Makanan Jemaah Haji Dijamin Aman, Indonesia Bisa Kirim Makanan Siap Santap

Menko Bidang Pangan Zulkifli Hasan menuturkan, makanan siap santap disebut sudah mampu diproduksi oleh UMKM di Indonesia.

Diterbitkan 21 April 2026, 17:30 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Menteri Koordinator (Menko) Bidang Pangan, Zulkifli Hasan memastikan kebutuhan makanan jemaah haji asal Indonesia aman. Rencananya ada pasokan khusus yang dikirim ke Tanah Suci selama pelaksanaan ibadah haji.

Zulkifli memastikan pasokan makanan nagi jemaah haji RI tetap terjamin di tengah kondisi geopolitik global, utamanya ketegangan di Timur Tengah.

"Walaupun ada di sana geopolitik seperti itu, tapi jemaah haji soal makan enggak usah khawatir, ada makanan siap saji, ada makanan di sana. Insya Allah cukup, lengkap, tidak kurang apapun. Makanan aman untuk jemaah haji Indonesia," ungkap Zulkifli di Kantor Kemenko Pangan, Jakarta, Selasa (21/4/2026).

Dia juga mengupayakan mengirim makanan siap santap dari Indonesia untuk memenuhi kebutuhan jemaah haji di Tanah Suci. Makanan siap santap itu disebut sudah mampu diproduksi oleh UMKM di Indonesia.

Sejalan dengan rencana tersebut, Zulkifli bilang, Menteri Perdagangan Budi Santoso sudah meneken nota kesepahaman (MoU) untuk mengirimkan makanan jemaah haji RI.

"Kita bisa ngirim makanan ke jemaah kita, bebas, masih makan ke jemaah kita bebas, enggak dipersulit dari Arab Saudi-nya, lagi tandatangan MoU," ujar dia.

Zulkifli mengatakan, syaratnya, makanan itu tidak untuk perdagangkan di Arab Saudi, tetapi khusus bagi konsumsi jemaah haji di sana. "Kalau ini untuk jemaah kita saja, kita boleh, sesuai dengan syarat kita. Misalnya ada yang halal, ada yang ini. Itu sesuai dengan pesananan kita, kita boleh," beber dia.

 

 

Pemerintah Sudah Mulai Ekspor

Pemerintah mulai mengekspor bumbu Indonesia dan makanan siap saji alias Ready to Eat (RTE) ke Arab Saudi untuk mendukung kebutuhan jemaah haji 2026. Langkah ini dianggap sebagai upaya konkret membuka akses UMKM ke pasar global, sekaligus memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok penyelenggaraan haji dan umrah.

Direktorat Jenderal Pengembangan Ekosistem Ekonomi Haji dan Umrah (Ditjen PE2HU) mengawal langsung pengiriman perdana tersebut. Sebanyak 100 ton logistik diberangkatkan dari Gudang Lini Garuda di Bandara Soekarno-Hatta pada Kamis, 2 April 2026 dan akan dikirim secara bertahap hingga Senin, 6 April 2026, menurut rilis pada Liputan6.com, Kamis.

Total kebutuhan dari dua vendor mencapai 230 ton, dengan sisa pengiriman masih dalam proses penjadwalan. Direktur Jenderal PE2HU, Jaenal Effendi, menegaskan pemerintah ingin memastikan ekosistem haji tidak hanya berfokus pada layanan ibadah, namun juga memberi dampak ekonomi nyata bagi pelaku usaha dalam negeri.

 

Bumbu Instan dan Makanan Siap Saji

Produk yang diekspor meliputi bumbu instan dan makanan siap saji yang telah melalui proses standardisasi ketat, klaimnya, mulai dari kualitas, ketahanan produk, hingga sertifikasi halal yang diakui secara internasional.

Pengiriman ini juga menjadi uji coba sistem logistik nasional. Pemerintah memastikan seluruh proses—dari produksi, pengemasan, hingga distribusi—berjalan efisien dan tepat waktu.

PT Pos Indonesia berperan dalam pengelolaan rantai pasok, sementara Garuda Indonesia mendukung distribusi melalui jalur udara, sehingga tercipta ekosistem terintegrasi dari hulu hingga hilir, mulai dari petani rempah hingga produk siap konsumsi di tangan jemaah

Masuk Pasar Arab Saudi

Jaenal mengatakan, program ini tidak hanya memenuhi kebutuhan konsumsi jemaah haji, tapi juga jadi bagian dari peningkatan kapasitas industri dalam negeri. "Ini menjadi test run untuk memastikan produk Indonesia mampu memenuhi standar Arab Saudi, sekaligus mendorong efisiensi dan mengurangi ketergantungan impor," ujarnya.

Ke depan, pemerintah mendorong lebih banyak UMKM terlibat dalam ekosistem ini. Dengan strategi tersebut, Indonesia tidak hanya berperan sebagai pengirim jemaah, tapi juga sebagai pemasok produk bernilai tambah.

Langkah ini diharapkan memperkuat kemandirian ekonomi nasional, membuka peluang ekspor berkelanjutan, serta memperluas pasar produk lokal di tingkat global.

Selain itu, keberhasilan program ini nantinya dapat jadi model pengembangan logistik haji ke depan yang lebih efisien, terintegrasi, dan mampu memberi manfaat ekonomi yang lebih luas bagi berbagai sektor terkait.

 

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6