Dari 200 Bar Jadi 0,3 Bar, Ini Perjalanan CNG hingga Masuk Dapur

CNG diangkut dengan tekanan sekitar 200 bar. Sebelum digunakan, tekanannya diturunkan bertahap hingga aman untuk rumah tangga dan restoran.

Diterbitkan 19 Agustus 2026, 21:30 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Gas bumi yang digunakan untuk memasak di rumah atau restoran tidak serta-merta mengalir dari sumber gas langsung ke kompor. Untuk wilayah yang belum terhubung jaringan pipa gas, salah satu metode yang digunakan adalah compressed natural gas (CNG).

Melalui sistem CNG, gas bumi dikompresi agar dapat diangkut dalam jumlah lebih besar menggunakan kendaraan khusus. Dalam proses pengangkutan, tekanan gas dapat mencapai sekitar 200 bar.

Tekanan tersebut kemudian diturunkan secara bertahap sebelum gas digunakan oleh konsumen. Proses ini penting karena tekanan gas saat berada dalam moda transportasi jauh lebih tinggi dibandingkan tekanan yang dibutuhkan untuk penggunaan rumah tangga maupun pelanggan komersial.

Direktur Utama PT Gagas Energi Indonesia atau PGN Gagas, Santiaji Gunawan, menjelaskan CNG merupakan gas alam yang dikompresi, kemudian dibawa menggunakan kendaraan untuk disalurkan kepada pelanggan.

"Jadi, CNG itu kan memang compressed natural gas. Jadi, gas yang dikompres, kemudian dibawa oleh truk, kemudian disalurkan," ujar Santiaji di Yogyakarta, Rabu (19/8/2026).

Gas tersebut dapat berasal dari sumber gas yang berada jauh dari lokasi konsumen. Karena itu, CNG memungkinkan gas bumi menjangkau daerah yang belum memiliki jaringan pipa langsung dari sumber gas.

Salah satu contohnya adalah Yogyakarta. Wilayah ini tidak memiliki sumber gas yang dekat sehingga gas dapat dikirim dalam bentuk CNG menggunakan Gas Transport Module (GTM).

Mengapa Tekanannya Harus Tinggi?

Saat gas dikompresi, volumenya menjadi lebih kecil sehingga jumlah gas yang dapat dibawa dalam satu kendaraan menjadi lebih banyak.

GTM yang digunakan untuk mengangkut CNG memiliki tekanan sekitar 200 bar. Sebagai gambaran, tekanan ban kendaraan berat hanya beberapa bar.

Karena itu, gas yang berada dalam GTM tidak dapat langsung dialirkan ke rumah atau restoran.

Gas harus terlebih dahulu melewati fasilitas yang berfungsi menurunkan tekanan, yakni Pressure Regulating Station (PRS).

 

Dari 200 Bar Turun Jadi 3 Bar

Ketika GTM tiba di lokasi penyaluran, CNG kemudian dialirkan menuju Pressure Regulating Station (PRS).

Di fasilitas ini, tekanan gas diturunkan secara bertahap. Dari tekanan sekitar 200 bar, gas diturunkan menjadi sekitar 3 bar sebelum masuk ke jaringan distribusi.

Santiaji menjelaskan PRS menjadi salah satu bagian penting dalam sistem penyaluran CNG, terutama untuk skema jaringan klaster yang melayani rumah tangga.

"Diturunkan dulu pressure-nya dari 200 bar turun ke 3. Habis itu nanti dari sini ada pipa ke rumah-rumah tangga," jelasnya.

Setelah tekanannya turun menjadi sekitar 3 bar, gas kemudian dialirkan melalui jaringan pipa distribusi.

Untuk pelanggan rumah tangga, gas tidak langsung masuk ke kompor. Gas kembali melewati Regulating Station (RS).

Fungsi RS adalah menurunkan tekanan gas lebih lanjut sebelum masuk ke jaringan rumah tangga.

Dari sekitar 3 bar, tekanan gas diturunkan menjadi sekitar 0,3 bar.

Dengan demikian, perjalanan CNG dari GTM hingga jaringan rumah tangga mengalami penurunan tekanan secara bertahap, dari sekitar 200 bar menjadi 3 bar, kemudian sekitar 0,3 bar.

Masuk ke Rumah

Setelah melewati RS, gas kemudian dialirkan melalui jaringan menuju rumah pelanggan.

Di sisi pelanggan, terdapat meter rumah tangga yang dilengkapi regulator. Perangkat tersebut kembali mengatur tekanan gas sebelum digunakan pada peralatan memasak.

Dengan sistem tersebut, gas yang sampai ke kompor tidak lagi berada pada tekanan tinggi seperti ketika berada di dalam GTM.

"Jadi bisa dikatakan, tekanan yang sudah masuk ke kompor warga itu sudah tekanan akhir, dan siap digunakan," kata Santiaji.

PGN Gagas juga menyediakan regulator dalam sistem tersebut sehingga pelanggan tidak perlu menambahkan regulator seperti pada penggunaan LPG.

"Berbeda dengan LPG, yang mana masih membutuhkan regulator, kita tidak perlu tambahan regulator, karena sudah disediakan oleh PGN," ujarnya.

 

Bagaimana dengan Restoran dan Hotel?

Perjalanan CNG untuk pelanggan komersial seperti restoran, hotel, dan kafe sedikit berbeda dengan sistem jaringan rumah tangga.

Untuk pelanggan komersial dengan skema point-to-point, CNG dapat dikirim langsung menggunakan tabung ke lokasi pelanggan.

Tabung CNG kemudian ditempatkan di ruang khusus yang disebut gas room. Dari ruang tersebut, gas dialirkan melalui jaringan menuju dapur atau area penggunaan.

Santiaji menjelaskan gas tidak ditempatkan langsung di area kompor.

"Mereka itu tabung. Tabung itu ada gas room-nya sendiri. Nanti lihat ya, di restoran itu nanti ada gas room-nya sendiri, kemudian dari gas room itu nanti ada aliran, ada jaringan menuju kompor, kitchen," jelasnya.

Sistem tersebut digunakan untuk menjaga keamanan sekaligus mengatur distribusi gas di area pelanggan.

Untuk pelanggan dengan konsumsi besar, tabung CNG dapat ditempatkan secara permanen. Pengisian kembali dilakukan menggunakan sistem CTF sehingga pelanggan tidak harus terus-menerus mengganti tabung.

Sementara itu, untuk pelanggan dengan kebutuhan lebih kecil, sistem penggantian tabung masih dapat digunakan.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6