Mengintip "Kawah Candradimuka" Bintang Bulutangkis Indonesia

Namun tidak selamanya PB Djarum mencetak pebulutangkis juara dunia.

Diterbitkan 07 September 2014, 20:56 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Pengelola PB Djarum menjaga pola dan menu makanan atletnya. Manajemen menyediakan ahli gizi. Makanan yang disediakan sesuai rekomendasi sang dokter dan harus dikonsumsi tanpa kecuali. Program beasiswa ini berlaku bila anak tersebut terus berprestasi di belakang net. "Jika prestasinya jalan di tempat, terpaksa kami keluarkan," ucap Yoppi.

Sejak berdiri pada 1974, PB Djarum ikut memiliki andil bagi sukses Indonesia merebut Piala Thomas 1984. Tujuh dari delapan pemain kejuaraan beregu itu milik PB Djarum mererka adalah Liem Swie King, Hastomo Arbi, Hadiyanto, Kartono, Heryanto, Christian Hadinata, dan Hadibowo.

Meski fokus menempa pemain bulutangkis, PB Djarum tetap mewajibkan para atletnya mengenyam bangku sekolah. Menurut Kepala Administrasi PB Djarum, Eddy Prayitno, selain menjalani latihan rutin selama lebih dari 10 jam sehari, atlet-atlet tersebut juga diwajibkan mengenyam bangku pendidikan formal dari jenjang SD sampai SMA.

PB Djarum mengumpulkan para atletnya di tiga sekolah: SD Kanisius, SMP Taman Dewasa, dan SMA Keluarga."Kami sengaja menempatkan mereka di tiga sekolah itu agar mudah dipantau," kata dia.

Bila sudah memperkuat PB Djarum, sekolah nomor dua. "Pendidikan mereka pasti tertinggal karena harus mengikuti Sirkuit Nasional (Sirnas) dan Grand Prix Gold," kata Eddy. "Untuk mengikuti satu Sirnas di satu daerah di Indonesia saja membutuhkan waktu sepekan," ucap Eddy pada Liputan6.com.

"Ada orangtua yang menginginkan anaknya fokus di bulutangkis dan putus sekolah, tapi PB Djarum selalu memberikan pengertian, bagaimana kalau anak itu tidak berhasil di bulutangkis? Jadi anak itu harus mencari penghidupan lain.

Masih menurut Eddy, tidak semua atlet di PB Djarum menjadi pebulutangkis. Di antara mereka justru berkarier di luar bidang bulutangkis."Atlet PB Djarum ada yang jadi dokter, sekolah ke luar negeri, menjadi Pengacara dan Polisi. Kalau prestasi mentok di lapangan, mereka bisa berkarier di luar bulutangkis. Inilah alasan mereka harus tetap sekolah."

Melihat besarnya kesempatan dan fasilitas yang diberikan PB Djarum, tidak heran bila audisi umum PB Djarum selalu membludak setiap tahunnya. Peserta yang datang untuk mengikuti seleksi tidak hanya datang dari Jawa, tetapi dari Nanggroe Aceh Darussalam.

Sabilla contohnya, ini menjadi tahun ke dua gadis berusia 11 tahun ikut audisi. Pada kesempatan pertama tahun lalu, dia gagal. Namun kegagalan itu tidak menyurutkan semangatnya untuk menembus klub bulutangkis elite itu.

Bahkan, Sabilla yang merupakan korban Tsunami di Aceh 10 tahun lalu itu pindah ke Kudus untuk mewujudkan cita-cita berjersey PB Djarum. Selama "mondok" di Kudus, Sabilla bermain di PB Taurus, Kudus. Tahun lalu, bocah berambut panjang asal Meulaboh itu diantar sang Ibu. Dia bertekad membuat bangga kedua orang tuanya. "Saya terus berlatih sebelum ikut audisi. Saya ingin menjadi juara dunia," kata Sabilla polos.

Bukan hanya Sabilla, Ilham Rahmad Najir yang datang dari Tual, Maluku Tenggara juga memiliki mimpi yang sama; menjadi juara dunia. "Kalau lolos audisi membuka peluang untuk tampil di kejuaraan nasional dan internasional."

Atlet PB Djarum yang kini menghuni Pelatihan Atlet Nasional di Cipayung, Debby Susanto menyadari betul bila banyak anak-anak begitu berambisi bergabung di PB Djarum. "Dari semua klub bulutangkis, PB Djarum yang peduli dengan atletnya."

Ikuti berita bola terbaru di Sport Liputan6

Halaman
Show All
Rejdo PrahanandaTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan