Liputan6.com, Jakarta - Jerome Powell mengakhiri masa jabatannya sebagai Ketua Federal Reserve (The Fed) pada 15 Mei 2026. Ia menjabat sebagai Ketua ke-16 sejak 5 Februari 2018, melewati periode ekonomi yang penuh gejolak. Masa kepemimpinannya ditandai dengan berbagai kebijakan penting dalam menghadapi tantangan global.
Meskipun demikian, Powell tidak sepenuhnya meninggalkan bank sentral Amerika Serikat. Ia akan tetap bertugas sebagai gubernur di Dewan Gubernur Federal Reserve selama dua tahun ke depan, dengan masa jabatan sebagai anggota dewan yang baru akan berakhir pada 31 Januari 2028.
Jerome Powell memulai babak kepemimpinannya sebagai Ketua The Fed pada awal 2018, mengambil alih kemudi bank sentral di tengah lanskap ekonomi yang dinamis. Masa jabatan pertamanya berakhir pada Mei 2022, tetapi mantan Presiden Joe Biden kembali menominasikannya pada November 2021, kemudian disetujui Senat pada Mei 2022 untuk masa jabatan kedua.
Advertisement
Selama delapan tahun kepemimpinannya, Powell menghadapi berbagai tantangan ekonomi yang signifikan. Mulai dari mengelola kebijakan moneter di tengah pandemi COVID-19, mengatasi lonjakan inflasi yang terjadi pada 2021–2023, hingga menghadapi ketidakstabilan perdagangan global yang terus berlanjut.
Mengutip abcnews.com, Jumat, (15/5/2026), selama menduduki posisi ketua the Fed, Jerome Powell telah menghadapi dua presiden, tiga menteri Keuangan dan 66 keputusan suku bunga.
Ketika Trump menominasikan Powell untuk menjadi ketua Fed, Trump menggambarkannya sebagai "pembangun konsensus" yang "memahami apa yang dibutuhkan agar ekonomi tumbuh."
Powell, mantan bankir investasi dan pejabat Departemen Keuangan di bawah Presiden George H.W. Bush, mengambil peran tersebut pada 2018. Pada saat itu, ekonomi sedang berkembang pesat, tingkat pengangguran berada pada level terendah dalam sejarah, dan inflasi hanya sedikit di atas target Fed sebesar 2%.
Perjalanan Kepemimpinan Jerome Powell di The Fed
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5534658/original/043425000_1773877349-AP26077701489781.jpg)
Powell menaikkan suku bunga empat kali pada tahun pertama, memberikan tekanan pada pasar saham tetapi menempatkan Fed pada posisi untuk menstimulasi ekonomi dengan pemotongan suku bunga jika terjadi perlambatan. Para pembuat kebijakan tidak perlu menunggu lama.
Pada awal 2020, pandemi COVID-19 membuat puluhan juta warga Amerika Serikat menjalani karantina wilayah, menghentikan bisnis di berbagai industri seperti restoran dan perhotelan, sementara sebagian besar angkatan kerja kehilangan pekerjaan.
Pada pertemuan darurat pada Maret 2020, Powell memangkas suku bunga hingga mendekati nol dalam upaya untuk menstimulasi ekonomi yang terpuruk.
“Keluarga, bisnis, sekolah, organisasi, dan pemerintah di semua tingkatan mengambil langkah-langkah untuk melindungi kesehatan masyarakat. Langkah-langkah ini, yang penting untuk menahan wabah, bagaimanapun juga akan berdampak pada aktivitas ekonomi dalam jangka pendek,” kata Powell kepada wartawan saat itu.
Tingkat pengangguran melonjak dari 4,4% pada Maret menjadi 14,7% pada April, menurut data Biro Statistik Tenaga Kerja AS.
Untuk mempercepat pemulihan, pemerintah AS memberlakukan stimulus ekonomi yang dimaksudkan untuk mendukung orang-orang yang kehilangan pekerjaan atau menghadapi kesulitan lainnya. Bersamaan dengan suku bunga rendah, pengeluaran tersebut membantu mempercepat pemulihan ekonomi dari kemerosotan.
Resesi COVID-19 hanya berlangsung selama dua bulan, menjadikannya resesi terpendek dalam sejarah AS, menurut Biro Riset Ekonomi Nasional.
Profesor Universitas Princeton dan mantan wakil ketua the Fed, Alan Blinder menuturkan, pemulihan yang cepat tersebut membenarkan keputusan Fed untuk memangkas suku bunga, meskipun itu bukanlah pilihan yang sulit.
"Penurunan suku bunga hingga ke titik terendah adalah hal yang perlu dan tepat, dan dalam arti sebenarnya, sudah jelas,” kata Blinder kepada abcnews.com.
Namun, inflasi akut segera terjadi, muncul sebagai akibat dari kekurangan pasokan yang disebabkan oleh pandemi COVID-19 dan diperparah oleh perang Rusia-Ukraina. Powell awalnya meremehkan kenaikan harga, menggambarkannya sebagai "sementara." Ini terbukti sebagai kesalahan yang berakibat fatal, dan Powell kemudian mengakui kesalahannya.
Inflasi tahunan mencapai puncaknya pada level tertinggi 40 tahun sebesar 9,1% pada Juni 2022. Saat itu, Powell telah mulai menaikkan suku bunga dan akan berlanjut selama tahun berikutnya. Serangkaian kenaikan suku bunga yang agresif menempatkan suku bunga acuan bank sentral pada level tertinggi sejak 2001. Langkah ini menyebabkan suku bunga hipotek dan kartu kredit melonjak.
Pada Juni 2023, inflasi tahunan telah anjlok menjadi 3%, tetapi masyarakat Amerika tetap tidak puas dengan kenaikan harga dalam jangka waktu yang lama setelahnya. Banyak ekonom memperkirakan resesi dan jenis kehilangan pekerjaan yang biasanya menyertainya. Untungnya, resesi tersebut tidak pernah terjadi.
Advertisement
Kebijakan Moneter di Bawah Jerome Powell: Inflasi dan Suku Bunga
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5534655/original/018293700_1773877266-AP26077686498445.jpg)
Salah satu tantangan terbesar yang dihadapi Jerome Powell adalah lonjakan inflasi yang signifikan antara tahun 2021 hingga 2023, dipicu oleh berbagai faktor termasuk gangguan rantai pasok dan stimulus fiskal masif. The Fed di bawah kepemimpinannya merespons dengan serangkaian kenaikan suku bunga agresif untuk mendinginkan ekonomi dan mengendalikan kenaikan harga. Keputusan ini sering kali menuai pro dan kontra dari berbagai pihak.
Powell juga menghadapi tekanan politik yang intens, terutama dari Presiden Donald Trump, yang berulang kali mendesak The Fed untuk menurunkan suku bunga. Namun, Jerome Powell dengan tegas menolak campur tangan politik, menegaskan independensi bank sentral dalam membuat keputusan moneter. Ia menyebut tuduhan tekanan eksternal sebagai "serangan murahan" yang tidak berdasar.
Dalam berbagai kesempatan, Jerome Powell menekankan kebijakan moneter AS tidak berjalan di jalur yang sudah ditentukan, melainkan sepenuhnya bergantung pada data ekonomi terbaru. Ia menyatakan The Fed tidak akan terburu-buru memangkas suku bunga acuan karena kinerja ekonomi AS yang kuat. Keputusan ini mencerminkan pendekatan hati-hati dan berbasis bukti.
Pada pertemuan terakhirnya sebagai Ketua The Fed, yang berlangsung pada 29 April 2026, The Fed memutuskan untuk mempertahankan suku bunga di kisaran 3,5%-3,75%. Keputusan ini menunjukkan adanya perpecahan yang tidak biasa di antara para pembuat kebijakan, mencerminkan kompleksitas situasi ekonomi saat itu. Powell menggambarkan potensi pemangkasan suku bunga sebagai "pemangkasan berbasis manajemen risiko" untuk mengantisipasi pelemahan pasar tenaga kerja, bukan awal dari siklus pelonggaran yang luas.
