Sistem MLFF Bisa Tekan Penumpukan Kendaraan di Gerbang Tol

Proyek MLFF tetap berjalan meskipun sebelumnya sempat menghadapi sejumlah persoalan.

Diterbitkan 20 Maret 2026, 18:30 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Setiap musim mudik Lebaran, gerbang tol kerap menjadi titik krusial yang memperlambat laju kendaraan. Volume kendaraan yang melonjak drastis bertemu dengan sistem transaksi yang masih mengandalkan interaksi fisik singkat menjadi kombinasi yang memicu penumpukan.

Di tengah kondisi tersebut, muncul harapan akan adanya inovasi sistem yang lebih efisien. Salah satunnya lewat sistem pembayaran nirsentuh jalan tol yaitu Multi Lane Free Flow (MLFF).

Menteri Pekerjaan Umum Dody Hanggodo mengatakan, proyek MLFF pada dasarnya tetap berjalan meskipun sebelumnya sempat menghadapi sejumlah persoalan yang perlu diselesaikan bersama berbagai pihak terkait.

"MLFF itu tetap berproses. Ada sedikit masalah teknis dan nonteknis, tetapi itu sudah dibereskan semua. Namun karena melibatkan banyak pihak, tentu perlu waktu untuk merapikannya," ujar Dody beberapa waktu lalu, seperti dikutip dari Antara, Jumat, (20/3/2026).

Menurut dia, penyelesaian kendala tersebut tidak hanya melibatkan jajaran Kementerian Pekerjaan Umum, tetapi juga berbagai pemangku kepentingan lain yang terlibat dalam pengembangan sistem pembayaran tol tanpa gerbang tersebut. Karena itu, proses penyempurnaan membutuhkan koordinasi lintas lembaga.

Dody menegaskan bahwa pengujian sistem akan terus dilanjutkan. Tahap pengujian berikutnya akan dilakukan untuk memastikan kesiapan teknologi sebelum implementasi yang lebih luas.

Sementara itu, Kepala Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT) Wilan Oktavian menjelaskan bahwa saat ini pengembangan MLFF telah memasuki tahap pra-uji coba. Tahap tersebut dilakukan setelah pemerintah dan mitra badan usaha pelaksana yakni PT. Roatex Indonesia Toll Sistem menyepakati pembagian tahapan program yang meliputi pra-uji coba, uji coba, dan evaluasi.

"Memang sesuai harapan Bapak Menteri, kami akan melakukan uji coba kembali dengan sistem MLFF ini. Saat ini kami masih berada dalam tahap pra-uji coba," kata Wilan.

 

Skenario Transaksi

Ia menyebutkan bahwa sejak beberapa hari terakhir telah dilakukan functional test untuk memastikan sistem dapat menjalankan berbagai skenario transaksi yang telah dirancang.

Pengujian tersebut, lanjut Wilan, tidak hanya bertujuan untuk melihat apakah sistem dapat berjalan atau tidak, tetapi juga untuk memastikan bahwa setiap skenario yang dirancang dapat dievaluasi secara teknis.

"Sejauh ini sudah dicoba sebanyak 64 skenario, dan hasilnya seluruh skenario tersebut dapat dilaksanakan serta dapat dinilai," ujarnya.

MLFF sendiri bukan proyek baru. Inisiatif ini telah dirintis sejak 2016, saat kunjungan Perdana Menteri Hungaria, Viktor Orbán, ke Indonesia. Proyek ini digarap oleh Roatex Ltd. melalui anak usahanya PT Roatex Indonesia Toll System, dengan nilai investasi mencapai USD 300 juta.

 

 

Pergeseran Paradigma

Dalam perspektif bisnis dan kebijakan publik, MLFF mencerminkan pergeseran paradigma dari pembangunan infrastruktur fisik menuju optimalisasi sistem dan teknologi. Alih-alih menambah jalan atau memperlebar lajur, peningkatan kapasitas dilakukan dengan menghilangkan hambatan operasional.

Pendekatan ini tidak hanya lebih efisien secara biaya, tetapi juga lebih adaptif terhadap dinamika mobilitas masyarakat. Dalam jangka panjang, MLFF berpotensi menjadi game changer bagi ekosistem transportasi nasional—mengurangi waktu tempuh, menekan biaya logistik, dan meningkatkan produktivitas.

Namun, tantangan implementasi tetap tidak kecil. Selain kesiapan teknologi, faktor sosialisasi kepada masyarakat menjadi kunci. Pengguna jalan tol harus memahami mekanisme baru, termasuk sistem pembayaran, registrasi kendaraan, hingga penegakan hukum bagi pelanggaran.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6