Presiden Baru FIFA: Dari UEFA Hingga 'Boneka' Platini

Gianni Infantino resmi menduduki kursi Presiden FIFA masa bakti 2016-2019. Dia berjanj FIFA bebas intervensi.

Diterbitkan 27 Februari 2016, 07:10 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Kariernya yang cemerlang membuat Infantino mencapai posisi Deputi Sekjen UEFA tiga tahun kemudian. Pergaulan yang luas membuat pria 46 tahun ini mahir 6 bahasa asing. Di antaranya, Italia, Prancis, Jerman, Inggris, Spanyol, dan Arab.

Selama di UEFA, Infantino ikut menggagas kebijakan Financial Fair Play (pembatasan pengeluaran klub) guna menghindari ketimpangan kekuatan klub-klub kaya Eropa dengan klub kecil. Infantino juga menjadi pelopor penambahan jumlah peserta Piala Eropa menjadi 26 tim dari sebelumnya 24 pada Piala Eropa 2016.

Tujuannya, agar setiap tim punya peluang lebih banyak tampil lebih banyak di turnamen ini. Pria berkepala plontos ini juga mencetuskan ide, menggelar Piala Eropa dengan tuan rumah 13 negara di uni Eropa.

Te

robosan yang dilakukan Infantino bukan hanya di lingkungan sepak bola Eropa. Dia berencana menghelat Piala Dunia dengan 40 peserta dari sebelumnya 32 peserta.

"Penambahan jumlah peserta menciptakan dinamika yang sepenuhnya baru di babak kualifikasi sekaligus menciptakan antusiasme baru. Bila Anda serius mengambangkan sepak bola, Anda harus melibatkan lebih banyak asosiasi di event sepakbola terbaik di dunia, yakni Piala Dunia," ujar Infantino dalam kampanyenya November 2015 lalu.

Sepak terjang Infantino tidak sampai di situ, pada 2015 dia memimpin negosiasi dengan pemerintah Yunani yang memutuskan membuat UU olahraga baru, setelah sepak bola di negeri para Dewa ini diterpa skandal dan korupsi. Dia mengingatkan, Yunani bisa terkena sanksi FIFA karena intervensi pemerintah.

Bukan Boneka Platini

Banyak pihak menilai, terpilihnya Infantino tidak lepas dari 'bantuan' Michel Platini yang terkena hukuman dilarang berkecimpung di sepak bola selama 8 tahun karena kasus korupsi dengan Sepp Blatter. Terpilih sebagai Presiden baru FIFA, Stigma negatif kalau Infantino boneka Platini.

Dia menegaskan, tidak ada 'bayang-bayang' Platini ketika memimpin FIFA. Dia bakal memimpin FIFA secara independe, tanpa intervensi dari pihak manapun termasuk Platini.

"Itu tentu tidak terjadi," kata Infantino dilansir dari CNN.

Di

a mengaku telah mendapat dukungan dari negara -negara dunia sepak bola dunia ketiga.

"Saya telah dinominasikan oleh komite eksekutif UEFA, saya telah menerima dukungan di Amerika Selatan, Amerika Tengah, Karibia, Afrika, Asia.

Spekulasi yang berkembang, Infantino mundur dari bursa calon Presiden FIFA. Dia memberikan jalan kepada koleganya, Platini untuk maju menjadi Presiden FIFA. Namun, Platini tersangkut skandal dan mendapat hukuman dari FIFA. Soal skenario tersebut, Infantino memilih bersikap normatif.

"Saya berbagi banyak hal dengan Platini. Kami bekerja sama selama sembilan tahun. Platini memiliki kekuatan dan kelemahan sendiri. Saya memiliki kekuatan dan kelemahan sendiri. Saya berkomitmen untuk menunjukkan kepada seluruh dunia, mampu memimpin FIFA."

Ikuti berita bola terbaru di Sport Liputan6

Halaman
Show All
Rejdo Prahananda, Marco Tampubolon, Edu KrisnadefaTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan