Biaya Produksi Naik, Tapi Pengusaha Cenderung Tahan Harga

Perusahaan menahan kenaikan harga produk karena khawatir daya beli masyarakat melemah di tengah kenaikan biaya dan harga minyak dunia.

Diterbitkan 13 Mei 2026, 21:10 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Kondisi ekonomi Indonesia pada kuartal I-2026 dinilai masih cukup positif. Namun, pelaku usaha mulai menunjukkan sikap waspada, terutama terkait daya beli masyarakat di tengah kenaikan biaya produksi dan harga minyak dunia.

Indonesia’s Head of Research DBS Group, William Simadiputra, mengatakan sejumlah perusahaan masih mencatat pertumbuhan dua digit secara tahunan, terutama didorong momentum Ramadan dan Lebaran.

Meski demikian, banyak perusahaan memilih menahan kenaikan harga jual produk karena khawatir berdampak pada penurunan penjualan.

"Jadi beberapa company kalau yang kita berbicara mereka mungkin akan lebih berhati-hati dalam melakukan kenaikan harga atau menaikan selling price karena takut berdampak terhadap penjualan atau volume penjualan," kata William dalam acara Outlook Ekonomi Indonesia dan Prospek Sektor Unggulan DBS secara daring, Rabu (13/5/2026).

Menurut dia, dampak kenaikan harga minyak dunia terhadap konsumsi masyarakat memang belum sepenuhnya terlihat pada kuartal I-2026. Namun, pelaku usaha mulai mengantisipasi tekanan terhadap daya beli yang diperkirakan lebih terasa pada kuartal II-2026.

"Apakah sebenarnya harga bahan bakar ini menekan misalnya kantong consumer pada umumnya. Itu merupakan jadi salah satu pertimbangan juga dari para company di Indonesia itu cukup cautious (waspada)," ujarnya.

 

Mencari Strategi Baru

William menambahkan, perusahaan konsumer kini juga mulai menghadapi kenaikan biaya produksi, terutama dari komponen kemasan berbahan plastik yang mulai mengalami kenaikan harga.

Karena itu, banyak perusahaan mulai mencari strategi baru agar produk tetap diminati konsumen tanpa harus menaikkan harga terlalu tinggi.

"Misalnya mencari inovasi produk yang mungkin lebih affordable tanpa harus mengurangi kualitas produk atau mengurangi kualitas dari komposisi komponen makanan sehat dari suatu produk contohnya," jelasnya.

Di sisi lain, DBS menilai ekonomi Indonesia masih memiliki modal yang cukup kuat untuk menghadapi tekanan global.

William menyebut kondisi perbankan nasional masih relatif sehat dengan pertumbuhan kredit yang tetap tinggi, didorong belanja pemerintah dan aktivitas ekonomi domestik.

"Perbankan di Indonesia ini masih cukup resilient ya, di mana kita lihat pertumbuhan loan itu masih cukup tinggi, di mana ini berkaitan dengan program-program spending dari pemerintah," tuturnya.

Menurut dia, pertumbuhan ekonomi positif pada awal tahun dapat menjadi bantalan bagi Indonesia jika tekanan ekonomi global dan harga minyak dunia semakin meningkat dalam beberapa bulan mendatang.

Selain itu, kualitas aset perbankan nasional juga disebut masih berada dalam kondisi sehat dan belum menunjukkan tanda tekanan signifikan.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6