Target Bappenas: Indonesia Pengekspor Utama Produk Hilir Kelapa

Tinggalkan ekspor kelapa mentah, Bappenas pacu industri hilir demi jadikan Indonesia pemasok utama produk turunan kelapa di pasar global.

Diterbitkan 22 Juli 2026, 14:12 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas, Rachmat Pambudy, menegaskan komitmen pemerintah untuk memperkuat hilirisasi sektor perkelapaan. Langkah strategis ini ditempuh guna mendongkrak daya saing sekaligus meningkatkan nilai tambah komoditas perkelapaan nasional agar Indonesia sanggup menguasai rantai pasok global.

"Tidak hanya mencapai net export, tetapi juga kita menjadi pengekspor utama produk berbasis kelapa dengan industri turunannya sampai ke hilir, sehingga kita bisa mendapatkan nilai tambah setinggi-tingginya," kata Rachmat dalam webinar bertajuk Hilirisasi, Ungkit Nilai Tambah dan Daya Saing Kelapa Nasional di Jakarta, dikutip dari Antara, Rabu (22/7/72026).

Menurut Rachmat, penguatan industri hilir kelapa telah dimasukkan ke dalam pilar transformasi ekonomi dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) 2025–2045. Guna merealisasikan rencana tersebut, Bappenas pun telah merampungkan Peta Jalan Hilirisasi Kelapa 2025–2045.

Dalam dokumen perencanaan jangka panjang itu, kelapa ditempatkan sebagai komoditas strategis nasional yang diproyeksikan menjadi tulang punggung struktur manufaktur dan industri dalam negeri.

Guna mendukung percepatan perkelapaan nasional, Rachmat memaparkan bahwa arah kebijakan difokuskan pada pembentukan ekosistem industrialisasi terpadu. Hal ini mencakup ketersediaan skema pembiayaan, penguatan riset dan inovasi, pemenuhan standar mutu, hingga pemberian insentif usaha.

Di samping itu, pemerintah turut mengakselerasi peningkatan kapasitas produksi, ketersediaan energi, pengembangan sumber daya manusia (SDM), dan efisiensi rantai pasok demi memperkokoh daya saing di tingkat internasional.

Target Jangka Menengah

Dalam jangka menengah, eksekusi hilirisasi akan diprioritaskan pada peningkatan produktivitas lahan, keberagaman turunan produk, hingga optimalisasi utilisasi pabrik pengolahan kelapa secara berkelanjutan.

Rachmat menilai pengolahan turunan kelapa sangat mendesak untuk digenjot. Pasalnya, Indonesia saat ini menempati urutan kedua produsen kelapa terbesar dunia setelah Filipina, di tengah melesatnya tren permintaan global akan olahan kelapa untuk sektor pangan, kesehatan, kosmetik, tekstil, hingga energi terbarukan.

Berdasarkan data Himpunan Industri Pengolahan Kelapa Indonesia (HIPKI) yang dihimpun dari Kementerian Perdagangan, Kementerian Pertanian, Badan Pusat Statistik (BPS), dan International Coconut Community (ICC), produksi kelapa nasional pada 2025 diproyeksikan menembus 15 miliar butir atau setara 23% dari total produksi dunia.

HIPKI juga mencatat estimasi nilai ekspor dari sektor industri kelapa Indonesia berpotensi menyentuh angka US$ 2,48 miliar pada 2025.

Namun dari total hasil panen nasional tersebut, baru sekitar 60% (9 miliar butir) yang berhasil diserap oleh industri olahan lokal untuk diubah menjadi produk bernilai tambah seperti desiccated coconut, santan, dan kopra. Sementara sisanya, yaitu sekitar 26,7% atau 4 miliar butir, tercatat masih dikirim ke luar negeri dalam bentuk kelapa bulat mentah.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6