Minyak Mentah Melambung Imbas Perang Israel-AS vs Iran, Harga BBM Pertamina Bakal Naik?

Memanasnya perang antara Iran dan AS-Israel mengerek harga minyak mentah dunia, bagaimana dampaknya ke harga BBM?

Diterbitkan 03 Maret 2026, 21:40 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Memanasnya perang antara Amerika Serikat (AS) - Israel dengan Iran turut mengerek harga minyak mentah dunia. Lantas, apakah kenaikan ini akan berpengaruh pada harga jual Bahan Bakar Minyak (BBM) di Indonesia?

Diketahui, eskalasi konflik di Timur Tengah membuat harga minyak mentah Brent melambung ke USD 80,32 per barel. Angka ini jauh lebih tinggi dari Indonesia Crude Price (ICP) dalam APBN 2026 sebesar USD 70 per barel.

VP Corporate Communication Pertamina, Muhammad Baron belum mengambil keputusa kenaikan harga BBM. Pihaknya masih memantau perkembangan lebih lanjut. "Untuk tarif BBM kedepan ini masih kami berproses melihat perkembangan lebih lanjut," kata Baron, di Graha Pertamina, Jakarta, Selasa (3/3/2026).

Sebagai informasi, harga BBM non-subsidi Pertamina seperti Pertamax kerap mengikuti perkembangan harga minyak mentah dunia. Pada 1 Maret 2026 saja, ada kenaiman harga Pertamax menjadi Rp 12.300 per liter dari sebelumnya Rp 11.800 per liter.

Baron belum membuka kemungkinan tren kenaikan berlanjut di April 2026 mendatang. "Kami masih terus memanitor perkembangannya," ucap dia.

Di sisi lain, Baron memastikan kalau pasokan BBM baik subsidi maupun non-subsidi dalam kondisi aman menjelang Idulfitri atau Lebaran 2026 nanti.

"Tentu kami sudah sampaikan bahwa stok untuk Ramadan dan Idulfitri aman InsyaaAllah bisa berjalan dengan baik. Itu menjadi kewajiban utama kami terlebih dahulu," tegasnya.

 

Harga Minyak Dunia Bisa Naik Lagi

Harga minyak dunia sempat terkerek imbas memanasnya perang antara Amerika Serikat (AS)-Israel dan Iran. Lantas, apa kenaikan ini akan membebani subsidi energi di Tanah Air?

Anggota Dewan Ekonomi Nasional (DEN), Septian Hario Seto menilai ada kemungkinan kenaikan harga minyak dunia kembali naik seiring eskalasi di Timur Tengah. Namun, soal kemungkinan membebani subsidi, harus dilihat tingkat kenaikan harga minyak dunia ke depan.

"Ya mangkanya harus perlu dilihat. Sustain enggak? Apakah (harga minyak dunia) naiknya tinggi terus?," kata Seto, ditemui di Kantor Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), Senin (2/3/2026).

 

Beban Subsidi Energi Bertambah?

Diketahui, harga minyak mentah Brent sempat menyentuh USD 78,2 per barel. Angka ini lebih tinggi dari Indonesia Crude Price (ICP) dalam APBN 2026 dengan USD 70 per barel.

Seto mengatakan, kenaikan harga minyak dunia ini masih harus dipantau kedepannya. Kemudian, baru bisa didapat hitungan pengaruhnya terhadap beban APBN atas subsidi energi.

"Kalau kita lihat kemarin perang Rusia, Ukraina, atau kemarin yang tahun lalu serangan Israel ke Iran, kan sempat naik tapi langsung turun lagi. Jadi kita lihat lah. Mungkin satu minggu ke depan," tutur dia.

 

 

Biaya Logistik Naik

Dia menjelaskan lagi, penutupan Selat Hormuz berkepanjangan bisa semakin menekan harga energi. Termasuk juga pengaruhnya terhadap biaya logistik.

"Kalau itu harus dilihat. Makanya kalau nanti selat hormusnya eskalasinya terus, selat hormusnya ditutup, ya mungkin itu akan... cukup problematik lah," kata dia.

"Tapi ya tadi saya bilang, kita sabar, kita lihat satu minggu ke depan, ya mudah-mudahan kita doakan ini bisa cepat selesai gitu ya. Ada jalan damai lah," imbuh Seto.

 

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

  • liputan6
    Informasi terkini mengenai harga Bahan Bakar Minyak (BBM) dari berbagai penyedia seperti Pertamina, Shell, BP, dan Vivo, serta panduan terkait pendaftaran QR Code BBM subsidi dan jenis-jenis BBM yang tersedia.
    Harga BBM
  • liputan6
    BBM atau Bahan Bakar Minyak adalah materi apapun yang bisa diubah menjadi energi.
    BBM
  • liputan6
    Pertamina merupakan salah satu perusahaan BUMN yang bertugas mengelola pertambangan minyak dan gas bumi di Indonesia.
    Pertamina
  • Harga Minyak
  • minyak