Perempuan Indonesia Paling Berpengaruh di Asia Versi Fortune 2026

Fortune kembali merilis daftar Perempuan Paling Berpengaruh di Asia 2026. Tiga Srikandi bisnis asal Indonesia berhasil masuk dalam daftar 100 besar.

Diterbitkan 07 Oktober 2026, 21:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Fortune kembali meluncurkan daftar tahunan Perempuan Paling Berpengaruh di Asia (Most Powerful Women Asia) yang ketiga. Daftar ini mengapresiasi 100 perempuan yang kepemimpinan, kinerja bisnis, dan pengaruhnya turut membentuk masa depan ekonomi di kawasan Asia.

Mengutip keterangan resmi Fortune, Rabu (7/10/2026), posisi teratas dalam peringkat 2026 diduduki oleh CEO DBS Group, Tan Su Shan, yang berhasil mempertahankan posisi pertama.

Sementara itu, Grace Wang menempati posisi kedua. Salah satu pergerakan paling signifikan tahun ini datang dari pengusaha teknologi Zhou Qunfei yang melesat 25 peringkat ke posisi ketiga. Hal ini makin menegaskan menguatnya pengaruh sektor teknologi di antara para pemimpin bisnis perempuan di Asia.

Indonesia turut menyumbangkan kebanggaan dalam daftar tersebut. Tiga perempuan pemimpin asal Tanah Air berhasil masuk dalam jajaran 100 perempuan paling berpengaruh di Asia. Sektor bisnis yang mereka kelola pun beragam, mulai dari pariwisata, perhiasan, hingga farmasi.

Berikut adalah daftar lengkap tiga perempuan Indonesia paling berpengaruh di Asia versi Fortune:

 

1. Maya Watono (Urutan 83)

  • Jabatan: Chief Executive Officer (CEO)
  • Perusahaan: PT Aviasi Pariwisata Indonesia (Persero) atau InJourney

Maya Watono bergabung dengan Holding BUMN Aviasi dan Pariwisata, InJourney, sejak awal didirikan pada 2022. Pada November 2024, ia mengukir sejarah sebagai CEO BUMN perempuan termuda di usia 42 tahun. Pada 2025, pendapatan InJourney mencapai US$ 1,7 miliar atau sekitar Rp 30,3 triliun (dengan asumsi kurs dolar AS terhadap rupiah di kisaran Rp 17.878).

Maya kini memimpin integrasi 120 hotel milik negara menjadi grup perhotelan terbesar kedua di Indonesia, sekaligus mengembangkan berbagai destinasi wisata unggulan mulai dari Borobudur hingga Mandalika. Sebelum berkarier di BUMN, ia merupakan CEO perempuan pertama dan termuda di Dentsu Indonesia.

 

2. Sandra Sunanto (Urutan 86)

  • Jabatan: Chief Executive Officer (CEO)
  • Perusahaan: PT Hartadinata Abadi Tbk

Sandra Sunanto memimpin perusahaan produsen emas dan perhiasan terkemuka di Indonesia, Hartadinata Abadi, sebagai CEO dan Presiden Direktur sejak 2017. Latar belakangnya berawal dari dunia akademis, di mana ia mengajar di Program Studi Manajemen Universitas Katolik Parahyangan selama hampir dua dekade.

Pendapatan perusahaannya pada 2025 melonjak 144% mencapai sekitar US$ 2,7 miliar atau Rp 48,2 triliun. Hartadinata Abadi juga mencatatkan lonjakan tertinggi dalam daftar Fortune Southeast Asia 500, yakni naik 115 peringkat ke posisi ke-129. Sementara itu, laba bersih perusahaan naik 121% menjadi US$ 58 juta (sekitar Rp 1,03 triliun) atau berkontribusi sekitar 2,2% dari total penjualan. Saat ini, perusahaan menguasai hampir 49% pangsa pasar perhiasan serta emas batangan di Indonesia dan sedang mengupayakan sertifikasi London Bullion Market Association (LBMA).

 

 

3. Bernadette Ruth Irawati Setiady (Urutan 94)

  • Jabatan: Presiden Direktur
  • Perusahaan: PT Kalbe Farma Tbk

Bernadette Ruth Irawati Setiady, keponakan dari mendiang pendiri Kalbe Farma, Boenjamin Setiawan, pertama kali memimpin perusahaan ini pada periode 2008–2017. Ia kemudian kembali dipercaya menjabat sebagai Presiden Direktur emiten farmasi terbesar di Asia Tenggara tersebut pada 2024.

Saat ini, Irawati mengarahkan strategi ekspansi Kalbe Farma ke bidang produk biologi dan terapi sel. Ia juga meresmikan fasilitas pabrik radioisotop swasta pertama di Indonesia untuk memproduksi obat-obatan radioaktif yang digunakan dalam diagnosis dan terapi pengobatan kanker.

Di tengah tantangan tekanan margin laba akibat pelemahan nilai tukar rupiah dan kenaikan harga bahan baku impor—yang menyebabkan laba bersih semester pertama turun 2,8%—penjualan/pendapatan perusahaan tetap tumbuh positif 14% menjadi Rp 19,5 triliun.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6