Harga Emas Dunia Turun Usai The Fed Tahan Suku Bunga

Harga emas dunia turun lebih dari 1% setelah The Fed mempertahankan suku bunga dan menegaskan komitmen menjaga inflasi di Amerika Serikat.

Diterbitkan 18 Juni 2026, 07:20 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Harga emas dunia merosot pada perdagangan Rabu (17/6/2026) setelah Federal Reserve (The Fed) memutuskan mempertahankan suku bunga acuan. Keputusan tersebut merupakan kebijakan moneter pertama yang diambil di bawah kepemimpinan Ketua The Fed yang baru, Kevin Warsh.

Mengutip CNBC, Kamis (18/6/2026), harga emas spot tercatat turun 1,03% menjadi US$ 4.285,52 per ons. Sementara itu, kontrak emas berjangka AS untuk pengiriman Agustus melemah 0,84% ke level US$ 4.317,8 per ons.

Pelaku pasar mencerna hasil rapat Federal Open Market Committee (FOMC) yang memutuskan mempertahankan suku bunga acuan pada kisaran 3,5%-3,75%.

"Dalam mendukung mandat ganda Federal Reserve, Komite memutuskan untuk mempertahankan kisaran target suku bunga federal funds rate pada 3,5 persen hingga 3,75 persen," tulis FOMC dalam pernyataannya.

Selain mempertahankan suku bunga, The Fed juga menegaskan bahwa tekanan inflasi masih berada di atas target bank sentral.

"Inflasi tetap tinggi dibandingkan target 2 persen Komite, sebagian mencerminkan guncangan pasokan yang telah mendorong kenaikan harga di sejumlah sektor, termasuk energi. Komite akan mewujudkan stabilitas harga," lanjut pernyataan tersebut.

Pernyataan tersebut memperkuat ekspektasi pasar bahwa The Fed belum terburu-buru melonggarkan kebijakan moneternya. Bahkan, sejumlah investor mulai mempertimbangkan kemungkinan kenaikan suku bunga apabila inflasi tidak segera kembali menuju target 2%.

Kondisi itu membuat daya tarik emas sebagai aset tanpa imbal hasil (non-yielding asset) berkurang, sehingga memicu aksi jual yang menekan harga logam mulia tersebut.

Proyeksi Suku Bunga Berubah

Dalam proyeksi terbaru, pejabat The Fed menghapus perkiraan sebelumnya yang menunjukkan kemungkinan pemangkasan suku bunga pada tahun ini. Sebaliknya, mayoritas anggota kini melihat peluang kenaikan suku bunga masih terbuka.

Namun, terdapat satu hal yang tidak biasa. Dari total 19 anggota yang berhak memberikan proyeksi, hanya 18 yang mengirimkan pandangannya. Sosok yang absen adalah Ketua The Fed sendiri, Kevin Warsh.

Warsh memang dikenal sebagai pengkritik dot plot dan berbagai bentuk panduan kebijakan (forward guidance) yang selama ini digunakan bank sentral.

"Saya tidak mengirimkan dot untuk diri saya sendiri," kata Warsh dalam konferensi pers setelah keputusan diumumkan.

Warsh juga mengungkapkan bahwa dirinya sedang membentuk sejumlah gugus tugas untuk melakukan pembaruan terhadap berbagai aspek operasional utama The Fed.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6