Wajah Baru, Harapan Baru: Perbedaan Skuad Timnas Indonesia Saat Kalah 1-2 dari China dan Sekarang

Timnas Indonesia akan kembali bertemu China dalam lanjutan Kualifikasi Piala Dunia 2026, Kamis (5/6), di Stadion Gelora Bung Karno

Diperbarui 05 Juni 2025, 11:30 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Kini, Pelupessy hadir sebagai sosok yang mampu memberi keseimbangan dan ketenangan dalam penguasaan bola. Dia bisa jadi pelindung bagi Thom Haye yang dikenal piawai dalam distribusi bola.

Pelupessy bukan pemain sembarangan. Ia sudah berpengalaman tampil di kasta kedua Liga Inggris bersama Sheffield Wednesday dan punya jam terbang tinggi di Belanda.

4. Ole Romeny: Senjata Baru di Lini Serang

Saat Indonesia kalah dari China tahun lalu, lini depan menjadi sorotan. Kurangnya daya gedor membuat Garuda kesulitan mencetak peluang bersih. Kini, dengan masuknya Ole Romeny, Indonesia punya opsi tambahan yang tajam di lini depan.

Romeny adalah striker modern yang bisa bermain di banyak posisi: penyerang tengah, second striker, bahkan winger. Ia punya kelebihan dalam mencari ruang dan memiliki sentuhan pertama yang lembut. Tak hanya itu, finishing-nya juga sangat klinis, sesuatu yang selama ini kerap menjadi kelemahan lini depan Indonesia.

Romeny juga punya kecerdasan taktik yang baik, sehingga bisa beradaptasi dengan strategi Shin Tae-yong yang dinamis. Bila dimainkan dari awal, Romeny bisa menjadi mimpi buruk bagi lini belakang China.

5. Kevin Diks: Siap Tampil Setelah Pulih dari Cedera

Nama Kevin Diks sebenarnya sudah sering masuk dalam proyeksi skuad, tetapi pada pertemuan sebelumnya melawan China, ia absen karena cedera. Kini, bek tangguh yang pernah bermain di FC Copenhagen itu telah pulih dan siap tampil membela Merah Putih.

Diks adalah pemain dengan karakter kuat. Ia bisa bermain sebagai bek kanan, bek tengah, atau bahkan gelandang bertahan. Daya jelajahnya luar biasa, ditambah kemampuan bertahan yang solid serta naluri menyerang yang tajam. Ia kerap membantu membangun serangan dari bawah dengan akurasi umpan yang tinggi.

Yang membuat Diks spesial adalah mentalitas dan leadership-nya. Ia terbiasa bermain di pertandingan besar di Eropa, termasuk di kompetisi UEFA. Hal itu menjadikannya sosok panutan di ruang ganti, dan tentu sangat dibutuhkan dalam laga krusial seperti melawan China di Gelora Bung Karno.

Ikuti berita bola terbaru di Sport Liputan6

Halaman
Show All
Asad ArifinTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan