6 Dinasti Ayah & Anak di Dunia Sepak bola

Enam ayah dan anak yang sukses di dunia sepak bola.

Diterbitkan 14 Februari 2015, 07:25 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Lampard

3. Lampard

Ada dua Frank Lampard di Inggris, yang senior dan anaknya, si junior. Frank Lampard senior membela West Ham sejak 1967 hingga 1985 (18 tahun). Ia tampil sebanyak 551 kali untuk The Hammers di seluruh kompetisi. Frank Lampard senior gantung sepatu pada 1986 di Southend United.

Uniknya, Frank Lampard Senior sempat menjadi asisten pelatih West Ham pada 1994 hingga 2001. Ia sempat merasakan bekerjasama dengan Harry Redknapp yang merupakan saudara iparnya sendiri.

Frank Junior tampil lebih baik daripada sang ayah. Si Junior ini bahkan telah menjadi legenda saat ia masih bermain bersama Chelsea. Lampard tercatat sebagai gelandang tersubur sepanjang sejarah Premier League (139 gol).

Rekor lain, Lampard mencatatkan diri sebagai pencetak gol terbanyak untuk Inggris dari titik penalti (7 kali). Rekor ini didapatnya kala mengeksekusi penalti melawan Swiss 2-2 kemarin. Lampard juga tercatat sebagai pemain Chelsea dengan IQ tertinggi.


Hazard

4. Hazard

Ayah dan ibu Hazard adalah seorang pesepak bola. Sang ayah, Thierry, menghabiskan kariernya di klub semi profesional, La Louviere, yang berpartisipasi di Divisi II Liga Belgia.

Hazard tiga adik dan merteka semuanya berprofesi sebagai atlet sepak bola. Sang adik, Thorgan Hazard, bergabung bersama Chelsea pada 2012 lalu dan kini dipinjamkan ke Borussia Monchengladbach.

Adapun, adik kedua Hazard, Kylian, baru saja bergabung bersama Akademi Chelsea.

Sartono

5. Sartono

Sartono Anwar mengabdikan sepanjang hidupnya dengan berkarya di dunia sepak bola.  Bahkan dia rela meninggalkan hidup yang mapan, gaji dan bonus yang tertib di Pertamina serta jadwal kerja yang jelas. Semuanya ia tinggalkan demi bola dan lapangan rumput hijau.

Karier sepakbola Anwar dimulai saat berusia 13 tahun.  Saat itu Sartono muda bergabung di klub Sport Supaya Sehat (SSS), sebuah klub lokal di Kota Semarang. Bakat Sartono mengolah si kulit bundar menurun dari M. Anwar, sang bapak yang juga pemain bola di PS POP Semarang.

Sartono Anwar adalah ayah dari pemain mantan penggawa Timnas Indonesia, Nova Arianto Sartono. Nova berposisi sebagai bek tengah.

Vava memiliki julukan Suster Ngesot karena kerap merayakan gol dengan cara mengesot di lapangan. Saat ini, Vava bertugas sebagai asisten pelatih Pelita Bandung Raya.

Hadi

6. Hadi

Keterbatasan finansial tidak menghalangi niat Muchlis Hadi Ning Syaifullah untuk berprestasi di level internasional. Mengawali karier sebagai pesepakbola dengan seadanya, Muchlis pun kini menjadi pilar tim nasional Indonesia U-19 yang lolos ke putaran final Piala Asia 2014 di Myanmar.

Semasa kecilnya, Muchlis harus rela dilatih oleh orang tua sendiri lantaran tidak mampu membayar biaya masuk mengikuti Sekolah Sepak Bola (SSB). Keterbatasan dana membuat Muchlis kecil sehari-hari hanya berlatih di bawah pengawasan sang ayah, Samsul Hadi.

Samsul sendiri bukan asal-asalan dalam melatih Muchlis kecil, karena ia sebelumnya adalah mantan stopper tim Assyabab Surabaya, satu angkatan dengan Mustaqim dan Putut Wijanarko. Berbekal ilmu sebagai pemain bola inilah, Samsul lantas menempa Muchlis cara menggocek, menendang, menyundul, serta mengontrol bola.

Namun menginjak bangku Sekolah Menengah Pertama, Samsul sadar Muchlis memang butuh masuk SSB untuk meningkatkan pengalamannya. Namun lagi-lagi Samsul menemui kendala dalam mendukung kiprah Muchlis, lantaran pada saat itu ia tidak bisa membelikan sang anak sepatu berkualitas.

Ikuti berita bola terbaru di Sport Liputan6

Halaman
Show All
Arie Nugroho, Arry AnggadhaTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan