Harga Emas Antam Hari Ini 2 April 2026 Lebih Mahal Rp 20.000, Cek Rinciannya di Sini

Berikut daftar lengkap harga emas PT Aneka Tambang Tbk (Antam) yang melonjak Rp 20.000 pada Kamis, (2/4/2026).

Diterbitkan 02 April 2026, 09:29 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Harga emas PT Aneka Tambang Tbk (Antam) atau harga emas Antam hari ini, Kamis, 2 April 2026 kembali lanjutkan penguatan. Harga emas Antam hari ini lebih mahal Rp 20.000, usai turun pada Senin dan Selasa. Dengan demikian, harga emas Antam dalam dua hari naik Rp 95.000.

Mengutip laman logammulia.com, Kamis (2/4/2026), harga emas antam hari ini ditetapkan Rp 2.922.000 per gram. Pada perdagangan sebelumnya, harga emas Antam dibanderol Rp 2.902.000 per gram.

Demikian juga harga buyback emas Antam hari ini ikut melesat. Harga buyback emas Antam menguat lebih besar yakni Rp 50.000 menjadi Rp 2.637.000.

Untuk diketahui, harga buyback ini adalah jika Anda akan menjual emas, Antam akan membelinya di harga Rp 2.637.000 gram.

Sebagai informasi, harga emas Antam mencetak rekor tertinggi sepanjang sejarah pada Kamis 29 Januari 2026 di harga Rp 3.168.000 per gram. Sedangkan harga buyback emas Antam di angka Rp 2.989.000 per gram.

Informasi mengenai harga emas Antam ini bersumber dari situs resmi Logam Mulia, unit bisnis PT Aneka Tambang Tbk. Dengan demikian, data yang disajikan memiliki akurasi dan kredibilitas yang tinggi bagi publik.

Daftar Harga Emas Antam

Berikut daftar harga emas Antam hari ini Kamis, 2 April 2026:

  • Harga emas 0,5 gram: Rp 1.511.000⁠
  • Harga emas 1 gram: Rp 2.922.000
  • Harga emas 2 gram: Rp 5.794.000
  • Harga emas 3 gram: Rp 8.673.000
  • Harga emas 5 gram: Rp 14.425.000
  • Harga emas 10 gram: Rp 28.770.000
  • Harga emas 25 gram: Rp 71.760.000
  • Harga emas 50 gram: Rp 143.355.000
  • Harga emas 100 gram: Rp 286.560.000
  • Harga emas 250 gram: Rp 716.090.000
  • Harga emas 500 gram: Rp 1.431.900.000
  • Harga emas 1.000 gram: Rp 2.862.600.000.    

Harga Emas Dunia

Sebelumnya, harga emas dunia menguat untuk sesi keempat berturut-turut pada Rabu, 1 April 2026. Lonjakan harga emas seiring dolar Amerika Serikat (AS) melemah dan aset berisiko lainnya menguat karena harapan sementara konflik di Timur Tengah akan mereda.

Mengutip CNBC, Kamis (2/4/2026), harga emas di pasar spot naik 2,5% menjadi USD 4.784,22 per ounce, tertinggi sejak 19 Maret 2026. Kontrak berjangka emas Amerika Serikat ditutu naik 2,9% menjadi USD 4.813,10.

Dolar AS turun untuk hari kedua berturut-turut, membuat emas batangan yang dihargai dolar AS lebih menarik bagi pemegang mata uang lainnya.

“Harga emas bisa kembali naik di atas USD 5.000 per ounce jika kita berada di jalur menuju de-eskalasi, karena ekspektasi penurunan suku bunga bisa kembali muncul,” ujar Senior Market Strategist RJO Futures, Bob Haberkorn.

“Fokusnya adalah pada Iran dan Selat Hormuz, bagaimana konflik ini berkembang, dan seperti apa jalan ke depannya,” ia menambahkan.

Presiden AS Donald Trump mengatakan dalam sebuah unggahan di Truth Social presiden Iran meminta gencatan senjata, tetapi juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran menyebut pernyataan itu salah dan tidak berdasar. Trump dijadwalkan untuk berpidato di hadapan bangsa pada pukul 01.00 GMT pada Kamis. Axios sebelumnya melaporkan diskusi tentang gencatan senjata sedang berlangsung.

"Berakhirnya konflik dapat menjadi pedang bermata dua (bagi emas). Di satu sisi, perjanjian perdamaian yang langgeng akan menghilangkan permintaan aset aman geopolitik yang mendukung harga menjelang konflik,” ujar Analis Pasar IG, Tony Sycamore.

 

Harga Emas Turun 11% pada Maret 2026

Di sisi lain, Sycamore menambahkan, harga minyak yang lebih rendah dan inflasi yang mereda dapat menghidupkan kembali ekspektasi pemotongan suku bunga Fed pada 2026, yang dapat membantu harga.

Harga emas spot turun lebih dari 11% pada Maret karena harga energi yang lebih tinggi akibat perang Iran memicu kekhawatiran inflasi dan menyebabkan pasar mengurangi ekspektasi pemotongan suku bunga.

Emas batangan biasanya dipandang sebagai pengaman selama gejolak geopolitik dan inflasi, tetapi suku bunga tinggi mengurangi daya tarik logam yang tidak memberikan imbal hasil ini.

Laporan ketenagakerjaan nasional ADP menunjukkan penggajian swasta AS meningkat stabil pada bulan Maret. Penjualan ritel AS meningkat pesat pada Februari, tetapi kenaikan harga bensin dapat membatasi pengeluaran dalam beberapa bulan mendatang.

 

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6