Sukses

Bola Ganjil: Suburnya Lokomotive Leipzig Cetak 316 Gol dalam Semusim

Liputan6.com, Jakarta - Sangat jarang suporter klub sepak bola menyaksikan tim kesayangan mencetak dua dijit gol dalam satu pertandingan. Namun bagi penggemar Lokomotive Leipzig, hal tersebut merupakan hal normal pada 2004/2005.

Lokomotive sangat ganas di musim tersebut. Mereka membukukan kemenangan 20-0 dalam dua kesempatan, pada laga kandang dan tandang.

Selain itu, klub berjuluk Loksche ini juga mencetak 19 gol pada dua partai dan 17 gol dalam tiga duel.

Memenangkan seluruh 26 pertandingan dalam musim dengan skor besar, total Lokomotive mencetak 316 gol atau selusin per laga.

Ini adalah kisah di balik capaian tersebut.

2 dari 5 halaman

Klub Bersejarah

Salah satu alasan superioritas Lokomotive adalah sejarah. Pada dasarnya mereka merupakan klub besar. Tidak tanggung-tanggung, Lomotive adalah reinkarnasi juara Jerman tiga kali VfB Leipzig.

Setelah Perang Dunia II, klub terus menjadi kekuatan besar di Oberliga. Lokomotive sempat masuk semifinal Piala UEFA 1973/1974 dan laga puncak Piala Winners 1986/1987.

Begitu pula selepas reunifikasi Jerman. Mereka sempat promosi ke Bundesliga pada 1993.

Sayang, Loksche hanya semusim di level tertinggi. Setelah itu mereka terus turun kasta hingga dinyatakan bangkrut pada satu dekade berselang. Saat itu Lokomotive berada di Divisi V.

 

3 dari 5 halaman

Hajar Cikal Bakal RB Leipzig

Kebanggaan akan reputasi Lokomotive mendorong suporter. Mereka bergerak membentuk klub baru dengan nama sama. Mantan pemain Loksche, Rainer Lisiewicz, juga berkontribusi dan menjadi pelatih. Dia menggelar seleksi terbuka demi membentuk tim. Ratusan suporter hadir dan 25 orang terbaik dipilih untuk mengikuti liga amatir di tingkat ke-11 sistem kompetisi sepak bola Jerman.

Lokomotive memulai kampanye dengan menghajar SV Leipzig 1910 II 17-1. Dua pekan kemudian mereka membekuk Paunsdorf Devils 20-0. Pasukan Lisiewicz juga menghajar SV Althen 90 II dengan skor serupa.

Total Lokomotive mencetak 316 gol di musim itu. Mereka juga cuma kemasukan 13 kali dan memenangkan turnamen Piala Kota Leipzig usai mengalahkan SSV Markranstadt di final. Saat itu Markranstadt berada tiga divisi di atas Lokomotive dan kini dikenal sebagai RB Leipzig.

Rene Heusel menjadi top skor tim dengan 81 gol disusul Ronny Richter (57). Maik Hanish merobek gawang lawan 35 kali meski beroperasi dari lini tengah. Sedangkan Dirk Vogt membuat 44 gol meski hanya melakoni 12 pertandingan.

Kemenangan terkecil Lokomotive terjadi saat berjaya 6-1 atas Automation Leipzig. Sementara rapor pertahanan terburuk terjadi di laga versus Eintracht Leipzig II dengan kebobolan tiga kali. Namun mereka tetap memetik tiga angka di partai tersebut karena menciptakan 14 gol.

 

4 dari 5 halaman

Diperkuat Juara Piala Dunia

Cerita menarik lain hadir pada kampanye Lokomotive di 2004/2005. Mereka dibantu legenda klub hingga eks bintang timnas di sejumlah pertandingan.

Salah satunya Henning Frenzel yang membela klub selama 18 tahun. Bermain di Olimpiade 1964, dia sepakat keluar dari masa pensiun untuk tampil sebagai pengganti di laga kontra Paunsdorf Devils. Saat itu Frenzel berusia 62 tahun.

Heiko Scholz membela Lokomotive di final Piala Winners 1987 melawan Ajax Amsterdam. Sudah berumur 38 tahun dan menjadi pelatih MSV Duisburg, Scholz juga sempat memperkuat eks timnya.

Juara Piala Dunia Lothar Matthaus, kala itu berusia 44 tahun, juga mengenakan seragam Lokomotive pada semifinal Piala Kota Leipzig. Padahal dia tidak punya ikatan apa-apa ke klub. Sebelumnya Matthaus menulis tentang kebangkitan Loksche dalam artikel surat kabar dan berjanji bermain untuk mereka.

Selepas musim itu, Lokomotive terus berusaha mengembalikan kebesaran klub. Saat ini mereka berkompetisi di Divisi IV.

5 dari 5 halaman

Saksikan Video Berikut Ini