Bank Sentral Inggris Tahan Suku Bunga 3,75%

Bank of England atau Bank Sentral Inggris juga melihat harga energi masih tinggi ke depan.

Diterbitkan 30 Juli 2026, 19:38 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Bank of England atau Bank Sentral Inggris mempertahankan suku bunga acuan di 3,75%. Hal ini sesuai perkiraan ekonom. Komite Kebijakan Moneter bank sentral Inggris, yang bertugas menetapkan suku bunga, memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan yang secara resmi dikenal sebagai Bank Rate, melalui pemungutan suara dengan hasil 6 lawan 3.

Mengutip AP, Kamis, (30/7/2026), Anggota komite Megan Greene, Huw Pill, dan Catherine Mann adalah pihak yang berbeda pendapat, dengan memilih opsi kenaikan sebesar 25 basis poin (bps).

BoE menyatakan seluruh anggota sepakat bahwa risiko terhadap pergerakan harga energi masih cenderung mengarah pada kenaikan.  Keputusan untuk mempertahankan suku bunga ini telah banyak diperkirakan sebelumnya setelah tingkat inflasi utama Inggris turun menjadi 2,6% pada bulan Juni, angka terendah dalam 15 bulan terakhir.

Namun, Greene menyatakan, inflasi telah berada di atas target selama sekitar lima tahun. Ia menambahkan risiko pasokan tambahan, termasuk gangguan jalur pasokan energi kedua di Laut Merah dan kendala pasokan perangkat keras terkait kecerdasan buatan (AI) kini turut membebani pasar.

"Kenaikan Bank Rate yang proaktif dapat mengurangi kemungkinan terjadinya dampak putaran kedua (second-round effects)," ujar Greene.

Pill memperingatkan, ketidakpastian mendalam seputar prospek harga energi kemungkinan akan berlangsung lama dan dalam durasi yang tidak dapat dipastikan, sehingga upaya untuk menyesuaikan kondisi ekonomi secara presisi melalui kebijakan moneter menjadi berisiko.

"Oleh karena itu, langkah yang tepat adalah menaikkan Bank Rate saat ini. Langkah ini akan memangkas 'kebisingan' informasi dalam pergerakan harga komoditas dan aset, serta memberikan sinyal yang jelas dan tegas mengenai kesiapan dan kemampuan kami dalam menangani risiko kenaikan inflasi akibat peristiwa di kawasan Teluk," ia menambahkan.

"Hal ini akan menempatkan kami pada posisi terbaik untuk mengelola risiko terhadap target inflasi saat risiko tersebut muncul."

Nilai tukar mata uang pound menguat 0,08% terhadap dolar AS menjadi 1,3376 setelah keputusan tersebut diumumkan.

 

Kata Ekonom

Ekonom Aberdeen, Felix Feather mengatakan, bertambahnya jumlah anggota yang berbeda pendapat dari dua menjadi tiga orang menunjukkan bahwa kekhawatiran mengenai risiko inflasi kini mulai meluas di dalam komite. Hal ini meningkatkan kemungkinan kenaikan suku bunga jika inflasi tidak melandai lebih lanjut.

"Keputusan Bank of England untuk mempertahankan suku bunga kali ini memiliki nuansa yang sedikit lebih *hawkish* (cenderung mendukung pengetatan kebijakan) daripada yang diperkirakan," kata Feather.

Simon Dangoor, Wakil Kepala Pejabat Investasi untuk pendapatan tetap (fixed income) dan Kepala Investasi Makro Pendapatan Tetap di Goldman Sachs Asset Management, mengatakan bank sentral merasa nyaman untuk menahan diri "untuk saat ini," karena data inflasi yang menggembirakan membantu mengurangi kebutuhan akan tindakan segera. Namun, guncangan berkepanjangan di Timur Tengah dapat mengubah perhitungan tersebut, sehingga menjaga kemungkinan diadakannya pertemuan pada September tetap terbuka.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6