Bisht, Tanda Kehormatan untuk Sang Juara Piala Dunia 2022 yang Menuai Kecaman

Berbeda dengan Piala Dunia sebelumnya, kali ini kaptem tim sang juara mengenakan jubah tradisional Bisht, yang merupakan tanda kehormatan dari tuan rumah Qatar

Diterbitkan 20 Desember 2022, 07:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Bisht adalah jubah panjang tradisional Arab yang dikenakan pria di atas thobes mereka. Jubah ini biasanya terbuat dari wol dan warnanya berkisar dari putih, krem, dan krem hingga warna cokelat, abu-abu, dan hitam yang lebih gelap.

Tanda Kehormatan

Dengan pemberian kain bisht kepada Messi, seolah menandakan bahwa pemain berjuluk La Pulga tersebut sudah menjadi seorang legenda dengan kehormatan tertinggi setelah meraih trofi Piala Dunia.

Dr Mustafa Baig, seorang dosen Studi Islam di Universitas Exeter, mengatakan kepada kantor berita PA bahwa bisht adalah jubah formal yang dikenakan oleh keluarga kerajaan, pejabat, calon pengantin pria pada hari pernikahan mereka, dan wisudawan pada upacara wisuda.

“Jadi hanya beberapa orang terpilih yang benar-benar memakai bisht,” katanya seperti dikutip dari Telegraph.

Berbicara tentang Messi yang mengenakan pakaian tersebut, Dr Baig berkata: “Mereka pada dasarnya menghormatinya dengan meletakkannya di atas bahunya.

“Ini seperti tanda kehormatan, dan semacam penyambutan budaya dan penerimaan budaya.”

Dr Baig mengatakan jubah  itu juga mewakili pakaian nasional Qatar, tetapi hanya pada acara-acara penting. Bisht merupakan pakaian yang lebih diasosiasikan dengan negara-negara Teluk dan tidak umum di semua negara Arab.

Dikecam

“Dan ini adalah acara puncak. Maksud saya, mungkin tidak ada kesempatan yang lebih besar, jadi mereka menjadikannya sebagai tanda kehormatan,” katanya.

Dr Baig mengatakan dia melihatnya sebagai "pelukan oleh Messi dari budaya lokal", dan itu adalah "hal yang cukup keren" untuk dilakukan Qatar dan "pemikiran cerdas" atas nama mereka.

Ditanya apa pendapat orang-orang di Teluk saat itu, Dr Baig mengatakan mereka akan senang melihatnya karena mereka akan mengenalinya dari acara-acara khusus dalam hidup mereka sendiri.

Meski pemberian jubah itu bermakna sebagai tanda kehormatan,  namun hal itu dikecam sejumlah mantan pemain ternama yang menjadi komentator di televisi. Komentar miring pun muncul di sosial media.

Dikutip dari Daily Mail (19/12/2022), beberapa pengamat merasa bisht itu dimaksudkan sebagai alat PR untuk rezim Qatar, seperti yang tertulis di salah satu tweet: '[Sebuah] jubah Arab pada Messi mengangkat trofi. Simbolis. Sebuah cara untuk mencap budaya pada apa yang akan menjadi salah satu gambar paling ikonik yang pernah ada.'

Tidak Ada Alasan

Yang lain menambahkan bahwa: 'Messi akhirnya memenangkan Piala Dunia dan diharuskan mengenakan jubah untuk mengangkat trofi. Anda tidak boleh melakukan itu,' sementara beberapa orang merasa pemain nomor 10 Argentina itu 'terlihat seperti seorang kaisar'. 

Pablo Zabaleta, mantan pemain timnas Argentina, yang pernah berjuang dengan Messi di berbagai pertandingan internasional, mempertanyakan urgensi pemakaian bisht kepada rekannya itu.

"Kenapa? Kenapa sih? Tidak ada alasan untuk melakukan hal itu," sebut Zabaleta ketika menjadi komentator, seperti dikutip dari Mirror.

Mantan striker Inggris, Gary Lineker bahkan menyayangkan hal itu. "Disayangkan bagaimana mereka menutupi Messi yang mengenakan kaus Argentina," katanya.

Sedangkan legenda Inggris lainnya Alan Shearer lantas mengeluarkan pernyataan gurauan terkait keberadaan Presiden FIFA Gianni Infantino di atas podium.

"Saya pikir Infantino juga tidak akan membiarkannya pergi," kata Shearer

Messi sendiri hanya sebentar mengenakan bisht. Ketika ada pemasangan bintang ketiga di jersey Argentina, jubah spesial itu dilepas sang kapten Albiceleste.

Ikuti berita bola terbaru di Sport Liputan6

Halaman
Show All
Yo Kavya, Harley IkhsanTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan