Momen Unik Piala Dunia: Aib Gijon yang Mencoreng Sepak Bola

Skandal 'Aib Gijón' di Piala Dunia 1982 antara Jerman Barat dan Austria mengguncang dunia sepak bola.

Diterbitkan 29 April 2026, 17:06 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Rivalitas historis antara Jerman Barat dan Austria juga turut mewarnai pertandingan ini. Sebelumnya, Austria pernah mengalahkan Jerman Barat dalam insiden yang dikenal sebagai "Keajaiban Cordoba" di Piala Dunia edisi sebelumnya. Manajer Austria, Georg Schmidt, bahkan menyatakan bahwa para pemainnya selalu memiliki motivasi khusus saat berhadapan dengan Jerman.

Detik-Detik Terjadinya "Aib Gijon"

Pertandingan yang kemudian dikenal sebagai "Aib Gijon" dimulai dengan gol cepat dari Horst Hrubesch untuk Jerman Barat pada menit ke-11, mengubah skor menjadi 1-0. Gol ini memiliki implikasi besar. Dengan skor tersebut, Jerman Barat dan Austria sama-sama akan lolos ke babak selanjutnya, sementara Aljazair harus tersingkir dari turnamen.

Setelah gol pertama tercipta, intensitas permainan menurun drastis, terutama di seperempat jam terakhir pertandingan. Meskipun sempat ada beberapa momen agresif di babak pertama, seperti tekel keras dari Wolfgang Dremmler, namun permainan melambat signifikan menjelang jeda. Di babak kedua, situasi semakin parah; hanya ada tiga tembakan yang dilepaskan, dan tidak ada satupun yang mengarah ke gawang.

Data statistik menunjukkan kurangnya agresi dan niat menyerang dari kedua tim. Jerman Barat hanya melakukan delapan tekel sepanjang pertandingan. Kedua tim juga mencatat rasio penyelesaian operan di atas 90% di babak kedua, dengan Austria mencapai 99 persen di area pertahanan sendiri dan Jerman Barat 98 persen. Hal ini mengindikasikan bahwa kedua tim lebih fokus mengoper bola di area aman daripada mencoba menciptakan peluang gol, memperkuat dugaan adanya pengaturan skor.

Gelombang Kecaman dan Protes Global

Jalannya pertandingan yang mencurigakan ini langsung memicu reaksi keras dari berbagai pihak. Komentator TV Austria, Robert Seeger, bahkan menyuruh penonton untuk mematikan televisi masing-masing, sementara komentator Jerman, Eberhard Stanjek, menyatakan bahwa apa yang terjadi adalah "memalukan dan tidak ada hubungannya dengan sepak bola."

Di stadion, ribuan penggemar Aljazair meneriakkan "Ini pengaturan!" dan beberapa di antaranya membakar uang sebagai bentuk protes. Penggemar Spanyol yang netral juga menunjukkan ketidakpuasan mereka, bahkan seorang penggemar Jerman membakar bendera negaranya di tribune. Hugh Johns dari ITV menggambarkan pertandingan itu sebagai "salah satu pertandingan internasional paling memalukan yang pernah saya lihat."

Media massa juga tidak tinggal diam. Asosiasi Sepak Bola Aljazair segera mengajukan protes resmi, menyebutnya sebagai "konspirasi jahat." Media Jerman sendiri mengkritik tim nasional mereka dengan tajuk berita seperti "MALU PADA KALIAN!". Surat kabar Spanyol menyebut insiden itu "Anschluss", sementara media Belanda menggambarkannya sebagai "pornografi sepak bola." Mantan pemain internasional Jerman, Willi Schulz, bahkan menyebut semua 22 pemain sebagai "gangster."

Meskipun demikian, para pemain dan pelatih yang terlibat membela diri. Manajer Austria, Georg Schmidt, mengakui bahwa itu adalah "pertunjukan yang memalukan," namun pelatih Jerman Barat, Jupp Derwall, menolak tuduhan pengaturan skor, menyebutnya "penghinaan yang serius."

Derwall bahkan mengatakan, "Kami ingin maju, bukan bermain sepak bola," dan Lothar Matthaus menambahkan, "Kami telah lolos. Itu saja yang penting."

Hans Krankl dari Austria juga menyatakan, "Kami lolos ke babak berikutnya. Dan saya tidak peduli dengan Jerman." Bahkan, kepala delegasi Austria, Hans Tschak, membuat komentar kontroversial yang merendahkan penggemar Aljazair, menyebut mereka "anak-anak gurun" yang ingin memicu skandal.

Warisan dan Perubahan Aturan FIFA

Meskipun gelombang kecaman begitu besar, protes yang diajukan oleh Asosiasi Sepak Bola Aljazair ditolak oleh komite penyelenggara FIFA. Setelah pertemuan selama tiga setengah jam, FIFA menyatakan bahwa hasil pertandingan "tidak dapat diubah oleh badan eksternal mana pun." Keputusan ini tentu saja mengecewakan banyak pihak, terutama Aljazair.

Namun, insiden "Aib Gijon" tidak berlalu begitu saja tanpa meninggalkan jejak. Sebagai respons terhadap kontroversi ini, FIFA akhirnya mengambil langkah tegas dengan mengubah salah satu aturan penting dalam turnamen.

Sejak saat itu, semua pertandingan terakhir dalam fase grup turnamen harus dimainkan secara bersamaan. Perubahan ini bertujuan untuk mencegah tim-tim mendapatkan keuntungan tidak adil setelah mengetahui hasil pertandingan lain, sehingga potensi pengaturan skor dapat diminimalisir. 

Dari perspektif Aljazair, insiden ini, meskipun pahit, justru dianggap sebagai sebuah kehormatan. Chaabane Merzekane, bek kanan Aljazair, menyatakan bahwa melihat dua kekuatan besar merendahkan diri untuk menyingkirkan mereka adalah sebuah pengakuan atas kekuatan Aljazair.

Lakhdar Belloumi menambahkan bahwa penampilan mereka memaksa FIFA untuk membuat perubahan, yang "bahkan lebih baik daripada kemenangan" dan berarti Aljazair meninggalkan jejak yang tak terhapuskan dalam sejarah sepak bola.

Ikuti berita bola terbaru di Sport Liputan6

Halaman
Show All
Harley IkhsanTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan