Amran Siapkan 2 Juta Hektare untuk Pengembangan Bioetanol

Mentan Amran menyiapkan lahan hingga 2 juta hektare untuk pengembangan bioetanol berbasis tebu, singkong, dan jagung.

Diterbitkan 22 September 2026, 10:20 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyiapkan pengembangan lahan hingga 2 juta hektare untuk memperkuat industri bioetanol nasional. Program ini diarahkan menjadi salah satu fondasi untuk mewujudkan kemandirian dan kedaulatan energi Indonesia.

Amran mengatakan pengembangan bioetanol akan mengandalkan tiga komoditas utama, yakni tebu, ubi kayu atau singkong, dan jagung. Pemerintah akan menyesuaikan pengembangan komoditas dengan potensi masing-masing daerah.

“Pemerintah menyiapkan pengembangan lahan hingga 2 juta hektare sebagai fondasi pembangunan industri bioetanol nasional sekaligus langkah memperkuat kemandirian energi,” kata Mentan dikutip dari Antara, Selasa (22/9/2026).

Menurut Amran, pembangunan industri bioetanol tidak cukup hanya dengan mendirikan pabrik. Ketersediaan bahan baku harus dipastikan terlebih dahulu melalui pengembangan kawasan pertanian dalam skala besar dan terintegrasi dengan industri pengolahan.

“Etanol ini butuh lahan 1 sampai 2 juta hektare dengan tiga komoditas strategis. Insya Allah kita akan bangun pabriknya, kita gerakkan masif seluruh Indonesia,” ujarnya.

Tebu menjadi salah satu fokus utama karena dinilai memiliki potensi besar sebagai bahan baku bioetanol. Sementara itu, singkong dan jagung dikembangkan di daerah yang memiliki kesesuaian lahan serta produktivitas tinggi.

Libatkan BUMN dan Swasta

Amran menegaskan kepastian bahan baku menjadi salah satu fondasi untuk menarik investasi industri bioetanol. Karena itu, pemerintah akan lebih dulu melakukan konsolidasi lahan dan menyiapkan kawasan produksi.

Pembiayaan pembangunan industri nantinya berpotensi melibatkan BUMN dan swasta. Pemerintah mengambil peran dalam menyiapkan kawasan, sedangkan investasi industri dapat diperkuat oleh sektor swasta.

“Anggarannya mungkin 30 persen dari BUMN, 70 persen dari swasta dan pasti swasta mau karena tanahnya disiapkan oleh negara,” beber Amran.

Pengembangan bioetanol juga diharapkan memberikan manfaat langsung kepada masyarakat. Pemerintah akan mendorong skema kemitraan sehingga masyarakat ikut terlibat dalam pertumbuhan kawasan pertanian dan industri.

“Ini tidak boleh monopoli, minimal 30 persen rakyat. Jadi rakyat menikmati. Sekarang nggak boleh di bawah 20, harus 30 persen untuk rakyat. Harus tumbuh bersama kalau negara mau kuat,” tegas Amran.

Pemerintah juga mendorong pengusaha daerah ikut terlibat agar pengembangan bioetanol sekaligus menciptakan pusat pertumbuhan ekonomi baru.

 

Jagung di Tahap Awal

Pada tahap awal, Kementan akan memperkuat pengembangan jagung melalui percontohan di daerah yang menyatakan kesiapan. Dukungan awal dapat diberikan dengan lahan 500 hingga 1.000 hektare per kabupaten.

Daerah yang menunjukkan hasil produksi baik berpeluang mendapat tambahan lahan hingga 1.500 hektare.

“Nanti kita lihat hasilnya. 1.000 hektare untuk setiap bupati yang datang. Kita lihat jagungnya yang tanamannya bagus, produksinya tinggi, saya akan tambah di Januari, tambah luasan jagung,” jelasnya.

Kementan juga menyiapkan alat dan mesin pertanian (alsintan) untuk meningkatkan produktivitas. Sementara untuk tebu, pemerintah menargetkan pengembangan dalam skala lebih besar.

“Yang paling penting adalah tebu. Kita butuh 1 juta hektare. Tadi sudah dihadiri oleh Pak Dirjen dari Kehutanan Planologi, kemudian Deputi dari BUMN. Kita akan bergerak bersama,” beber Amran.

Dalam penyiapan lahan, pemerintah akan mengutamakan kawasan yang sesuai secara teknis dan memiliki kepastian legalitas. Aspek lingkungan juga menjadi perhatian.

“Pokoknya kita jaga lingkungan, tetapi kita juga menjadi swasembada energi atau berdaulat energi,” katanya.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6