Latar Belakang dan Transisi Kepemimpinan The Fed
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5534659/original/001483300_1773877393-AP26077701823643.jpg)
Jerome Hayden "Jay" Powell, lahir pada 4 Februari 1953 di Washington, D.C., membawa latar belakang yang unik ke pucuk pimpinan The Fed. Dengan pendidikan di bidang politik dari Universitas Princeton dan gelar Juris Doctor (JD) dari Georgetown University Law Center, ia menjadi Ketua Federal Reserve pertama dalam 40 tahun terakhir yang tidak memiliki gelar sarjana ekonomi. Pengalamannya di bidang hukum dan perbankan investasi membentuk perspektifnya dalam kebijakan ekonomi.
Latar belakang non-ekonominya seringkali menjadi sorotan, namun Powell membuktikan kemampuannya dalam menavigasi kompleksitas kebijakan moneter dan keuangan global. Kemampuannya untuk berkomunikasi secara jelas dan transparan tentang keputusan The Fed juga menjadi ciri khas kepemimpinannya. Ia berhasil membangun konsensus di antara anggota dewan gubernur dan menjelaskan kebijakan kepada publik.
Dengan berakhirnya masa jabatan Jerome Powell sebagai Ketua, tongkat estafet kepemimpinan The Fed kini beralih. Kevin Warsh telah dikonfirmasi sebagai Ketua Federal Reserve pada 13 Mei 2026. Transisi ini menandai babak baru bagi bank sentral Amerika Serikat, yang akan terus menghadapi tantangan ekonomi domestik dan global di bawah kepemimpinan yang baru.
Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6
Advertisement
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8261063/original/026293200_1781677316-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-06-17T130056.370.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8682083/original/077005500_1782732215-dedi_mulyadi_-_cek_fakta.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5495122/original/083308700_1770356146-Menteri_Keuangan__Menkeu__Purbaya_Yudhi_Sardewa-6_Februari_2026b.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5537107/original/075541100_1774410122-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-03-25T095300.861.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5353799/original/001546500_1758181680-AP25260711812553.jpg)

:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8256534/original/027399300_1781161052-Vertical_500x656_-_Pentas_Bola_Dunia_2026__3_.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8711341/original/045734100_1782792164-IMG-20260630-WA0021.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8263744/original/028849200_1781996788-AP26171656106233.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8309790/original/022314100_1782176318-000_B7XQ8ZR.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8703035/original/020989500_1782776197-IMG-20260630-WA0006.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/7814803/original/065180300_1780632434-raul-jimenez-meksiko-1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8513569/original/057945500_1782437405-063_2283345869.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8259216/original/078310400_1781491972-AP26165670492100.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8525155/original/017274300_1782455154-AP26176798846634.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8693587/original/054340800_1782757524-063_2283889620.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8692722/original/034513200_1782755867-000_B8PJ7CN.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8263380/original/090952300_1781922466-AP26171045705794-Brasil_vs_Haiti.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5415752/original/060786800_1763419826-000_84BP8PA.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4826293/original/061766900_1715176240-fotor-ai-20240508204951.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4826292/original/095830100_1715176226-fotor-ai-20240508204955.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4282588/original/045207500_1672910856-Imbas_potensi_perlambatan_ekonomi_nilai_rupiah_melemah_terhadap_dollar-ANGGA_7.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4282582/original/062080800_1672910733-Imbas_potensi_perlambatan_ekonomi_nilai_rupiah_melemah_terhadap_dollar-ANGGA_2.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3291093/original/097460500_1604903000-20201109-Donald-Trump-Kalah-Pilpres-AS_-Rupiah-Menguat-7.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8309642/original/052722800_1782176035-AP26173542858845.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8280249/original/046268600_1782136873-download.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4013695/original/083702900_1651632388-000_329D9V2.jpg)