5 Alasan Persipura Terpuruk di Shopee Liga 1 2019

Kejayaan Persipura di masa lalu seperti tak berbekas di pentas Shopee Liga 1 2019. Ada apa gerangan?

Diterbitkan 06 Juli 2019, 18:10 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Jakarta Menyedihkan melihat pencapaian Persipura Jayapura di Liga 1 dua musim terakhir. Tim Mutiara Hitam terseok-seok di papan bawah klasemen.

Di pentas Liga 1 2018, Persipura tak ikut cawe-cawe di persaingan juara. Boaz Solossa dkk. menutup musim dengan berada di posisi 12 klasemen.

Musim ini kondisi lebih parah lagi. Menjalani enam laga, Persipura tersudut di posisi kedua terbawah 17 klasemen sementara Shopee Liga 1 2019.

Persipura belum pernah menang di enam pertandingan. Mereka hanya meraih tiga hasil imbang.

Terakhir, Tim Bumi Cendrawasih dihajar Arema FC 1-3 di Stadion Gajayana, Malang, Kamis (4/7/2019). Sebelum pertandingan tersebut, pelatih kepala Persipura, Luciano Leandro, dipaksa lengser dari tim.

Kesabaran manajemen Persipura ke pelatih asal Brasil itu habis. Mereka kecewa berat saat Persipura hanya bisa bermain imbang 1-1 melawan klub promosi Semen Padang di Stadion Mandala, Jayapura.

"Keputusan ini dibuat atas kesadaran bersama dengan Luciano. Terimakasih atas kontribusinya selama ini, semoga Luciano sukses dengan karier ke depannya," ucap Tommy Mano, Presiden Persipura berdiplomasi.

Apa yang terjadi di Persipura amat mengenaskan. Pada musim 2016, mereka jadi jawara Torabika Soccer Championship (kompetisi kasta tertinggi yang diselenggarakan saat PSSI diban FIFA).

Persipura tercatat sebagai tim pengoleksi gelar terbanyak di era kompetisi Liga Indonesia (penggabungan Perserikatan dan Galatama, yakni pada musim: 2005, 2008-2009, 2010-2011, 2013. Ian Kabes juga tercatat empat kali menjadi runner-up kasta elite pada musim 2009-2010, 2012, 2014.

Ada apa dengan Persipura? Bola.com mencoba mengurai persoalan yang mendera Tim Mutiara Hitam, setidaknya dua musim terakhir sehingga mereka tampak oleng. Simak detailnya di bawah ini:

Gagal Regenerasi

Sukses Persipura di percaturan elite sepak bola Tanah Air tak lepas dari kontribusi generasi emas Papua usai menjadi juara PON 2004.

Tim Mutiara Hitam kebanjiran pemain-pemain bertalenta yang secara signifikan mengerek performa dan prestasi tim. Boaz Solossa, Ian Kabes, Immanuel Wanggai, Christian Worabay, Ricardo Salampessy, Gerald Pangkali, adalah pemain belia alumnus PON 2004.

Ikuti berita bola terbaru di Sport Liputan6

Lanjut Baca:

Khusus Boaz, ia melejit jadi superstar. Ia menjelma jadi penyerang terbaik Indonesia pasca era Bambang Pamungkas. Ia satu-satunya bomber lokal yang bisa eksis di persaingan perburuan sepatu emas yang selalu didominasi penyerang-penyerang asing. Boaz tercatat menjadi pencetak gol terbanyak Indonesia Super League musim 2008-2009 (28 gol), 2010-2011 (22 gol), 2013 (25 gol). Berbarengan dengan itu ia juga didapuk sebagai pemain terbaik. Pada musim 2016 ia juga jadi best player Torabica Soccer Championship. Realitanya, pemain-pemain yang masuk generasi emas sudah mulai dimakan umur. Boaz kini sudah masuk usia 33 tahun (kelahiran 16 Maret 1986). Demikian pula Wanggai dan Kabes. Ricardo malah usianya lebih uzur lagi, 35 tahun. Persipura masih mengandalkan tenaga mereka, yang masuk periode pengujung karier. Manajemen Persipura bisa dibilang gagal melakukan regenerasi tim. Agak ironis karena Papua dikenal sebagai provinsi yang produktif mencetak pemain-pemain bertalenta. Persoalannya mereka tak pernah dapat porsi besar menjadi tulang punggung Tim Mutiara Hitam. Di sisi lain, pemain-pemain senior mereka satu per satu mulai kehilangan taji. Ambil contoh Immanuel Wanggai, yang tiga musim terakhir lebih sering absen karena cedera lutut kambuhan. Padahal pada masa jayanya, ia termasuk gelandang jangkar terbaik yang dimiliki Indonesia. Dua musim terakhir manajemen Persipura memberikan porsi besar pada darah muda. Sayangnya, mereka terlihat gagap menghadapi persaingan keras kompetisi. Butuh waktu bagi mereka untuk menjadi matang.

Halaman
Show All
Ario Yosia, Jonathan Pandapotan PurbaTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan