Sukses

Saksikan Inspirato Bersama 3 Perempuan Inspiratif Indonesia

Liputan6.com, Jakarta - Indonesia seolah tak pernah kehabisan sosok wanita menginspiratif. Untuk menyambut Hari Ibu yang jatuh pada bulan Desember, Liputan6.com menghadirkan sosok-sosok wanita inspiratif dengan keahlian di bidang mereka masing-masing.

Sebut saja, seorang jurnalis foto yang tak gentar bertugas di daerah konflik seperti Afghanistan, perempuan yang divonis positif HIV namun malah menjadi pejuang HIV/AIDS bagi ODHA, atau sosok wanita yang menjadi kepala BPOM pertama yang dilantik oleh presiden. Ketiga tokoh itu yakni Kepala BPOM RI Dr. Ir. Penny Kusumastuti Lukito, MCP; Pejuang HIV dari Indonesia Suksma Ratri, serta Fotografer Perang Adek Berry.

Inspirato yang juga ditayangkan secara live streaming ini dilaksanakan pada:

Hari: Selasa

Tanggal: 12 Desember 2017

Pukul: 11:45 WIB-selesai

Lokasi: SCTV Tower lantai 8

 

Berikut profil ketiga tokoh tersebut:

1. Dr. Ir. Penny Kusumastuti Lukito, MCP

Beliau mencatatkan sejarah sebagai pimpinan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) yang dilantik langsung oleh presiden. Pelantikan dirinya oleh Presiden Joko Widodo pada 20 Juli 2016, tak lepas dari sepak terjang beliau sebagai pengawas di Bappenas selama puluhan tahun. Ibu dari empat anak dan istri dari Firdaus Ali itu mengaku dapat sebuah wawancara bersama Liputan6.com, mungkin hal itulah yang membuatnya terpilih menjadi Kepala BPOM meski tidak punya latar belakang di kesehatan atau farmasi.

Perempuan lulusan Teknik Lingkungan ITB ini juga menjadi orang pertama dari luar BPOM yang memimpin lembaga tersebut. Ke depannya, wanita yang pernah menjabat sebagai Senior Development Policy Adviser pada Tim Analisa Kebijakan di Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Bappenas dengan jabatan fungsional Perencana Utama ini mengakui akan ada perubahan basis legal untuk status BPOM.

Seperti apa sepak terjang beliau selengkapnya?

2. Suksma Ratri

Saat diberi tahu bahwa dirinya positif HIV, Ratri tidak histeris atau putus asa. Reaksinya yang tenang membuat keluarga besarnya juga tidak bereaksi berlebihan. Meski di satu sisi ia bersyukur putrinya negatif, di sisi lain Ratri merasa sedih mendapatkan virus tersebut dari pria yang pernah menjadi pasangan hidupnya.

Menjadi single parent dan bekerja di yayasan yang mengurus orang-orang dengan HIV/AIDS (ODHA) menjadi pilihan hidupnya. Ia berusaha tetap semangat dan makin berkecimpung di bidang penanganan ODHA.

Ratri sempat bekerja di Coordination of Action Research of Aids and Mobility (CARAM Asia). Di sana ia menangani para buruh migran yang mengidap HIV/AIDS.

Berkat kiprahnya yang konsisten dalam kampanye anti-HIV/AIDS, Ratri terpilih sebagai pembicara pembuka dalam Sidang Istimewa PBB 2008 di New York, Amerika Serikat.

Bagaimana kelanjutan kisahnya?

 

1 dari 2 halaman

3. Adek Berry

Dunia fotografi identik dengan laki-laki, namun wanita yang satu ini tak gentar berkecimpung di bidang tersebut. Kariernya sebagai jurnalis foto mulai digeluti sejak 1997 silam. Lucunya, ia justru tidak memiliki latar belakang kuliah di bidang fotografi atau pun jurnalistik.

Perempuan kelahiran Curup, 14 September 1971 ini justru belajar fotografi secara otodidak dari kamera pemberian kakaknya. Dari sanalah, ia mulai mencoba lebih menekuni dunia fotografi lewat mengikuti klub dan bahkan berbisnis foto pernikahan dan foto wisuda.

Ia tidak pernah merencanakan akan bekerja di kantor berita asing seperti AFP. Baginya, semua mengalir begitu saja. Kariernya sebagai jurnalis foto bermula setelah ditempatkan oleh AFP di Istana Negara. Sejak saat itu, serangkaian tantangan ia geluti hingga ke daerah-daerah konflik maupun bencana alam.

Bagaimana kisahnya selengkapnya?

Program eksklusif ini juga bisa disaksikan secara langsung melalui video di sini:

 

 

Artikel Selanjutnya
Tantangan Ibu Bekerja Atur Peran Terbaik untuk Keluarga dan Profesi
Artikel Selanjutnya
Livi Zheng Rayakan Hari Kartini di Yale University