Bola Ganjil: Mempertaruhkan Nasib Melalui Lemparan Koin

Sebelum adu penalti, koin dan laga tambahan digunakan untuk menentukan laga yang berakhir imbang. Simak sejarahnya.

Diperbarui 08 Desember 2021, 22:31 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Sepp Blatter tidak menyukai klimaks final Liga Champions 2012. Dia menyebut kesuksesan Chelsea mengalahkan Bayern Munchen melalui adu penalti sebagai hal tragis.

Seperti pihak kontra lainnya, Blatter menilai adu penalti menodai sportivitas olahraga. Pasalnya, faktor keberuntungan terasa kuat di sana.

Meski begitu, deskripsi mantan presiden FIFA yang terjerat skandal korupsi tersebut terasa berlebihan. Terlepas berbagai kekurangannya, adu penalti merupakan metode terbaik untuk menentukan pemenang.

Buktinya adu penalti tetap bertahan hingga sekarang sejak International Football Association Board (IFAB) meresmikannya pada 1970.

Blatter dan pihak kontra lainnya juga seakan lupa sudah ada banyak cara yang digunakan sebelum adu penalti dan hasilnya lebih konyol.

Saksikan Video Adu Penalti Berikut Ini

Laga Tambahan dan Koin

Sebelum adu penalti, otoritas menggelar laga kedua demi mencari pemenang. Sistem ini memiliki cacat besar.

Tim harus membanting tulang jika terus bermain imbang. Contohnya pada Piala FA 1974/1975. Fulham dan Nottingham Forest harus bertanding empat kali untuk memperebutkan satu tempat di 16 besar.

Fisik pemain bakal terkuras karena harus merumput dalam kurun waktu yang tersedia agar jadwal kompetisi tidak molor.

Selain menambah pertandingan, metode lain untuk menentukan hasil laga adalah memakai koin. Di sini tim harus benar-benar berdoa kepada dewi fortuna agar dibantu nasib baik.

Liverpool merasakannya ketika kalah dari Athletic Bilbao karena koin pada Piala Fairs (cikal Piala UEFA dan kini Liga Europa) 1968/1969. Namun, The Reds juga sempat terbantu ketika menyingkirkan Koln menggunakan metode sama di Piala Champions (kini Liga Champions) beberapa tahun kemudian.

Mulai Memberatkan

Ketika UEFA menggelar kompetisi internasional pertama pada 1955, koin adalah skenario terburuk yang tersedia. Jika kedudukan sama kuat dalam format kandang-tandang, klub mesti melakoni laga ketiga alias play-off di tempat netral untuk menentukan pemenang. Digelarnya pertandingan penentu pada waktu itu kerap terjadi karena agregat gol tandang belum digunakan.

Kebijakan awal ini tidak diperdebatkan. Pasalnya, kebanyakan tim di Eropa masih amatir. Keletihan kerap mendera sehingga partai ketiga hampir pasti menghasilkan pemenang.

Ikuti berita bola terbaru di Sport Liputan6

Lanjut Baca:

Terbukti, dalam delapan tahun awal penyelenggaraannya, hanya sekali koin digunakan. Itu pun juga karena faktor teknis. Laga Wismut Karl Marx Stadt dan Gwardia Warsaw sudah memasuki perpanjangan waktu ketika lampu stadion mati. Dengan kedudukan masih imbang, wasit berpaling pada koin untuk mengetahui siapa yang melaju. Tim yang beruntung adalah Wismut Karl Marx Stadt. Namun, play-off mulai terasa memberatkan ketika sepak bola terus berkembang berkembang dan kekuatan peserta semakin merata. Kuantitas partai penentu ini bertambah dan cenderung merugikan. Napoli merasakannya saat mengikuti Piala Winners 1962/1963. Klub Italia itu mesti melakoni play-off di tiga putaran awal melawan Bangor City, Ujpest Dozsa, dan OFK Belgrade. Mereka pun terpaksa mengunjungi London, Lausanne, dan Marseille dalam daftar perjalanan. Lawatan tersebut memberatkan klub secara finansial. Lagipula, play-off belum tentu menghasilkan pemenang. Muncul pertanyaan besar. Buat apa melewati proses sulit logistik menggelar pertandingan ketiga jika akhirnya ditentukan koin? Mengapa koin tidak bisa langsung dipakai di laga kedua?

Halaman
Show All
Harley Ikhsan, Marco TampubolonTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan