Karena itu, di tahun-tahun mendatang, berbagai dosis vaksinasi kemungkinan akan tetap diperlukan untuk menguatkan komunitas global terhadap dampak negatif virus. Terkait hal ini, peneliti bidang virologi di Queen's University Belfast, UK, Connor Bamford melihat adanya potensi pengembangan vaksin COVID-19 di masa mendatang.
Vaksin Covid di Masa Depan
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3564237/original/022618900_1631015492-20210907-Vaksinasi-COVID-19-Aceh-6.jpg)
Menurut Bamford, para ilmuwan sedang mengerjakan vaksin yang mengaktifkan sistem kekebalan 'mukosa' yang mungkin lebih mampu mencegah infeksi SARS-CoV-2, virus yang menyebabkan Covid-19.
"Dan bukannya disuntik ke lengan Anda (vaksin intramuskular), vaksin ini bisa diberikan sebagai semprotan ke hidung Anda (vaksin intranasal)," katanya mengutip CNA, Jumat (27/5/2022).
Bamford kemudian menjelaskan latar belakang dari pengembangan vaksin ini. Menurutnya, SARS-CoV-2 dapat menginfeksi sel-sel yang melapisi permukaan saluran pernapasan (biasa disebut sebagai selaput lendir) mulai dari hidung hingga paru-paru.
Tepat di permukaan ini, virus dapat merusak sel-sel dan memicu peradangan. Sehingga menyebabkan disfungsi lebih lanjut baik secara lokal maupun di seluruh tubuh.
Vaksin digunakan untuk mengurangi seberapa banyak virus dapat mereplikasi dan mengendalikan peradangan berikutnya. Ini mungkin penyebab utama penyakit parah dan kematian akibat COVID-19.
Vaksin saat ini bekerja dengan menghadirkan sedikit virus (protein lonjakan) sebagai apa yang dikenal sebagai 'antigen' untuk sistem kekebalan di otot penerima vaksin.
Idenya, vaksin diberikan sebelum infeksi SARS-CoV-2 dan memungkinkan tubuh memproduksi antibodi antivirus. Ini dapat memblokir virus agar tidak masuk ke dalam sel, serta sel T, yang dapat membantu menyembuhkan sel-sel yang terinfeksi.
Â
Hentikan Paparan Virus di Sumbernya
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3641151/original/039471600_1637632559-000_9T72EM.jpg)
Meski awalnya diberikan ke otot di lengan, antigen vaksin menuju kelenjar getah bening terdekat. Ini adalah organ yang merangsang respons imun dalam darah dan cairan lain yang mengalir ke seluruh tubuh. Tetapi, yang sering kurang jelas setelah vaksinasi tradisional adalah respons pada jaringan mukosa seperti usus, paru-paru atau hidung.
Ini karena sistem kekebalan mukosa agak independen dari yang sistemik. Hal ini mengingat seberapa sering permukaan itu terkena infeksi atau rangsangan seperti debu dan polusi. Sementara jaringan mukosa memiliki sistem kekebalannya sendiri, terdiri dari antibodi khusus dan sel T.
Walau vaksin standar memberikan perlindungan mukosa, kadarnya tidak terlalu tinggi. Sedangkan sistem kekebalan mukosa bisa dihadirkan secara langsung dengan antigen vaksin yang menggunakan metode seperti semprotan hidung. Ini memicu respons mukosa yang jauh lebih kuat.
Para ilmuwan sering berpikir memunculkan respons kekebalan di hidung, tenggorokan, dan saluran udara. Di mana biasanya virus seperti SARS-CoV-2 awalnya masuk ke dalam tubuh dan tumbuh, dapat menghasilkan perlindungan yang lebih baik dibandingkan dengan vaksin intramuskular.
Vaksin dengan semprotan di hidung pada dasarnya menghentikan paparan virus di sumbernya.
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3583106/original/008036200_1632566109-bayi.jpg)
Ikuti berita bola terbaru di Sport Liputan6
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5528977/original/025088700_1773301964-BGN_klaim_pendaftaran_PPPK.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5441706/original/046861700_1765516083-jasa_marga.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5249187/original/085359700_1749630481-PejalanKaki.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8219345/original/056761200_1781079103-koperasi_desa-_cek_fakta.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4024999/original/085232300_1652788379-Pelonggaran-Pemakaian-Masker-Faizal-5.jpg)

:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8256534/original/027399300_1781161052-Vertical_500x656_-_Pentas_Bola_Dunia_2026__3_.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9245742/original/085478200_1783138991-verde.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9299398/original/064759200_1784250864-000_B8VA8NK.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9300741/original/083077900_1784373810-olmo.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9289600/original/065309500_1783409865-Portugal_s_Cristiano_Ronaldo.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9301613/original/093079500_1784504537-000_C2LE74U.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9301644/original/087929500_1784508450-trump_2.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8264053/original/051807800_1782069676-Spain_s_Lamine_Yamal.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8260490/original/004683900_1781597232-063_2281735743-Spanyol_vs_Tanjung_Verde.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8257806/original/036653900_1781257253-1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9301596/original/087157300_1784500330-063_2286807575.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4786318/original/084826700_1711521270-GJmtYCIbgAAkw1f.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9299963/original/007789300_1784281017-mainoo.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8303352/original/055143700_1782168148-Sidang_kasus_korupsi_wastafel_Covid-19.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3910505/original/020707300_1642741792-20220121-FOTO---BERBAGI-SAYURAN-HERMAN-5.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5579807/original/001907400_1778075970-1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5421566/original/097314800_1763950193-WhatsApp_Image_2025-11-24_at_09.07.44.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3334658/original/040696600_1609125218-martin-sanchez-Tzoe6VCvQYg-unsplash.jpg)
![[Kolom Pakar] Prof Tjandra Yoga Aditama: 75 Mutasi Varian Baru COVID-19 Cicada](https://cdn1-production-images-kly.akamaized.net/reSd7PVafZjUwHScr4SWjBnOLrk=/200x113/smart/filters:quality(75):strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5542694/original/067258800_1774950743-WhatsApp_Image_2026-03-31_at_3.38.47_PM.jpeg)
![[Kolom Pakar] Prof Tjandra Yoga Aditama: Varian Baru Lagi COVID-19, Kini BA.3.2 'Cicada' dan Sudah Masuk Variant Under Monitoring](https://cdn1-production-images-kly.akamaized.net/qRruizMJKhQEA4WLv378Rz_SNKw=/200x113/smart/filters:quality(75):strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5541266/original/050683200_1774856802-WhatsApp_Image_2026-03-30_at_14.26.27.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3931670/original/097090800_1644599926-mufid-majnun-aNEaWqVoT0g-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5535988/original/003710600_1774198139-Untitled.jpg)