Bulog Evaluasi Produsen PT KMR Usai Temuan Minyakita Berbau Solar

Minyakita berbau solar dilaporkan ditemukan di sejumlah wilayah penerima bantuan pangan, antara lain Kabupaten Karanganyar, Klaten, dan Wonogiri, Jawa Tengah.

Diterbitkan 29 Juni 2026, 18:13 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

 

Liputan6.com, Jakarta - Direktur Utama Perum Bulog Ahmad Rizal Ramdhani meminta masyarakat yang membeli produk Minyakita diduga berbau solar untuk menukarkannya. Produk tersebut akan diganti dengan minyak goreng baru dari produsen, PT Kusuma Mukti Remaja (KMR).

Rizal menegaskan seluruh produk yang telah beredar di pasaran akan ditarik dan diganti dengan produk yang memenuhi standar kualitas. Langkah tersebut dilakukan agar masyarakat tidak dirugikan.

"Penggantinya langsung dari kami, minta dari KMR. Semua produk yang sudah beredar di pasar akan kami tarik dan diganti dengan yang baru, yang bersih, aman, dan sehat sehingga tidak merugikan masyarakat," ujar Rizal melansir Antara di Jakarta, Senin (29/6/2026).

Minyakita berbau solar dilaporkan ditemukan di sejumlah wilayah penerima bantuan pangan, antara lain Kabupaten Karanganyar, Klaten, dan Wonogiri, Jawa Tengah.

 

Ketika melakukan sidak ke PT KMR, Rizal mengakui jika menemukan lokasi packaging yang tidak higienis dan tidak sesuai dengan standar packaging Minyakita.

“Memang kondisi lokasi packaging-nya tidak higienis, tidak bersih, dan kondisinya menurut kami kurang layak untuk dijadikan tempat packaging Minyakita,” ujar Rizal.

Bulog pun sedang mengevaluasi PT KMR untuk sementara waktu dan menghentikan pengemasan Minyakita di PT KMR. “Kami rekomendasikan kepada packaging-packaging lain yang kira-kira lebih berkualitas, higienis, dan bisa dipertanggungjawabkan,” kata Rizal.

Ia pun telah memerintahkan penarikan seluruh produk Minyakita yang diduga berbau solar di sejumlah wilayah penerima bantuan pangan, antara lain Kabupaten Karanganyar, Klaten, dan Wonogiri, Jawa Tengah.

Selanjutnya, akan dilakukan pengujian laboratorium agar penyebabnya dapat dipastikan secara ilmiah dan menjadi dasar langkah berikutnya.

Bulog juga memastikan proses penarikan dilakukan secara cepat dan terkoordinasi bersama produsen serta pihak-pihak terkait. “Kami mengambil tindakan keras tanpa pandang bulu,” ujar Rizal.

Alasan Pemerintah Tahan Harga Eceran Minyakita Rp 15.700 per Liter

Pemerintah berkomitmen mempertahankan Harga Eceran Tertinggi (HET) Minyakita sebesar Rp 15.700 per liter. Hal ini dilakukan demi menjaga daya beli masyarakat di tengah meningkatnya biaya produksi akibat kenaikan harga minyak sawit dunia.

Ketersediaan minyak goreng dengan harga yang terjangkau bagi masyarakat jadi prioritas bagi Presiden Prabowo Subianto.

“Pemerintah telah menyatakan komitmennya untuk mempertahankan harga eceran tertinggi atau HET Minyakita di angka Rp15.700 per liter, meskipun biaya produksi meningkat akibat meningkatnya harga minyak sawit dunia. Bagi Presiden Prabowo, yang utama adalah tersedianya minyak goreng dengan harga yang terjangkau bagi masyarakat Indonesia,” ujar Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI Muhammad Qodari dalam keterangan resminya, dikutip Selasa (23/6/2026).

Qodari melanjutkan, pemerintah memahami harga kebutuhan pokok selalu menjadi perhatian utama masyarakat. Karena itu, stabilitas harga Minyakita menjadi penting.

“Pemerintah juga mendengar, melihat, dan memahami tantangan ekonomi yang dihadapi masyarakat saat ini, khususnya kelompok masyarakat yang rentan. Karena itu, pemerintah memutuskan untuk mempertahankan harga Minyakita,” katanya.

Ia menegaskan, langkah tersebut mencerminkan komitmen pemerintah yang menempatkan kesejahteraan rakyat sebagai prioritas utama. Selain menjaga harga tetap terjangkau, pemerintah juga berupaya memastikan ketersediaan pasokan Minyakita di pasar.

“Selain mempertahankan harga, pemerintah juga menegaskan bahwa distribusi Minyakita berfokus pada pasar rakyat. Pemerintah berkomitmen untuk terus memperkuat pengawasan distribusi dan efisiensi tata niaga Minyakita,” ujar Qodari.

 

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6