Gol Bunuh Diri Berujung Eksekusi 6 Peluru ke Leher: Tragedi Kelam Piala Dunia 1994

Andres Escobar diberondong peluru karena gol bunuh diri pada Piala Dunia 1994.

Diterbitkan 16 Agustus 2022, 10:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Tetapi partai ini ternyata jadi laga yang bisa disebut mengakhiri hidup seorang Andres Escobar.

Escobar adalah seorang bek elegan yang dikenal amat tenang dan bersih sehingga dijuluki "Pria Sejati di Lapangan". Tetapi tidak dalam laga kontra AS ketika dia malah membobol gawangnya sendiri.

Saat laga baru berjalan 34 menit dan skor masih 0-0, gelandang AS, John Harkes, melepaskan umpan ke dalam kotak penalti dari sisi kiri. Escobar coba memotong tetapi bola berbelok ke gawang sendiri, membuat AS unggul 1-0.

Kolombia coba terus menyerang tetapi apa daya mereka akhirnya tumbang 1-2.

Di laga ketika kontra Swiss, Kolombia mencatatkan kemenangan 2-0. Sayang, kemenangan Rumania atas AS membuat Escobar cs harus menerima kenyataan pulang lebih cepat.

Eksekusi Mati Sambil Teriak

Usai kegagalan Kolombia di Piala Dunia 1994, Escobar dan seluruh tim kembali ke negaranya. Sadar dengan kekecewaan besar yang dirasakan suporter, ia meminta keluarganya untuk bersembunyi sejenak.

Escobar pun angkat suara dengan menulis pernyataan yang dipublikasikan surat kabar El Tiempo bertuliskan:

"Hidup tidak berhenti di sini. Kita harus terus berjalan. Hidup tidak boleh terhenti di sini. Sesulit apapun situasi, kita harus bangkit. Kita hanya punya dua pilihan: membiarkan kemarahan melumpuhkan kita dan kekerasan berlanjut, atau melaluinya dan mencoba yang terbaik untuk membantu lainnya. Itu pilihan kita. Kita harus menjaga kehormatan. Salam terhangatku untuk semuanya. Ini adalah pengalaman langkah dan paling luar biasa. Kita akan segera bertemu lagi karena hidup tidak berhenti di sini."

Pada 1 Juli 1994, Escobar pergi keluar rumah bersama teman-temannya di kampung halamannya, Medellin. Setelah minum-minum di beberapa bar, ia memutuskan untuk pulang sendiri.

Tepatnya pukul 03.00 dini hari tanggal 2 Juli 1994, Escobar didatangi sekelompok pria di lapangan parkir. Mereka cekcok soal gol bunuh diri yang dicetaknya ke gawang Amerika Serikat.

Terjadi keributan dan Escobar ditembak enam kali. Eksekutor disebut menembaknya di bagian leher sambil teriak "GOOOOLLL!!" menirukan gaya komentator sepakbola.

Escobar akhirnya meninggal di tempat, di dalam mobilnya saat ingin pulang ke keluarganya. Pembunuhan ini hanya 48 jam setelah dirinya kembali ke Kolombia.

Tak lama setelah kejadian, Humberto Castro Munoz mengaku sebagai pelaku penembakkan. Dia adalah seorang penjahat dengan catatan kejahatan panjang yang merupakan anak buah penjahat kakap, Gallon Bersaudara, Juan Santiago Gallon Henao dan Pedro David Gallon Henao.

Munoz dijatuhi hukuman 45 tahun penjara dan membayar kompensasi pada keluarga Andres Escobar sebesar US$49.000. Ia hanya menjalani hukuman 11 tahun penjara karena kelakuan baik. Sedangkan Gallon Bersaudara hanya dihukum 15 bulan dan denda US$1850.

Lebih dari 120.000 orang menghadiri pemakaman Escobar. Medellin pun mendirikan patung dirinya pada 2002.

Kartel Narkoba Kuasai Timnas Kolombia

Hubungan antara kartel narkotika dengan Timnas Kolombia pada era 1990-an seakan tidak bisa dipisahkan. Para kartel memang diketahui sangat turut campur dalam urusan sepakbola.

Pemimpin Kartel Medellin, Pablo Escobar, turut mengalirkan uang untuk kebutuhan tim nasional Kolombia melalui koneksinya di klub Atletico Nacional, klub Andres Escobar bermain (Andres sendiri tidak terkait dengan Pablo meski nama belakangnya sama). Meski akhirnya, "raja kokain" itu gagal nonton Piala Dunia karena tewas lebih dulu di tahun 1993 usai baku tembak dengan pasukan khusus Kolombia.

Tak hanya kartel di Medellin saja. Rivalnya, Kartel Cali, yang bangkit setelahnya juga memiliki kecintaan yang sama pada Timnas Kolombia.

Sebelum tampil di Piala Dunia 1994, rumor keterlibatan kartel mengatur susunan pemain hingga menebar ancaman pembunuhan kalau para pemain bermain buruk.

Pelatih Timnas Kolombia kala itu, Francisco Maturana, mengaku telah mendapat sejumlah ancaman pembunuhan terkait pemain yang dipanggil ke timnas.

Salah satu pemain andalan Kolombia, Gabriel Jaime Gomez Jaramillo (yang dijuluki Barnabas), bahkan sampai mundur dari tim karena tak tahan menerima ancaman.

"Sepakbola hanya sebuah permainan, dan tidak bisa dibenarkan kalau Andres (Escobar) dibunuh hanya karena kesalahan di lapangan," ujar Matrurana.

Khawatir Terulang di Piala Dunia 2018

Ketakutan akan insiden serupa sempat muncul saat Kolombia gagal melaju lebih jauh di Piala Dunia 2018 lalu. Saat itu, David Ospina dan kawan-kawan kalah dari Inggris lewat babak adu penalti.

Bedanya, Kolombia kali ini tampil heroik. Bobol lebih dulu oleh penalti Harry Kane, Los Cafeteros menyamakan kedudukan pada menit ke-93 lewat sundulan Yerry Mina.

Ospina berhasil gagalkan tendangan Jordan Henderson di babak tos-tosan. Tapi dua ekskutor Colombia, Mateus Uribe dan Carlos Bacca, gagal menjalankan tugasnya dengan sempurna.

Walaupun kalah, Ospina yakin kalau insiden kelam tahun 1994 tidak akan terulang.

"Kami akan pulang dengan perasaan sedih, tapi kami juga harus mengangkat kepala," ujarnya.

"Kami telah memeras semua keringat yang kita punya. Langkah kami di Piala Dunia memang terhenti, tapi kami sudah berikan segalanya di lapangan," tambah eks kiper Real Madrid dan Napoli itu.

Sayang, Kolombia tidak bisa tampil pada Piala Dunia 2022 mendatang karena gagal lolos dari babak kualifikasi zona CONMEBOL, setelah menduduki peringkat 6 klasemen dari jatah 5 tiket ke Qatar.

Ikuti berita bola terbaru di Sport Liputan6

Halaman
Show All
Anry Dhanniary, Marco TampubolonTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan