Piala Dunia 2026 Jadi Ajang Unjuk Ketangguhan Para Pemain Veteran

Sejumlah pemain yang memasuki usia 40 tahun atau lebih masih mampu bersaing dan menjadi andalan tim nasional mereka di Piala Dunia 2026.

Diterbitkan 09 Juni 2026, 21:58 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Piala Dunia 2026 diperkirakan menghadirkan fenomena yang cukup unik dalam sejarah sepak bola internasional. Sejumlah pemain yang telah memasuki usia 40 tahun atau lebih masih mampu bersaing dan menjadi andalan tim nasional mereka di level tertinggi.

Dalam 22 edisi Piala Dunia sebelumnya, hanya ada satu pemain nonkiper yang pernah tampil setelah melewati usia 40 tahun, yaitu Roger Milla dari Kamerun. Namun, turnamen yang akan berlangsung di Amerika Utara kali ini menghadirkan lebih banyak sosok veteran yang masih aktif di panggung dunia.

Cristiano Ronaldo bersiap menjalani penampilan keenamnya di Piala Dunia saat usianya menginjak 41 tahun. Sementara itu, Luka Modric yang kini berusia 40 tahun juga siap mencatatkan partisipasi kelima bersama Kroasia.

Tak hanya dua nama besar tersebut, Edin Dzeko turut membawa Bosnia dan Herzegovina melaju ke putaran final untuk kedua kalinya dalam sejarah negara tersebut. Penyerang berusia 40 tahun itu masih dipercaya sebagai kapten dan menjadi figur sentral bagi generasi muda negaranya.

Kehadiran para pemain senior ini memunculkan perdebatan menarik menjelang Piala Dunia 2026. Apakah mereka hanya pengecualian yang langka, atau justru menjadi tanda bahwa sepak bola modern memungkinkan pemain bertahan lebih lama di level elite?

Dzeko dan Ambisi Menutup Karier dengan Manis

Dzeko mengungkapkan bahwa dirinya sempat memikirkan pensiun ketika menjalani masa sulit bersama Fiorentina pada musim 2025-2026. Minimnya menit bermain membuat masa depannya sebagai pesepak bola profesional sempat dipertanyakan.

Situasi berubah setelah ia bergabung dengan Schalke pada Januari lalu. Sambutan hangat dari para pendukung serta lingkungan baru di klub tersebut membuat semangatnya kembali tumbuh.

"Saya sangat bahagia bisa memimpin tim ini sebagai kapten, generasi baru yang hebat, menuju Piala Dunia dan banyak pencapaian lain di masa depan," ujar Dzeko.

Bosnia dan Herzegovina memastikan tiket ke putaran final lewat jalur playoff UEFA yang tidak mudah. Dzeko memainkan peran penting melalui kontribusi gol dan assist yang membantu timnya menyingkirkan Wales dan Italia.

Menjaga Performa di Tengah Faktor Usia

Menurut Dzeko, kondisi fisiknya tentu berbeda dibandingkan saat masih berada di awal karier. Ia mengakui tubuhnya kini membutuhkan perhatian lebih agar tetap berada dalam kondisi terbaik.

"Ada rasa sakit di mana-mana pada pagi hari. Namun, itu seperti cara tubuh memberi tahu kondisi yang harus dijaga agar tetap prima," ungkapnya.

Untuk menjaga kebugaran, Dzeko kini memberikan perhatian besar pada proses pemulihan, latihan peregangan, serta pengaturan intensitas latihan. Ia juga lebih disiplin dalam menjaga kondisi setelah sesi latihan berakhir.

Perubahan lainnya terlihat dalam cara bermain. Dzeko kini mengandalkan pengalaman, kecerdasan membaca situasi, dan kemampuan mencari posisi terbaik ketimbang mengandalkan kecepatan seperti ketika masih muda.

Ronaldo dan Modric Masih Menjadi Tolok Ukur

Ronaldo tetap menjadi contoh paling menonjol soal menjaga kebugaran di usia yang tidak lagi muda. Kapten Portugal tersebut terus menjalani program latihan yang disiplin demi mempertahankan level performanya.

"Tubuh saya terasa baik. Saya ingin terus mencetak gol dan membantu tim. Ini adalah hidup saya," kata Ronaldo.

Pelatih Portugal, Roberto Martinez, menilai keberhasilan Ronaldo bertahan di level tertinggi tidak lepas dari mentalitas luar biasanya. Menurutnya, sang pemain selalu berusaha menemukan cara untuk berkembang setiap hari.

Di sisi lain, Modric juga masih mampu bersaing setelah melanjutkan karier bersama AC Milan usai meninggalkan Real Madrid. Direktur performa Real Madrid, Antonio Pintus, menyebut profesionalisme dan komitmen tinggi sebagai faktor utama yang membuat gelandang Kroasia itu tetap kompetitif.

Pengaruh Besar Kemajuan Ilmu Olahraga

Kemajuan teknologi dan ilmu olahraga turut berkontribusi terhadap meningkatnya usia karier para pemain profesional. Program latihan, pola makan, metode pemulihan, hingga pemantauan kondisi fisik kini berkembang jauh lebih pesat dibanding era sebelumnya.

Peneliti olahraga asal Portugal, Luis Branquinho, menjelaskan bahwa performa fisik terbaik seorang pemain umumnya berada pada pertengahan usia 20-an. Setelah itu, kemampuan seperti kecepatan dan daya ledak biasanya mulai mengalami penurunan.

Meski demikian, para pemain elite mampu menyesuaikan diri dengan perubahan tersebut. Adaptasi dalam posisi bermain, pengelolaan energi, dan metode latihan yang tepat membuat mereka tetap mampu tampil di level tertinggi meski faktor usia terus bertambah.

Bisakah Generasi Berikutnya Mengulanginya?

Banyak pengamat menilai Ronaldo, Modric, dan Dzeko merupakan sosok yang sangat istimewa. Kombinasi antara faktor genetika, kedisiplinan, pengalaman, dan motivasi tinggi membuat mereka mampu bertahan lebih lama dibanding kebanyakan pemain lainnya.

Di sisi lain, sejumlah pihak menyoroti padatnya jadwal pertandingan sepak bola modern. Organisasi pemain profesional bahkan menilai kalender kompetisi yang semakin sibuk berpotensi membuat usia karier pemain masa depan menjadi lebih pendek.

Menariknya, ketiga pemain veteran tersebut sama-sama mengemban status sebagai kapten tim nasional. Pengalaman, kepemimpinan, serta pengaruh mereka di ruang ganti menjadi nilai penting yang tidak bisa diukur hanya dari aspek fisik semata.

Ketika Bosnia dan Herzegovina memulai kiprahnya di Piala Dunia 2026, Dzeko memiliki peluang menorehkan catatan bersejarah sebagai pemain lapangan kedua yang tampil di turnamen tersebut setelah melewati usia 40 tahun. Bersama Ronaldo dan Modric, ia menunjukkan bahwa usia tidak selalu menjadi batas untuk tetap bersaing di panggung terbesar sepak bola dunia.

Ikuti berita bola terbaru di Sport Liputan6

Halaman
Show All
Ari Rachman PrayogaTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan