Kisah Abro Fernandes, Petarung MMA Tangguh Tulang Punggung Keluarga

Abro mendirikan toko olahraga untuk memperkenalkan MMA kepada warga kampung halamannya. Saat kecil, Abro sudah menggemari bela diri dan terinspirasi oleh idolanya Bruce Lee.

Diterbitkan 09 Juli 2019, 18:45 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

“Sebelumnya [warga Timor Leste] tahunya tinju saja. Atlet MMA belum ada. Jadi saya pergi ke Solo berlatih MMA,” tutur Abro.

“Orang tua saya mengorbankan semua yang mereka miliki untuk membekali saya dan membelikan tiket pesawat. Saya sadar bahwa orang tua akan selalu berusaha memberikan yang terbaik bagi anak-anaknya.”

Pengorbanan

Abro selalu teringat akan pengorbanan yang diberikan orang tuanya. Ia pun berharap suatu saat dapat membayarnya. Hal ini menjadi motivasi Abro dalam mengejar mimpinya.

Disinilah Abro pertama kali bertemu dengan Yohan “The Ice Man” Mulia Legowo, atlet MMA veteran asal Indonesia yang kini menjadi pelatih serta mentornya.

Pertemuan keduanya menjadi awal perjalanan Abro menjadi atlet MMA, sampai ia mampu unjuk gigi di ajang kelas dunia ONE Championship.

Saat itu, Yohan – pendiri sasana Han Fight Academy – mengunjungi kampus Abro sebagai dosen tamu. Ketika ada tantangan sparring, Abro menawarkan diri dan dianggap memiliki potensi.

“Sepertinya saat itu dia melihat kemauan saya untuk belajar dan mengajak saya untuk bergabung ke timnya. Setelahnya, saya memulai karir MMA profesional di tahun 2013,” tutur Abro.

Di Han Fight Academy, Abro pun menemukan tambatan hatinya yang juga merupakan seorang praktisi bela diri. Ia mengawali karir dengan mulus di dunia MMA tanah air, dimana dia menjadi juara kelas bantam nasional di sebuah turnamen lokal.

Saat itulah mimpi Abro untuk meningkatkan derajat keluarga mulai menjadi nyata.

Buka Toko

Abro kini mendirikan sebuah toko olahraga di kampung halamannya demi meningkatkan ekonomi keluarga, sekaligus memperkenalkan MMA kepada warga kampung halamannya.

“Saya ingin membantu ekonomi keluarga dan membuka jalan bagi adik-adik saya untuk sekolah dan menjalankan bisnis,” ungkap Abro.

“Saya sadar saya merupakan tulang punggung keluarga. Sekarang adik-adik saya bisa bersekolah dan dua diantaranya mulai menekuni bela diri. Sejak tahun 2017, kami juga mendirikan toko olah raga.”

Setelah berhasil menembus gelaran internasional, kini Abro bermimpi untuk dapat menginspirasi warga di kampung halamannya dalam meraih kesuksesan di berbagai bidang, termasuk bela diri.

“Saya juga telah mendirikan sasana kecil di kampung halaman, beberapa orang kini telah bergabung. Kita ingin menyelenggarakan sebuah turnamen. Karena hanya saya yang menjadi pelatih, seringnya mereka berlatih sendiri,” kata Abro.

“Mereka memang belum terasah tekniknya, tapi mereka punya fisik yang bagus.”

Ikuti berita bola terbaru di Sport Liputan6

Halaman
Show All
Achmad Yani Yustiawan, Defri SaefullahTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan