Intip Strategi Keuangan saat BI Rate Naik jadi 5,75%

Di tengah suku bunga acuan tinggi, perlu strategi keuangan bagi masyarakat dan UMKM seperti disiplin dalam keuangan.

Diterbitkan 20 Juni 2026, 19:50 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI Rate) menjadi 5,75% pada Juni 2026 dinilai menjadi momentum bagi masyarakat dan pelaku usaha untuk meninjau ulang strategi keuangan. Di tengah kondisi ekonomi yang masih dibayangi ketidakpastian global dan domestik, menjaga likuiditas dan daya beli dinilai lebih penting dibanding sekadar mengejar pertumbuhan aset.

Konselor Keuangan, Andreas Freddy Pieloor mengatakan, kenaikan suku bunga umumnya menguntungkan instrumen investasi berbasis pendapatan tetap seperti deposito, tabungan berjangka, maupun sejumlah obligasi pemerintah. Sebaliknya, pasar saham masih menghadapi tekanan akibat berbagai faktor ekonomi yang belum sepenuhnya stabil. Meski demikian, menurut Freddy, kondisi tersebut tetap membuka peluang bagi investor jangka panjang yang memiliki disiplin dan kesabaran dalam berinvestasi.

“Fokus saat ini bukan hanya mencari keuntungan tertinggi, tetapi memastikan nilai kekayaan tidak tergerus oleh inflasi,” ujar Freddy kepada Liputan6.com, Sabtu (20/6/2026).

Ia menekankan, pentingnya diversifikasi investasi agar dana tidak terpusat pada satu instrumen. Komposisi portofolio, lanjutnya, perlu disesuaikan dengan profil risiko, tujuan keuangan, usia, kebutuhan likuiditas, hingga kemampuan finansial masing-masing individu.

Selain mencermati pergerakan suku bunga, masyarakat juga diminta lebih memperhatikan kenaikan biaya hidup yang benar-benar dirasakan sehari-hari.

Meski inflasi nasional masih berada dalam kisaran yang terkendali berdasarkan data pemerintah dan Bank Indonesia, banyak rumah tangga menghadapi kenaikan harga kebutuhan pokok, biaya pendidikan, kesehatan, hingga transportasi. Karena itu, Freddy menyarankan, masyarakat menghitung “inflasi pribadi” dengan membandingkan total pengeluaran bulanan saat ini dengan periode yang sama tahun sebelumnya.

 

 

Menahan Diri

Cara tersebut dinilai dapat memberikan gambaran yang lebih realistis mengenai kondisi keuangan keluarga dibanding hanya mengacu pada angka inflasi nasional. Dalam situasi suku bunga tinggi, pengendalian pengeluaran juga menjadi kunci.

Andreas mengingatkan, agar masyarakat menahan diri dari belanja konsumtif yang tidak direncanakan dan lebih selektif dalam mengambil keputusan pengeluaran. “Setiap pembelian perlu dipertimbangkan kembali, apakah benar-benar dibutuhkan, bisa ditunda, atau justru memberikan manfaat jangka panjang,” katanya.

Strategi untuk Pelaku UMKM

Bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), kenaikan BI Rate berpotensi meningkatkan biaya pembiayaan karena bunga pinjaman modal kerja maupun kredit investasi menjadi lebih mahal. Karena itu, pengelolaan arus kas harus dilakukan secara lebih disiplin untuk menghindari tekanan likuiditas. Freddy juga mengingatkan pentingnya mengantisipasi kewajiban perpajakan.

Dia menilai, tidak sedikit usaha yang mengalami masalah arus kas bukan karena merugi, melainkan karena tidak menyiapkan dana untuk membayar pajak saat jatuh tempo.

“Dana pajak sebaiknya langsung dipisahkan ketika pendapatan diterima, bukan menunggu mendekati waktu pembayaran,” ujarnya.

Ia menegaskan, kenaikan BI Rate tidak perlu disikapi dengan kepanikan. Sebaliknya, kondisi ini menjadi pengingat untuk kembali menjalankan prinsip-prinsip dasar keuangan yang sehat, mulai dari menjaga dana darurat, mengendalikan utang, berinvestasi secara terdiversifikasi, hingga memastikan seluruh kewajiban keuangan dipenuhi tepat waktu.

“Dalam situasi yang penuh ketidakpastian, disiplin keuangan sering kali jauh lebih penting dibanding kemampuan memilih instrumen investasi yang paling menguntungkan,” kata Freddy.

 

 

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6