Hashim: Prabowo Belajar Swasembada dari Soeharto

Hashim Djojohadikusumo sebut Prabowo belajar ketahanan pangan dari Soeharto. Sebut kecukupan pangan jadi kunci stabilitas rakyat.

Diterbitkan 07 Oktober 2026, 21:30 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

 

Liputan6.com, Jakarta - Obsesi Presiden Prabowo Subianto dalam mengejar swasembada pangan disebut-sebut terilhami oleh Presiden ke-2 RI, Soeharto. Ketersediaan pangan diyakini menjadi kunci utama dalam menjamin stabilitas dan ketenangan masyarakat.

Hal tersebut diungkapkan oleh Utusan Khusus Presiden Bidang Iklim dan Energi, Hashim Djojohadikusumo. Adik kandung Prabowo ini menyebut bahwa sang kakak sudah sejak lama memprioritaskan isu ketahanan pangan.

"Selain dari ketahanan energi, Pak Prabowo begitu terobsesi dari dulu, ya fixated, obsessed dengan ketahanan pangan," ujar Hashim di Hotel Raffles, Jakarta, Rabu (7/10/2026).

Hashim menjelaskan bahwa Prabowo banyak belajar dari prinsip Soeharto. Salah satu poin utamanya adalah menempatkan pangan sebagai kebutuhan mendasar rakyat. Ketika kebutuhan perut masyarakat terpenuhi, potensi kegaduhan politik maupun sosial bisa ditekan.

"Karena mungkin beliau belajar dari Pak Harto bahwa ketahanan pangan itu, asal ada pangan yang cukup, rakyat bisa tenang dan nyaman, tidak ada gaduh dan sebagainya," tutur Hashim.

"Itu pelajaran yang Pak Prabowo dapat dari Pak Harto dari zaman dulu, dan saya menghayati serta mendukung hal tersebut," lanjutnya.

Ia menambahkan, ketahanan pangan Indonesia sempat diuji saat pandemi Covid-19 serta imbas perang Rusia-Ukraina yang mengganggu pasokan global. "Sekarang kita melihat juga kepekaan dan ketergantungan kita dengan sumber-sumber dari Timur Tengah. Kita harus menjaga ketahanan energi sekaligus ketahanan pangan," ucapnya.

Tak Ada Negara Maju Tanpa Swasembada

Secara terpisah, Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan (Zulhas) menegaskan pentingnya kemandirian pangan sebagai fondasi utama kemajuan bangsa. Menurutnya, kedaulatan pangan berhubungan langsung dengan tingkat kesejahteraan para petani dan produsen.

"Tidak ada negara yang maju tanpa swasembada. Oleh karena itu, Pak Prabowo mengatakan swasembada itu kehormatan,” tegas Zulhas di Jakarta, Jumat (4/9/2026).

Pesan tersebut disampaikan Zulhas saat meluncurkan buku berjudul Pangan Indonesia: Dari Piring Sehat ke Manusia Unggul, yang ia tulis bersama Dirgayuza Setiawan, Asisten Khusus Presiden Bidang Komunikasi dan Analisa Kebijakan.

Pangan dan Masa Depan Bangsa

 

Lewat buku tersebut, persoalan pangan yang terkesan rumit dikemas agar lebih ramah dibaca masyarakat luas, mulai dari kacamata kebijakan hingga kedaulatan bangsa. 

"Makan itu tidak sekadar nasi dan lauk di piring. Kita harus mulai memahami betapa pentingnya soal makan, karena ini menyangkut kedaulatan, peradaban, dan masa depan kita," jelas Zulhas.

Kondisi ketahanan pangan nasional sendiri menunjukkan tren positif. Pada Agustus 2026, Presiden Prabowo mengumumkan bahwa Indonesia telah mencapai swasembada untuk delapan komoditas utama: beras, jagung, gula konsumsi, daging ayam, telur ayam, bawang merah, cabai besar, dan cabai rawit. 

Kini, pemerintah menargetkan swasembada untuk komoditas lainnya, seperti bawang putih yang diproyeksikan rampung dalam tiga tahun, serta daging sapi dan kerbau dalam kurun lima hingga enam tahun.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6