Harga Pangan Hari Ini 8 Mei 2026: Cabai Merah Tembus Rp 52.850 per Kg

Harga pangan seperti harga cabai rawit merah mencapai Rp 52.850 per kg pada Jumat, (8/5/2026). Berikut harga pangan lainnya.

Diterbitkan 08 Mei 2026, 11:32 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Harga pangan seperti harga cabai rawit merah tembus Rp 52.850 per kilogram (kg) pada Jumat, (8/5/2026) pukul 09.00 WIB. Sementara itu, harga telur ayam ras Rp 31.450 per kg.

Demikian ditunjukkan dari Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) Nasional yang dikelola Bank Indonesia dikutip dari Antara.

Selain harga cabai rawit merah, harga cabai merah besar tembus Rp 53.800 per kg, cabai merah keriting Rp 48.000 per kg dan cabai rawit hijau Rp 31.450 per kg.

Selain itu, berdasarkan data dari PIHPS, harga bawang merah di harga Rp 48.700 per kg dan bawang putih Rp 39.450 per kg. Kemudian beras kualitas bawah I di harga Rp 14.450 per kg, beras kualitas bawah II Rp 14.150 per kg. Sedangkan beras kualitas medium I Rp 15.400 per kg dan beras kualitas medium II di harga Rp 15.500 per kg. Selanjutnya beras kualitas super I di harga Rp 16.700 per kg dan beras kualitas super II Rp 16.250 per kg.

Lalu daging ayam ras segar Rp35.600 per kg, daging sapi kualitas I Rp 145.650 per kg, daging sapi kualitas II di harga Rp 141.650 per kg.

Harga komoditas berikutnya yakni gula pasir kualitas premium tercatat Rp 21.450 per kg, gula pasir lokal Rp 18.800 per kg.

Sementara itu, minyak goreng curah di harga Rp 18.950 per liter, minyak goreng kemasan bermerek I di harga Rp 23.100 per liter, serta minyak goreng kemasan bermerek II di harga Rp 22.550 per liter

 

Rupiah Tembus 17.400 per Dolar AS, Awas Harga Pangan hingga Elektronik Meroket

Sebelumnya, pengamat ekonomi Ibrahim Assu’aibi, menilai pelemahan rupiah yang telah menembus level Rp 17.400 per dolar Amerika Serikat mulai terasa langsung di kantong masyarakat.

Kenaikan harga berbagai kebutuhan pokok hingga barang elektronik menjadi sinyal nyata bahwa tekanan eksternal kini merambat ke kehidupan sehari-hari.

Ia menilai, kombinasi gejolak global dan lonjakan harga minyak dunia menjadi pemicu utama lonjakan harga di dalam negeri. Kondisi ini diperparah dengan ketergantungan Indonesia terhadap barang impor.

"Nah, dampak terhadap masyarakat Indonesia gimana? Pada saat harga rupiah mengalami pelemahan, minyak mentah mengalami kenaikan, dampaknya cukup luar biasa. Kita lihat bahwa hari ini harga-harga semua mengalami kenaikan yang cukup signifikan," kata Ibrahim kepada Liputan6.com, Selasa (5/5/2026).

Seiring melemahnya nilai tukar, harga sejumlah komoditas pangan mengalami kenaikan signifikan. Produk berbasis impor seperti kedelai dan gandum menjadi yang paling terdampak karena transaksi menggunakan dolar AS.

"Kita melihat bahwa barang-barang impor, elektronik, pupuk, kemudian komoditas, kacang kedelai, kemudian gandum, ya inipun juga mengalami kenaikan. Harga plastik mengalami kenaikan dan ini dampaknya cukup luar biasa," ujarnya.

 

PMI Manufaktur Indonesia Merosot

Di sisi lain, sektor manufaktur juga mulai tertekan. Data Purchasing Managers’ Index (PMI) yang berada di bawah level 50 menunjukkan adanya kontraksi, yang menandakan aktivitas industri mengalami perlambatan akibat mahalnya bahan baku impor.

"Kita melihat sudah di bawah 50, artinya ini mengindikasikan bahwa impor-impor barang dari luar negeri mengalami tekanan karena harganya mahal kemudian barangnya tidak ada, sehingga membuat manufaktur di Indonesia mengalami penurunan. Nah ini dampaknya sudah terlihat," ujarnya.

Menurut Ibrahim, situasi ini menjadi tantangan bagi pemerintah dalam menjaga stabilitas ekonomi domestik. Terlebih, kenaikan harga minyak dunia yang dipicu konflik di kawasan Selat Hormuz turut memperbesar tekanan inflasi.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6