Liputan6.com, Jakarta - Sejarah Piala Dunia selalu diwarnai oleh momen-momen tak terduga, drama yang mendebarkan, dan kisah-kisah yang menjadi legenda. Salah satu episode paling membingungkan dan banyak diperdebatkan adalah insiden yang menimpa bintang Brasil, Ronaldo Nazário, menjelang final Piala Dunia 1998.
Peristiwa ini terjadi hanya beberapa jam sebelum pertandingan krusial melawan tuan rumah Prancis, meninggalkan tanda tanya besar yang masih relevan hingga kini, bahkan saat kita menantikan gelaran Piala Dunia 2026 yang akan datang.
Pada 12 Juli 1998, Brasil, dengan Ronaldo sebagai ujung tombak yang dijuluki "O Fenomeno", diunggulkan untuk memenangkan final dan menjadi tim pertama yang mempertahankan gelar Piala Dunia dua kali berturut-turut. Ronaldo, yang saat itu berusia 21 tahun, telah menunjukkan performa gemilang sepanjang turnamen, mencetak empat gol dan menjadi pemain terbaik Brasil. Namun, apa yang terjadi selanjutnya menjadi salah satu misteri terbesar dalam sejarah sepak bola.
Kisah ini tidak hanya menyoroti tekanan luar biasa yang dihadapi para atlet di panggung global, tetapi juga intrik di balik layar yang jarang terungkap.Â
Misteri Ronaldo di Final Piala Dunia 1998
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4217257/original/058542000_1667805231-000_APP2002062628150.jpg)
Ketegangan memuncak pada pukul 19.48 waktu setempat, 72 menit sebelum kick-off final Piala Dunia 1998. Daftar susunan pemain pertama Brasil yang diserahkan kepada FIFA secara mengejutkan tidak mencantumkan nama Ronaldo, melainkan Edmundo. Pelatih Brasil, Mário Zagallo, dilaporkan membuat keputusan ini sekitar pukul 17.00, memberitahu Edmundo bahwa ia akan bermain.
Alasan awal yang beredar adalah cedera pergelangan kaki yang dialami Ronaldo saat semifinal melawan Belanda. Namun, rumor segera menyebar tentang daftar susunan pemain yang dimodifikasi, dan pada pukul 20.18, Ronaldo kembali masuk ke dalam tim, dengan Edmundo kembali ke bangku cadangan.
Kemudian terungkap bahwa Ronaldo mengalami kejang di kamar hotelnya pada sore hari sebelum pertandingan, diselamatkan oleh rekan satu timnya, dan harus dibawa ke rumah sakit. Insiden ini, yang terjadi sekitar pukul 14.00, melibatkan Roberto Carlos dan Edmundo sebagai saksi mata, dengan César Sampaio menjadi orang pertama yang memberikan pertolongan pertama untuk mencegah Ronaldo menelan lidahnya.
Performa Lesu dan Teori Konspirasi
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1112793/original/092694900_1452905760-1_Ronaldo_000_SAPA980506454790.jpg)
Selama pertandingan, Ronaldo tampak lesu dan tidak seperti biasanya. Ia jarang menyentuh bola di babak pertama dan mudah dilacak oleh bek Prancis, Frank Leboeuf. Ronaldo juga terlibat dalam tabrakan keras dengan kiper Fabien Barthez di awal pertandingan, yang semakin menunjukkan bahwa ia tidak dalam kondisi terbaiknya.
Meskipun demikian, Ronaldo bermain penuh selama 90 menit, namun Brasil harus menelan kekalahan telak 3-0 dari Prancis. Setelah pertandingan, Zagallo mengakui bahwa kekhawatiran atas kondisi Ronaldo secara psikologis memengaruhi timnya.
