KOLOM: Saat Klopp PHP Liverpool

Klopp gagal mempertahankan performa bagus bersama Liverpool.

Diterbitkan 03 Maret 2017, 08:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Tak ada yang pasti di dunia ini. Segalanya sungguh sulit diterka. Sekarang tertawa, esok bisa jadi berduka. Kini sengsara, esok boleh jadi malah berjaya dan bahagia. Tengoklah Claudio Ranieri.

Mei tahun lalu, dia dipuja-puja seantero jagat raya karena membawa Leicester City membuat dongeng indah, juara Premier League untuk kali pertama. Itu pula yang membuat allenatore asal Italia tersebut diganjar titel pelatih terbaik dunia 2016. Namun, tak disangka, dia harus mengepak koper dan angkat kaki dari King Power Stadium hanya sembilan bulan kemudian. Gara-garanya, The Foxes jeblok hingga terancam degradasi ke Divisi Championship.

Banyak orang berempati terhadap Ranieri. Mereka tak segan menuding manajemen Leicester keterlaluan dan tak tahu terima kasih. Mereka menutup mata pada fakta keterpurukan luar biasa Danny Drinkwater cs. Andai saja The Foxes tak terancam degradasi, misalnya berada di papan tengah, Ranieri pasti tak akan dilengserkan. Pemilik dan para direktur Leicester tentu sadar, tak mungkin berharap back to back juara.

Para pengkritik juga menutup mata pada sisi lain dari pemecatan itu. Bisa saja manajemen Leicester melakukan hal tersebut justru untuk menjaga harga diri Ranieri. Tentu akan jauh lebih tak elok bila pelatih yang pernah menangani AS Roma, Juventus, Internazionale, Chelsea, dan Valencia itu dibiarkan menjadi manajer pertama yang membawa timnya juara dan degradasi secara beruntun di Premier League.

Ucapan terima kasih fans Leicester City untuk mantan pelatih Claudio Ranieri pada laga melawan Liverpool. Leicester City menang 3-1. (AP Photo/Nick Potts)

Hal yang juga dikesampingkan banyak orang, Ranieri sudah diberi banyak waktu untuk memperbaiki performa The Foxes. Namun, dalam 25 pekan, alih-alih bangkit, timnya justru makin terpuruk dan terseret ke zona berbahaya. Karena tak mungkin memecat semua pemain di skuat The Foxes, langkah paling masuk akal tentu mengganti sang nakhoda.

Ikuti berita bola terbaru di Sport Liputan6

Lanjut Baca:

Hasilnya, Selasa (28/2/2017) dinihari WIB, Drinkwater dkk. sukses menaklukkan tamu yang datang dengan menempuh perjalanan 150 km dari barat laut Inggris, [Liverpool](2873436 ""). Kemenangan itu pun dibukukan dengan sangat meyakinkan. Mereka lebih dominan di lapangan dan mencetak dua gol sebelum turun minum. Saat laga usai, skor menjadi 3-1. Padahal, sang lawan punya waktu luang dua pekan untuk mempersiapkan diri. Sementara itu, The Foxes lima hari sebelumnya berjibaku menghadapi Sevilla di Liga Champions. Bagi Leicester, kemenangan itu menjadi setitik air di tengah gurun, secercah cahaya di tengah kegelapan. Sebaliknya, untuk Liverpool, kekalahan tersebut makin memperdalam krisis. Itu kekalahan keenam dalam sepuluh laga terakhir di semua ajang. Sebelumnya, mereka ditaklukkan Swansea City, Hull City, Wolverhampton Wanderers, dan dua kali kalah dari Southampton. Hujan kritik pun tak ayal melanda Anfield, markas The Reds. Pasalnya, enam kekalahan itu hampir memastikan Liverpool nirtrofi seperti empat musim sebelumnya. Kekalahan dari Southampton membuat Liverpool gagal melangkah ke final Piala Liga, sementara kekalahan dari Wolverhampton menjadikan mereka tersingkir dari percaturan Piala FA. Adapun kekalahan dari Hull, Swansea, dan Leicester yang ditambah hasil imbang dengan Sunderland dan Manchester United membuat The Reds merosot dari posisi ke-2 ke posisi ke-5. Kini, setelah melakoni 26 laga di Premier League, Jordan Henderson cs. tertinggal 14 poin dari sang pemuncak klasemen, Chelsea. Padahal, saat melewati paruh musim, mereka hanya tertinggal enam angka dan disebut-sebut sebagai kandidat terkuat untuk menjegal The Blues. Sungguh fakta menyesakkan yang tak terpikirkan sebelumnya. Tak heran bila kekecewaan para fans meledak dan hujatan pun berhamburan.

Halaman
Show All
Defri SaefullahTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan