KOLOM: Tanda Tanya di Piala Presiden

Piala Presiden masih menyimpan banyak tanda tanya dan kekurangan, apa saja? Simak ulasannya di kolom ini.

Diterbitkan 23 Februari 2018, 08:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Piala Presiden 2018 sudah berakhir pada pengujung pekan lalu. Pada gelaran ketiga ini, Persija Jakarta tampil sebagai juara berkat kemenangan impresif 3-0 atas Bali United. Sayangnya, laga final di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK) itu diwarnai beberapa cela.

Kerusakan fasilitas stadion oleh oknum suporter lagi-lagi terjadi. Padahal, miliaran rupiah telah dikucurkan demi merenovasi stadion ini agar cantik saat gelaran Asian Games berlangsung pada Agustus mendatang. Sebuah potret buram tentang perilaku suporter yang masih belum dewasa untuk sekadar memelihara aset bersama.

Lalu, yang tak kalah menghebohkan, tentu saja aroma politisasi yang sangat kental. Benturan politik yang terjadi di ruang-ruang publik lain sejak beberapa tahun terakhir, tersaji juga di arena sepak bola yang menjunjung tinggi fair play. Di pengujung turnamen, tersaji drama Maruarar Sirait vs Anies Baswedan yang akhirnya diseret menjadi Jokowi vs Anies.

Pada akhirnya, inilah yang menjadi perbincangan publik. Sudah dapat diduga pula, debat terjadi antara dua kubu yang dalam beberapa tahun ini selalu bertikai. Seperti biasa juga, tanpa ujung yang jelas, hanya saling menyalahkan. Khas debat kusir yang kerap kita saksikan bersama di ruang publik belakangan ini.

Sungguh sangat disayangkan, justru ini yang menjadi viral, bukannya kehebatan Persija yang sejak musim lalu menunjukkan perkembangan luar biasa. Bukan pula soal final yang merepresentasikan kekuatan tradisional dan kekuatan baru di sepak bola nasional. Bukan juga tentang kehebatan Marko Simic yang membuat "brace" di laga final Piala Presiden 2018.

Akan tetapi, begitulah realitas sepak bola kita. Ulah suporter dan aroma politik seakan sudah jadi bagian integral, bahkan budaya. Apalagi, dari tajuknya sendiri, Piala Presiden, turnamen ini memang sudah kental nuansa politik. Tentu tidak akan semudah membalik telapak tangan untuk membenahi hal ini.

Striker Persija Jakarta, Marko Simic, melakukan selebrasi usai mencetak gol ke gawang  Bali United pada final Piala Presiden di SUGBK, Jakarta, Sabtu (17/2/2018). Persija menang 3-0 atas Bali United. (Bola.com/M Iqbal Ichsan)

Ikuti berita bola terbaru di Sport Liputan6

Lanjut Baca:

"Kick politics out of football" dan "kick vandalism out of football" hanya bisa dilakukan dengan kerja bersama dan sungguh-sungguh oleh seluruh pemangku kepentingan di sepak bola. Bagaimana bisa sepak bola bersih dari unsur politik bila banyak politisi yang berkiprah di dalamnya? Ironisnya, sepak bola kita memberi panggung bagi mereka. Bagaimana vandalisme bisa dihentikan bila tanpa edukasi nyata dan berkesinambungan terhadap para suporter? Sebatas imbauan jelang laga saja tidak cukup karena ini menyangkut puluhan ribu kepala dengan tingkat emosi dan pendidikan berbeda. Lalu, apakah menghukum klub jadi jawaban? Belum tentu juga. Lagi pula, bila hal itu terjadi saat timnas berlaga, apakah timnas juga harus diberi hukuman yang sama?

Halaman
Show All
Liputan6.com, Defri SaefullahTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan