5 Atlet yang 'Berdarah-darah' demi Kepingan Medali Asian Games 2018

Asian Games 2018 akhirnya berhasil dimenangkan Tiongkok dengan 132 emas.

Diterbitkan 03 September 2018, 06:30 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Asian Games 2018 berakhir, Minggu sore (2/9/2018). Puncak acara ajang multievent empat tahunan se-Asia itu bakal digelar di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK), Senayan. 

Kepingan medali seluruhnya sudah bertuan. Sejumlah rekor juga terpecahkan.

Tiongkok akhirnya berhasil keluar sebagai juara. Tiongkok tidak tergusur dari puncak klasemen medali Asian Games 2018 dengan 132 emas, 92 perak, dan 65 perunggu. 

Sementara Indonesia juga panen emas lewat pencak silat yang baru dipertandingkan tahun ini. Sebanyak 14 emas dari total 16 nomor berhasil disapu atlet-atlet tuan rumah. Kontingen Merah Putih bertengger di urutan ke-4 dengan 31 emas, 24 perak, dan 43 perunggu. 

Sang juara berpesta. Bersukacita merayakan pencapaian mereka. Senang karena keringat yang mereka tumpahkan selama latihan dan pertandingan akhirnya berbuah prestasi.

Namun dalam olahraga, pemenang tidak hanya berdiri di atas podium. Semangat pantang menyerah dan sikap sportivitas tidak jarang mengangkat atlet jadi juara tanpa mahkota. 

Upaya mereka dalam melewati batas-batas kemampuan fisik seringkali menghadirkan drama yang lebih epik ketimbang perebutan gelar juara. Upaya ini bahkan tidak jarang dibayar mahal. Cedera dan darah yang menetes kadang menjadi taruhannya.

Berikut ini merupakan lima kisah perjuangan 'berdarah-darah' atlet demi kepingan medali Asian Games 2018.

 

  

 

* Saksikan keseruan Upacara Penutupan Asian Games 2018 dan kejutan menarik Closing Ceremony Asian Games 2018 dengan memantau Jadwal Penutupan Asian Games 2018 serta artikel menarik lainnya di sini.

Antony Sinisuka Ginting

Anthony Sinisuka Ginting harus menelan kekalahan atas pebulu tangkis Tiongkok, Shi Yuqi pada final nomor beregu putra. Namun, perjuangan yang diberikan Anthony hingga titik akhir kemampuan fisiknya, menuai apresiasi, bahkan dari Presiden Indonesia, Joko Widodo.

Bertanding pada 22 Agustus itu, Anthony Ginting tampil luar biasa. Memenangi set pertama 21-14, Anthony Ginting kalah di set kedua lewat drama deuce 21-23.

Pada set ketiga, Anthony Ginting mengalami cedera saat kedudukan sama kuat 19-19. Pebulu tangkis berusia 21 tahun ini tak kuasa menahan sakit yang dideritanya.

Ikuti berita bola terbaru di Sport Liputan6

Lanjut Baca:

Namun, keinginan Anthony untuk tetap melanjutkan pertandingan tak terwujud. Anthony kembali cedera dan akhirnya memutuskan mundur dari pertandingan. Shi Yuqi yang menjadi lawan Anthony memberikan apresiasi dengan mendatangi Anthony. Publik di Istora Senayan pun memberikan tepuk tangan yang meriah kepada Anthony, termasuk Presiden Jokowi yang menyaksikan langsung pertandingan tersebut. Di dua pertandingan sebelumnya, ketika melawan India di perempat final, dan Jepang di semifinal, Anthony Ginting jadi satu-satunya pemain yang harus bertanding hingga tiga set. Kekuatan fisik Anthony memang akhirnya berujung kekalahan, tapi perjuangan hingga puncak batas yang ditampilkan oleh Anthony Sinisuka Ginting layak mendapat apresiasi. Atas perjuangannya, Anthony Ginting pun akhirnya meraih perak Asian Games 2018.

Halaman
Show All
Marco Tampubolon, Fadjriah Nurdiarsih, Edu KrisnadefaTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan