Solskjaer Bukan Tandingan Klopp, Liverpool Diprediksi Dominasi Liga Inggris

Kehadiran Jurgen Klopp di kursi pelatih dinilai akan membuat Liverpool menguasai Liga Inggris, seperti yang dilakukan Manchester United era Alex Ferguson.

Diterbitkan 20 Januari 2020, 09:10 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

"Manchester United yang sekarang apakah bisa? Saya rasa Ole belum bisa membawa timnya bersaing dengan Liverpool. Saya tidak melihat permainan yang diusung Ole bisa menyangi Klopp. Tapi, bukan berarti Ole tak akan pernah bisa, dia cuma masih belajar dan beradaptasi," tambahnya.

Membangun Sebuah Tim

Sebelum bergabung dengan Liverpool tahun 2015 silam, Klopp menghabiskan tuhuh tahun di Bundesliga menangani Borussia Dortmund. CV-nya lumayan, menang dua kali Bundesliga dan satu kali menembus final Liga Champions musim 2012-2013.

Perlu diingat, saat itu Dortmund sempat mengalami krisis keuangan dan kondisinya belum bisa dikatakan stabil, baik secara teknis mau pun non-teknis. Klopp yang datang tepat ketika momen kebangkitan, dinilai sebagai poros keberhasilan Die Borussen mengangkat performa tim.

Klopp tak cuma melatih saja, tapi ia membangun tim dari skuat yang relatif diisi oleh pemain muda. Itu yang coba ia terapkan di Liverpool, tentu diperbantukan oleh suntikan pengalaman dari pemain senior macam Jordan Henderson dan James Milner.

Siapa yang menyangka Andrew Robertson yang diboyong dari Hull City bisa menjelma menjadi satu di antara bek kiri terbaik dunia. Siapa pula yang bisa memprediksi bagaimana Georginio Wijnaldum sanggup memberikan nyawa di Liverpool meski datang dari Newcastle United yang harus terdegradasi dari Premier League.

"Klopp membangun tim di Dortmund. Dia memenangi gelar Liga dan membawa timnya lolos ke final Liga Champions. Klopp adalah pemenang sejati dengan pemain mudanya. Dia tak cuma melatih, tapi membangun dan mengembangkan pemainnya dari segala aspek," kata Jenas.

"Tengok apa yang ia lakukan di Liverpool bersama Andy Robertson, Wijnaldum, serta lihat bagaimana ia membuat Henderson menjadi jauh lebih dewasa dalam dua tahun belakangan," ujarnya lagi.

Sir Alex Ferguson pun Tidak Instan

Ketika datang sebagai manajer Manchester United, Sir Alex tak langsung berjaya. Ia butuh beberapa tahun untuk membentuk tim idamannya. Tentu masih diingat pakem 4-4-2 milik pria asal Skotlandia itu merajai Premier League.

Kesalahan manajemen United usai Sir Alex pensiun adalah mereka terlalu tergesa-gesa dalam memecat pelatih berikutnya. David Moyes misalnya, harus menjadi korban dari sikap manajemen klub yang terlalu naif.

Padahal, jika mengingat Sir Alex saja butuh waktu bertahun-tahun, Moyes sepatutnya diberikan waktu juga untuk menyesuaikan gaya permainan United. Terlebih, saat itu tim-tim macam Manchester City dan Chelsea sudah ditangani oleh manajer yang memiliki gaya berbeda alias tidak seperti sepak bola Inggris pada umumnya.

Moyes mampu menjadikan Everton sebagai satu di antara tim paling stabil di Premier League. Selama masa kepemimpinannya, The Toffees akrab dengan 10 besar, setidaknya, itu menunjukkan bahwa Moyes konsisten.

Manajemen klub belum tampaknya masih percaya kepada tangan dingin Solskjaer. Jika pada akhirnya memecat Solskjaer, Jenas menilai Pochettino sebagai kandidat terbaik.

"Pochettino, dia yang paling mendekati Klopp. Saya melihat Solskjaer masih bingung menentukan gaya bermain. Beda dengan Pochettino yang sudah memiliki pakem," katanya memungkasi.

Disadur dari Bola.com (Gregah Nurikhsani/Rizki Hidayat, published 20/1/2020)

Ikuti berita bola terbaru di Sport Liputan6

Halaman
Show All
Gregah Nurikhsani, Rizki Hidayat, Windi WicaksonoTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan