KOLOM: Menguji Ketangguhan Zidane di Real Madrid

Zidane dalam ujian terberat dalam kariernya di Real Madrid.

Diterbitkan 19 Januari 2018, 08:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Hal yang terjadi pada Madrid saat ini mengingatkan pada Borussia Dortmund di Bundesliga 1. Mereka memulai musim dengan sempurna. Dalam tujuh laga awal, Die Schwarzgelben bukan hanya selalu menang. Mereka juga membuat clean sheet dalam lima pekan awal. Namun, setelah itu, tiba-tiba saja roda berputar 180 derajat hingga akhirnya pelatih Peter Bosz didepak.

Seperti halnya Zidane saat ini, Bosz tak bisa menjelaskan keterpurukan Dortmund kecuali menunjuk faktor ketidakberuntungan. Belakangan, Hendrie Kruezen yang jadi asisten Bosz malah mengungkapkan hal yang agak di luar nalar. "Ini mungkin terdengar aneh. Namun, kami menukik setelah Lukasz Piszczek cedera," kata dia pada akhir Desember lalu.

Kata-kata Kruezen sesuai fakta. Namun, tetap saja itu mengundang tawa. Siapa Piszczek sampai sebegitu menentukan nasib Dortmund? Dia jelas bukan Lionel Messi yang bagi sebagian orang adalah alien. Akan lebih masuk akal bila yang absen adalah Pierre-Emerick Aubameyang.

Piszczek hanyalah seorang bek kanan. Apakah benar kehilangan seorang bek kanan andalan bisa sedemikian fatal? Rasanya, tak akan ada pelatih yang mengatakan bahwa pemain terpenting di timnya adalah bek kanan.

James Rodriguez kerap menjadi penyelamat bagi Real Madrid (AFP/Gerard Julien)

Di Madrid, sosok seperti Piszczek boleh jadi adalah James Rodriguez. Marca bahkan mengungkapkan lima hal yang hilang seiring putusan Los Blancos meminjamkan James ke Bayern Muenchen. Dari kontribusi gol dan assist, pergerakan di lapangan, hingga pengaruhnya di ruang ganti.

Mungkin juga dia adalah Alvaro Morata. Bersama James, mantan striker Juventus itu juga kerap menyelamatkan Madrid dari situasi sulit. Sepanjang musim lalu, Morata berhasil mencetak 21 gol di semua ajang. Lima di antaranya adalah gol penentu kemenangan.

Ketiadaan kedua pemain ini, juga Pepe, sempat dikeluhkan Cristiano Ronaldo. Pada November tahun lalu, megabintang asal Portugal itu mengatakan, Madrid kehilangan ketiga pemain tersebut. Dia yakin, Madrid tak akan berada dalam situasi sulit andai ketiganya tak dilepas.

Benahi Mental

Penyerang Real Madrid Cristiano Ronaldo saat melawan Villarreal di pertandingan Liga Spanyol di stadion Santiago Bernabeu di Madrid, Spanyol (13/1). Gol tunggal Villarreal dicetak Pablo Fornals pada menit-menit akhir pertandingan. (AP Photo/Paul White)

Satu hal yang pasti, seperti dikatakan Kruezen, rangkaian hasil buruk selalu menimbulkan efek negatif terhadap mentalitas pemain. Kata dia, itu menurunkan kepercayaan diri dan bahkan bisa menimbulkan friksi di antara pemain.

Hal itu juga mulai dirasakan Zidane. "Mungkin yang membuat kami gagal menang adalah masalah mental," kata Zidane usai timnya dikalahkan Villarreal seraya menambahkan, rangkaian hasil buruk pasti menimbulkan tekanan karena pemberitaan miring nan bombastis.

Hal yang menarik, Zidane tak kehilangan kepercayaan diri. Dia bahkan menolak untuk mendatangkan pemain baru pada Januari ini. Padahal, tak sedikit orang yang menilai Los Blancos harus mendatangkan seorang bintang baru. Entah itu Harry Kane, Mauro Icardi atau Robert Lewandowski.

Zidane masih yakin, badai pasti berlalu. Hal terpenting sekarang adalah tetap bekerja keras dan berjuang dengan segenap kekuatan dalam setiap pertandingan. Setelah kalah dari Barcelona, dia juga meminta anak-anak asuhnya berhenti melihat klasemen La Liga. Terpenting, kata dia, adalah menatap laga per laga. Melihat klasemen hanya akan menambah beban.

Sialnya, optimisme serupa juga ditunjukan semua pelatih yang sempat menghadapi krisis musim ini. Bosz, Carlo Ancelotti, Frank de Boer, hingga Ronald Koeman menunjukkan keyakinan tinggi untuk membangkitkan timnya. Namun, pada akhirnya, mereka tak berdaya.

Zidane wajib mengembalikkan kepercayaan diri pemain Real Madrid (AP/Francisco Seco)

Itu karena mereka tak mampu menularkan kepercayaan diri itu kepada anak-anak asuhnya. Inilah yang harus diperhatikan oleh Zidane. Dia wajib menumbuhkan keyakinan untuk bangkit ke dada setiap pemain. Dia harus meyakinkan semua orang bisa menjadi pahlawan dan goalgetter.

Keyakinan itu bahkan harus ditanamkan kepada mereka yang selama ini setia berada di bangku cadangan. Kalau perlu, Zidane harus menunjukkan kompilasi aksi Ole Gunnar Solskjaer, Jermain Defoe, Peter Crouch, Alexander Zickler atau Nils Petersen. Mereka adalah orang-orang yang bisa mencetak gol walau hanya diberi waktu kurang dari 15 menit di lapangan.

Tanpa itu, nasib Coach Zizou akan sama dengan Bosz, De Boer, Koeman, dan Ancelotti. Apalagi, Madrid sudah terbiasa melakukan hal itu. Florentino Perez dikenal kejam. Dia tanpa ampun mendepak Jose Mourinho dan Ancelotti walaupun pada musim sebelumnya memberikan trofi bagi Los Blancos.

*Penulis adalah jurnalis dan pengamat sepak bola. Tanggapi kolom ini @seppginz.

Ikuti berita bola terbaru di Sport Liputan6

Halaman
Show All
Liputan6.com, Defri SaefullahTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan