IMF Peringatkan Tiga Ancaman Ekonomi Dunia

Direktur Pelaksana IMF Kristalina Georgieva menyoroti tiga hal yang berdampak sehingga masing-masing negara harus mengambil kebijakan yang tepat.

Diterbitkan 09 Oktober 2026, 08:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Direktur Pelaksana IMF Kristalina Georgieva menuturkan, negara-negara baik kaya maupun miskin harus mengambil tindakan lebih cepat untuk memangkas utang dan mengatasi ketimpangan yang kian meningkat saat perekonomian menghadapi tiga pukulan sekaligus. Hal itu antara lain lonjakan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), beban utang yang besar, serta guncangan akibat perang di Timur Tengah dan Ukraina.

“Kita dihadapkan pada sejumlah pilihan politik yang sangat besar,” ujar Kristalina dalam pidatonya di Singapura menjelang pertemuan musim gugur IMF-Bank Dunia yang akan digelar di Bangkok, mengutip AP, Jumat, (9/10/2026).

"Pesan saya kepada para pembuat kebijakan ekonomi dunia pekan depan adalah: kita tidak bisa terus menunda langkah kebijakan yang diperlukan, Anda memiliki sarana untuk itu, kini gunakanlah dengan bijak," ia menambahkan.

Dalam pertemuan di Bangkok tersebut, para menteri keuangan dan gubernur bank sentral dari 191 negara anggota IMF-Bank Dunia akan mengevaluasi kondisi ekonomi global serta membahas strategi untuk mendukung stabilitas keuangan dan pertumbuhan yang berkelanjutan.

Georgieva menuturkan, sejauh ini, dampak terberat terhadap kesejahteraan global belakangan ini berasal dari konflik di Timur Tengah, Ukraina, dan wilayah lainnya.

Namun, Ia menuturkan, utang yang berlebihan juga menjadi beban yang kian berat bagi negara-negara maju seperti AS, Jepang, dan Jerman, serta negara-negara berpenghasilan rendah yang harus memilih antara membiayai kesejahteraan publik atau melunasi utang yang memberatkan di tengah tingginya suku bunga.

Georgieva menyoroti risiko terkait pesatnya peningkatan kapasitas pusat data untuk mendukung kecerdasan buatan (AI). Perkembangan ini telah mendorong harga saham di banyak tempat ke rekor tertinggi dan menopang pertumbuhan ekonomi yang kuat, meskipun terdapat biaya energi yang tinggi akibat konflik yang melibatkan Iran.

Investasi dalam AI kemungkinan akan melampaui skala relatif belanja pembangunan jalur kereta api, jaringan listrik, dan jaringan telekomunikasi.

"Entah disukai, dibenci, atau ditakuti, AI sudah hadir dan dengan cepat menjadi faktor penentu utama nasib relatif berbagai negara dalam ekonomi global," ujar dia.

 

Lonjakan Pembangunan Infrastruktur AI

Lonjakan pembangunan infrastruktur AI turut menopang kinerja laba perusahaan yang kuat sekaligus memicu inflasi yang lebih tinggi. Namun, menurut Georgieva, terdapat jeda waktu antara investasi besar-besaran yang dilakukan dan perwujudan manfaat dari AI itu sendiri.

"Jika perolehan laba ternyata tidak memenuhi harapan, leverage perusahaan hyperscaler serta kepemilikan global yang besar dan terus meningkat atas saham AS dapat mengubah kekecewaan tersebut menjadi guncangan yang berdampak luas,” ia menambahkan.

Tujuh dari 10 negara teratas dalam perdagangan terkait AI berada di kawasan Asia-Pasifik, wilayah yang pangsa aktivitas ekonominya telah meningkat menjadi 43% dari 25% pada 1991, tahun terakhir pertemuan ini diselenggarakan di Bangkok.

Georgieva menuturkan, meskipun China, India, Jepang, Korea Selatan, Taiwan, dan negara-negara lain dengan sektor teknologi yang kuat menikmati keuntungan dari lonjakan AI, sebagian besar negara lain justru tertinggal, sehingga memperparah ketimpangan ekonomi. AI juga meningkatkan permintaan energi, yang kian mendongkrak harga bahan bakar, pupuk, pangan, dan komoditas penting lainnya.

Ia mendesak berbagai negara untuk mengendalikan belanja publik dan menaikkan biaya pinjaman jika diperlukan guna mengontrol inflasi, sembari tetap melindungi kelompok masyarakat yang paling rentan.

“Diperlukan kebijakan untuk memastikan AI diatur dengan baik, melatih tenaga kerja, menciptakan pasar tenaga kerja yang lebih fleksibel, memfasilitasi kewirausahaan, serta meningkatkan ketahanan energi,” kata Georgieva.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6