Gempa M 6,0 Guncang Poso di Hari Kemerdekaan, Masyarakat Diingatkan Waspadai Hoaks

Gempa Poso berkekuatan M 6,0 mengguncang Sulawesi Tengah pada 17 Agustus 2025, menyebabkan puluhan korban luka dan kerusakan bangunan. Simak detail lengkapnya!

Diperbarui 18 Agustus 2025, 12:13 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta- Gempa bumi berkekuatan Magnitudo (M) 6,0 mengguncang Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah, pada Minggu, 17 Agustus 2025. Peristiwa ini terjadi bertepatan dengan peringatan Hari Kemerdekaan Indonesia ke-80, menambah duka di tengah perayaan nasional.

Pusat gempa berada di darat, sekitar 5 kilometer barat daya Poso, dengan kedalaman dangkal sekitar 10 kilometer. Guncangan kuat dirasakan di Kota Poso dengan skala intensitas V–VI MMI, membuat warga panik dan berhamburan keluar rumah mencari perlindungan.

Akibat gempa Poso ini, puluhan orang dilaporkan mengalami luka-luka dan sejumlah bangunan mengalami kerusakan parah. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) serta Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) terus memantau situasi dan mengimbau masyarakat untuk tetap tenang serta hanya mengacu pada informasi resmi.

Fakta Utama Gempa Poso

Gempa Poso yang terjadi pada 17 Agustus 2025 dilaporkan pada beberapa waktu berbeda, yakni pukul 05.38 WIB (06.38 WITA) dan 07.52 WITA. Meskipun awalnya tercatat M 6,0, beberapa lembaga kemudian memutakhirkannya menjadi M 5,8.

Episenter gempa ini berlokasi di darat, sekitar 5 kilometer barat daya Poso, Sulawesi Tengah, atau 13 kilometer barat laut Kota Poso di laut, dengan kedalaman fokus sekitar 10 kilometer. Kedalaman yang dangkal ini berkontribusi pada intensitas guncangan yang kuat di permukaan.

BMKG menjelaskan bahwa gempa ini merupakan jenis gempa dangkal yang dipicu oleh aktivitas Sesar Tokoraru. Aktivitas sesar ini dikenal sebagai salah satu sumber gempa di wilayah Sulawesi Tengah.

Dampak dan Kerusakan Akibat Gempa

Getaran gempa Poso dirasakan sangat kuat di Kota Poso dengan skala intensitas V–VI MMI, yang menyebabkan kepanikan massal di kalangan warga. Guncangan juga terasa di beberapa wilayah sekitar seperti Tentena, Morowali, Palu, Luwu Timur, Mamuju, Masamba, Majene, Palopo, Pasangkayu, Tana Toraja, dan Wajo.

Data terbaru dari BNPB mencatat total 32 orang terluka akibat gempa ini, dengan 16 orang dirujuk ke RSUD Poso, 6 orang dirawat di Puskesmas Tokorondo, dan 10 orang mengalami luka ringan. Dua orang di RSUD Poso dilaporkan dalam kondisi kritis, menunjukkan tingkat keparahan cedera.

Kerusakan bangunan juga signifikan, termasuk robohnya Gereja Elim di Kabupaten Poso yang menimpa 10 jemaat. Selain itu, empat unit rumah rusak berat, 33 unit rumah rusak ringan, dan satu unit gedung SDN 1 Tangkura juga mengalami kerusakan. Fasilitas ibadah lain seperti Gereja Gloria dan GPDL Mahnaim, serta beberapa masjid dan sekolah, turut terdampak.

Sebagai respons terhadap dampak gempa, sebanyak 2.011 warga Poso terpaksa mengungsi dari rumah mereka. Pengungsian ini dilakukan untuk memastikan keamanan warga dari potensi gempa susulan dan kerusakan lebih lanjut.

Gempa Susulan dan Potensi Tsunami

Setelah gempa utama, BMKG mencatat adanya serangkaian gempa susulan. Dalam kurun waktu empat jam, setidaknya 19 kali gempa susulan terjadi, dengan beberapa sumber menyebutkan hingga 25 kali. Kekuatan gempa susulan ini bervariasi, dengan yang terbesar mencapai Magnitudo 3,2.

Meskipun BMKG awalnya menyatakan gempa ini tidak berpotensi tsunami karena pusatnya di daratan, laporan terbaru mengindikasikan hal yang berbeda. Direktur Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Daryono, mengonfirmasi bahwa gempa Poso sempat memicu tsunami minor setinggi 4 cm.

Informasi mengenai tsunami minor ini menjadi perhatian khusus, meskipun ketinggiannya tidak signifikan. Hal ini menunjukkan kompleksitas dinamika tektonik di wilayah tersebut dan pentingnya pemantauan berkelanjutan.

Himbauan Kewaspadaan dan Informasi Resmi

Menyikapi situasi pasca-gempa, BMKG dan BNPB secara konsisten menghimbau masyarakat untuk tetap tenang dan tidak mudah terpancing oleh isu, informasi yang tidak atau hoaks dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya. Masyarakat dianjurkan untuk hanya mengacu pada kanal resmi BMKG dan BNPB untuk mendapatkan informasi terbaru dan terverifikasi.

Masyarakat juga diimbau untuk tetap waspada terhadap potensi gempa susulan yang masih mungkin terjadi. Penting untuk memperhatikan kondisi bangunan di sekitar dan menghindari area yang retak atau rusak akibat guncangan gempa.

Sebelum kembali ke rumah, pastikan bangunan tempat tinggal cukup tahan gempa atau tidak ada kerusakan struktural yang membahayakan. Keselamatan diri dan keluarga harus menjadi prioritas utama dalam menghadapi situasi pasca-bencana.