Dikritik Petenis, IOC Mewajibkan Setiap Olahraga Menetapkan Aturan Transgender

Komite Olahraga Internasional (IOC) mewajibkan seluruh badan olahraga untuk menetapkan aturan transgender. Hal ini pun menyusul kritikan dari seorang mantan petenis yang berasal dari Ceko, Martina Navratilova.

Diterbitkan 25 Juni 2022, 21:15 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta Komite Olimpiade Internasional (IOC) telah telah mewajikan seluruh badan olahraga internasional untuk menetapkan aturan sendiri mengenai atlet transgender, meski mendapatkan kritik dari mantan petenis, Martina Navratilova.

Sebagai informasi, Navratilova adalah pembela hak-hak gay yang telah mengecam IOC awal pekan ini karena apa yang dia katakan dalam pembinaan masuknya atlet-atlet transgender dalam olahraga. 

Masalah ini pun menjadi fokus IOC untuk bisa mencari jalan keluar dan menyetarakan keadilan bagi seluruh atlet. 

“Ini adalah situasi yang sangat memecah belah, sangat sulit, topik yang sangat sulit di mana kita harus mencoba menyeimbangkan keadilan dengan inklusivitas,” kata juru bicara IOC, Mark Adams dilansir dari Reuters. 

“Tetapi yang jelas bagi kami adalah bahwa setiap olahraga harus dan memang tahu yang terbaik bagaimana melihat tidak hanya olahraga tetapi juga pada disiplinnya, di mana ada keuntungan yang masuk akal.

Lebih lanjut, Adams juga menjelaskan bahwa untuk menyelesaikan aturan itu akan memakan waktu karena aturan tersebut menyangkut keadilan dan kesetaraan bagi seluruh pihak. 

“Tapi kita tidak bisa maju dengan satu aturan. Satu aturan singkat yang cocok untuk semua. Itu harus dengan olahraga dan bahkan dengan disiplin,” katanya. “Jadi kami menerima akan ada kritik, itu tidak bisa dihindari saya khawatir. Tapi kami akan melakukan yang terbaik untuk menyeimbangkan keadilan dan inklusivitas.”

Tanggapan Navratilova

Mantan petenis yang berkebangsaan Ceko ini mengatakan bahwa untuk mencapai keseimbangan antara inklusi dan keadilan hingga peristiwa individu sangat kompleks dan bahwa IOC telah mengalihkan tanggung jawab atas masalah ini ke federasi yang terkadang didanai dengan buruk. 

“IOC telah sepenuhnya terpuruk,” kata Navratilva. “Bahwa, Oh kami akan menyerahkannya kepada masing-masing federasi. Bagaimana federasi individu ini di negara mereka dapat membuat aturan yang berbeda,” katanya. 

“Mereka harus melakukan penelitian dan implementasi dan butuh uang untuk kemudian mengetahuinya, dan itu tidak mungkin.” 

BWF

Sebelumnya, Federasi bulu tangkis dunia, BWF, pada Kamis menyatakan bahwa pihaknya memulai proses kajian untuk membantu mengambil “keputusan berbasis bukti” terkait kebijakan atlet transgender dalam olahraga mereka.

Ikuti berita bola terbaru di Sport Liputan6

Lanjut Baca:

Pengkajian ini menyusul adanya hasil pemungutan suara di federasi akuatik dunia, FINA yang melarang keikutsertaan atlet transgender “pria-ke-perempuan” mengikuti kompetisi nomor putri. “BWF saat ini mengikuti kerangka kerja kebijakan pemerintah Inggris terkait transgender sebagai panduan untuk mengelola masalah ini baik di turnamen tingkat nasional maupun internasional,” demikian pernyataan BWF, seperi dilansir Reuters. “Hanya saja, kami memahami adannya rekomendasi terkini dari IOC dan memulai riset spesifik dan proses penilaian untuk mendapatkan pengambilan keputusan berbasis hasil yang relevan di bulu tangkis yang adil bagi semua pihak.” tulis pernyataan tersebut. Pembela hak-hak transgender berargumen bahwa tidak cukup banyak studi yang dilakukan untuk mempelajari dampak transisi gender terhadap performa fisik dan menyatakan bahwa atlet-atlet elit biasanya sudah memiliki kemampuan fisik yang berbeda.

Halaman
Show All
Liputan6.com, Defri SaefullahTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan