[KOLOM] ‘Setan Merah’ Tersingkir, Fans MU Tak Perlu Resah

Manajer MU, Louis Van Gaal diserang kritik dari segala arah.

Diterbitkan 11 Desember 2015, 08:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

TANPA KATALISATOR

Sebuah perubahan memang perlu waktu untuk menampakkan hasil. Di Man. United, waktu yang diperlukan Van Gaal rupanya lebih banyak. Pasalnya, dalam menanamkan falsafah sepak bola yang dianutnya, dia menghadapi resistensi sangat besar. Para pemain tak akomodatif terhadap perubahan yang dibawa sang manajer.

Mereka mengeluhkan pertemuan-pertemuan tim sesudah pertandingan serta pendekatan saat latihan yang menekankan analisis video dan pembahasan taktik. Mereka juga seperti tak mau beranjak dari cara main lama yang menekankan pada serangan bergelombang nan cepat, penuh tenaga, dan penuh semangat.

Resistensi serupa ditunjukkan para suporter dan eks penggawa Red Devils. Para suporter sempat meneriakkan, “Attack, attack, attack!” Adapun sejumlah eks pemain, di antaranya Ferdinand, mengutuk possession football yang coba diterapkan sang manajer.

“Falsafah saat ini sepertinya ‘Kami akan menguasai bola lebih sering dibanding kalian. Kalian tak akan nyaman menguasai bola. Penguasaan bola adalah cara awal kami bertahan.’ Para pendukung Man. United kini harus terbiasa melihat klubnya bermain dengan cara berbeda,” papar Ferdinand.

Manajer Manchester United, Louis van Gaal (kiri), dan pemainnya, Bastian Schweinsteiger (kanan). (AFP/Paul Ellis)

Ini menjadi handicap sangat besar. Padahal, kata Schmeichel, Man. United seharusnya menerima Van Gaal secara utuh. “Ketika kami memilih seseorang seperti Louis van Gaal yang memiliki personalitas dan ego sangat besar, kami juga memilih falsafah sepak bolanya. Sangat jelas bahwa untuk jangka waktu tertentu, kami harus menerima tim tak mengusung gaya main Manchester United,” terang dia.

Memahami metode Van Gaal memang tak mudah. Menurut Maarten Meijer, penulis biografi Van Gaal, hal tersulit bagi sang pelatih saat di Jerman adalah mengkomunikasikan ideologinya. “Hanya sedikit yang betul-betul memahami penjelasannya,” ucap Meijer.

Situasi di Manchester kian sulit karena Van Gaal tak memiliki katalisator. Saat ini, sangat mungkin dia mendambakan sosok Arjen Robben yang menjadi katalisator semasa di Bayern. Sebelum kedatangan Robben dari Real Madrid, Bayern tak berjalan di trek yang benar. Tiga laga awal di Bundesliga dilewati tanpa kemenangan.
Menurunnya penampilan Mamphis Depay, sepertinya akan membuat Louis van Gaal tertarik memboyong Arjen Robben ke Manchester United untuk menambal sektor sayap yang masih rapuh. (EPA/Peter Steffen)

Itu berubah ketika Robben datang. Robben yang juga berasal dari Belanda adalah jembatan dalam menerjemahkan falsafah sang pelatih kepada pemain-pemain lain di lapangan. Dia juga sosok yang bisa diandalkan untuk mengantar tim meraih kemenangan. Lalu, yang paling penting, kehadiran Robben membuat Van Gaal menemukan racikan terbaik.

Musim ini, Van Gaal sebenarnya menaruh harapan pada dua penggawa anyar, Bastian Schweinsteiger dan Memphis Depay. Keduanya diyakini bisa menjadi jembatan penghubung karena pernah ditangani Van Gaal. Namun, harapan tinggal harapan. Keduanya gagal menjadi katalisator.

MENIRU WOLFSBURG

Meski begitu, terlalu gegabah menyepakati Ferdinand yang memvonis Man. United tak akan meraih prestasi apa pun bersama Van Gaal. Kesuksesan bukan hanya ditentukan oleh tekad dan kemampuan, melainkan juga oleh kesempatan.

Musim ini, persaingan di kasta tertinggi sepak bola Inggris sungguh sukar diprediksi. Keberadaan Leicester City di puncak klasemen dan Jamie Vardy di puncak daftar pencetak gol terbanyak adalah buktinya. Tak ada lagi dominasi Chelsea dan Sergio Agüero. Bahkan Manchester City yang dinilai kandidat kuat juara pun terseok-seok.

Man. United perlu belajar dari Wolfsburg yang menyingkirkan mereka dari percaturan Liga Champions musim ini. Persaingan di Premier League musim ini mengingatkan pada Bundesliga musim 2008-09 ketika Wolfsburg juara.

Saat itu, Bundesliga dikejutkan oleh sensasi klub debutan, TSG 1899 Hoffenheim, dan strikernya, Vedad Ibisevic. Mereka merusak peta persaingan yang sebelumnya selalu dikuasai klub-klub tradisional macam Bayern, Borussia Dortmund, SV Werder Bremen, VfB Stuttgart, Bayer Leverkusen, dan FC Schalke 04.
Head to head Wolfsburg vs MU sebelum pertandingan berlangsung (Abdillah/Liputan6.com)
Wolfsburg mampu memanfaatkan “kekacauan” itu dengan baik. Mengendap-endap selama putaran pertama, mereka menggebrak saat putaran kedua. Apalagi pada saat yang bersamaan, Hoffenheim menukik gara-gara cedera yang menghantam Ibisevic. Dalam 17 laga paruh kedua, Die Wolfe hanya tiga kali gagal meraih kemenangan.

Memang benar, kesuksesan kala itu sangat ditentukan oleh polesan pelatih Felix Magath serta kehebatan trio Zvjezdan Misimovic, Grafite, dan Edin Dzeko yang disebut The Magic Triangle. Namun, keterpurukan para pesaing utama juga menjadi faktor yang tak bisa diabaikan. Bayern, Dortmund, Hamburg, Schalke, dan Leverkusen tak mulus menjalani transisi setelah pergantian pelatih pada awal musim.

Kemampuan memanfaatkan kesempatan itu kembali diperlihatkan pada musim lalu. Di tengah keterpurukan Dortmund, Die Wolfe mengambil alih posisi sebagai pesaing utama Bayern. Mereka bahkan sanggup menjadi yang terbaik di DFB Pokal.
Juara grup B, Wolfsburg. Klub asal Jerman ini memberikan kejutan lolos usai menaklukan Manchester United. (AFP/John Macdougall)

Untuk meniru jejak Wolfsburg, Van Gaal tak boleh terperangkap dalam ambisi mewujudkan prestasi dengan permainan yang sesuai falsafahnya. Dia perlu menengok pengalaman musim 2009-10 di Bayern. Keberhasilan Die Roten merebut dua gelar dan menembus final Liga Champions tidak diraih dengan superioritas dan permainan indah. Beberapa kali mereka tersandung.

Bila Van Gaal mampu membuat Man. United berjalan seperti Wolfsburg yang mengendap-endap pada putaran pertama dan lantas juara pada akhir musim, niscaya semua pengkritik akan diam. Bagaimanapun, trofi adalah obat paling mujarab untuk membungkam semua keraguan.

*Penulis adalah pemerhati sepak bola dan komentator di sejumlah televisi di Indonesia. Asep Ginanjar juga pernah jadi jurnalis di Tabloid Soccer.

Ikuti berita bola terbaru di Sport Liputan6

Halaman
Show All
Defri SaefullahTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan