, tidak dtemukan lagi gula bersubidi yang biasanya dijual 5.200/kg. saat ini, hanya gula yang non subsidi saja yang dijual, harganya tentu berbeda yaitu 8.500/kg.

Terkait langkanya gula tersebut, H Thalib meminta Pemkab Sanggau dengan menggandeng DPRD, pihak keamanan dan Bea Cukia segera mengambil tindakan nyata menuntaskan persoalan tersebut. Sebab menurutnya, kelangkaan gula bisa berdampak pada sektor lain seperti misalnya usaha kuliner dan jajanan. “Dampaknya besar sekali jika tidak segera diselesaikan,” tegasnya. Salah satu solusinya adalah dengan mendistribusikan gula dari Pulau Jawa tentunya dengan jaminan harga yang terjangkau pula. Jika hal itu tidak bisa dilakukan, dia meminta agar perjanjian Sosek-Malindo ditinjau ulang. Bukan hanya Sanggau yang mengalami kelangkaan, di Kabupaten Sintang juga mengalami nasib serupa. Bahkan, harga gula di Sintang mencapai harga 13 ribu/Kg dari sebelumnya yang hanya 10 ribu/Kg. (Pengirim: Indra)