Pasca-pertandingan, berbagai teori konspirasi muncul, yang paling menonjol adalah tuduhan bahwa Nike menekan Brasil untuk memainkan Ronaldo karena kesepakatan sponsor senilai 105 juta pounds dengan Federasi Sepak Bola Brasil (CBF). Nike dengan cepat dan tegas membantah tuduhan tersebut dan tidak pernah terbukti melakukan hal yang tidak pantas.
Penyelidikan dan Penebusan sang Fenomena
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4160723/original/021199100_1663316838-000_APP2002063030425.jpg)
Dokter tim, LÃdio Toledo, menyatakan bahwa Ronaldo pingsan dan kemudian beristirahat, dan ia merasa lebih baik setelahnya. Namun, surat kabar Brasil O Globo melaporkan bahwa keputusan untuk memainkan Ronaldo diambil alih dari Zagallo dan Toledo oleh Ricardo Teixeira, kepala CBF.
Sebuah penyelidikan di kongres nasional Brasil mengungkapkan detail lebih lanjut mengenai kejang yang dialami Ronaldo. Profesor Alex Caetano de Barros, yang dipekerjakan oleh klub Ronaldo, Inter Milan, menyatakan bahwa membiarkan Ronaldo bermain adalah "kesalahan mutlak" karena 24 jam setelah kejang adalah waktu paling mungkin untuk kambuh.
Meskipun kontroversi ini, Ronaldo akhirnya mendapatkan penebusan di Piala Dunia 2002. Ia mencetak gol-gol penting yang membantu Brasil mengalahkan Jerman di final, mengukuhkan statusnya sebagai salah satu pemain terhebat sepanjang masa dan menghapus bayang-bayang insiden 1998. Kisah ini menjadi pengingat bahwa dalam setiap edisi Piala Dunia, termasuk Piala Dunia 2026, drama dan kejutan selalu menjadi bagian tak terpisahkan dari turnamen akbar ini.
Ikuti berita bola terbaru di Sport Liputan6
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8810983/original/080616100_1782907341-cek_fakta_-_bibit_ayam_dan_ikan.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/2559129/original/026504800_1546249540-vietnam.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8805424/original/032384700_1782904857-Cek_fakta_-_Anies_baswedan.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5490270/original/075910100_1770004204-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-02-02T104539.335.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3852100/original/093216200_1640763219-000_SAPA980610550120.jpg)

:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8256534/original/027399300_1781161052-Vertical_500x656_-_Pentas_Bola_Dunia_2026__3_.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8711662/original/096717100_1782792792-korsel_3.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8864051/original/078185200_1782929110-063_2284211401.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8933715/original/054098500_1782962062-AP26183008148565.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8929510/original/065051700_1782959692-bos7.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8920532/original/092816500_1782954338-AP26183030266108.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8262489/original/072589900_1781818934-Switzerland_s_Johan_Manzambi.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8888290/original/030850900_1782938816-Senegal_s_Habib_Diarra__21__scores_their_first_goal_against_Belgium_goalkeeper_Thibaut_Courtois.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8898171/original/047299800_1782942914-Belgium_s_Romelu_Lukaku_senegal.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8896227/original/086707700_1782942096-Belgium_s_Romelu_Lukaku.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8782402/original/009814100_1782885154-belanda.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8901298/original/009057900_1782944367-Belgium_s_Youri_Tielemans__left__celebrates_with_Belgium_s_Romelu_Lukaku.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8263356/original/061813100_1781903816-AP26170714954300-Amerika_Serikat.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8951379/original/011742100_1782971100-IMG_0033.webp)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8711662/original/096717100_1782792792-korsel_3.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8937575/original/046903900_1782964342-1200.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8864051/original/078185200_1782929110-063_2284211401.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8933715/original/054098500_1782962062-AP26183008148565.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8776150/original/042954000_1782857106-France_s_Kylian_Mbappe.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8929510/original/065051700_1782959692-bos7.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8929500/original/046322400_1782959691-bos1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8920532/original/092816500_1782954338-AP26183030266108.jpg)