PLN Grup Dapat Pasokan Gas dari Natuna Lewat Proyek Pipa WNTS-Pemping

PLN EPI memperoleh kepastian akses pembangunan pipa WNTS-Pemping ke ruas pipa WNTS.

Diterbitkan 05 Februari 2026, 15:30 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - PT PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI) mendapat kepastian pemanfaatan gas dari Natuna, setelah tercapainya kesepakatan penyambungan pipa (Tie-in Agreement/TIA) untuk proyek pipa West Natuna Transportation System (WNTS) Pulau Pemping.

Kesepakatan ini ditandatangani bersama oleh PT Medco E&P Natuna Ltd selaku operator WNTS, yang diwakili oleh WNTS Chairman Susanto, Direktur Utama PLN EPI Rakhmad Dewanto dan Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Migas (SKK Migas) Djoko Siswanto.

Direktur Utama PLN EPI Rakhmad Dewanto mengatakan, penyelesaian TIA menjadi titik krusial yang membuka jalan dimulainya pembangunan fisik pipa gas WNTS–Pemping, sekaligus memastikan kesiapan PLN EPI dalam menyerap gas domestik dari Natuna.

“Dengan disepakatinya TIA ini, PLN EPI memperoleh kepastian akses pembangunan pipa WNTS-Pemping ke ruas pipa WNTS sehingga proses konstruksi bisa segera di mulai pada awal Februari 2026," tutur Rakhmad, Kamis (5/2/2026).

Dengan rampungnya kesepakatan ini, PLN EPI akan segera melakukan konstruksi dengan target commissioning dapat mulai dilakukan di Semester 1 2026.

Pembangunan Pipa WNTS-Pemping merupakan penugasan Menteri ESDM yang diberikan kepada PLN EPI. Untuk melaksanakan penugasan tersebut, PLN EPI telah mengadakan long lead items, menunjuk Engineering, Procurement, and Construction (EPC) dan mendapatkan Ijin Lingkungan.

"Kesepakatan ini menjadi bagian penting dalam merealisasikan terbangunnya pipa WNTS-Pemping yang sudah menjadi cita-cita sejak lebih dari satu dekade lalu untuk mengalirkan gas dari wilayah kerja Natuna ke pasar domestik terutama untuk mendukung keandalan sistem kelistrikan di wilayah Batam dan Sumatra bagian Tengah,” ujar Rakhmad.

 

Penyelesaian Proyek Pipa

Penyelesaian pipa ini juga merupakan satu kesatuan untuk mengalirkan gas dari wilayah kerja Duyung dengan telah ditandatanganinya kontrak Perjanjian Jual Beli Gas Bumi (PJBG) antara PLN EPI dengan West Natuna Exploration Limited pada tanggal 11 Juli 2025 dengan volume sampai dengan 111 BBTUD selama 11 tahun.

Direktur Gas dan BBM PLN EPI Erma Melina Sarahwati mengungkapkan, dalam TIA yang telah disepakati bersama, skema tanggung jawab yang semula unlimited liabilities menjadi limited liabilities, dengan nilai maksimum di bawah USD 100 juta.

"Premi asuransi ditanggung sebagian oleh PLN EPI dan sebagian ditanggung bersama oleh WNTS JV Group. Kami mengucapkan terima kasih atas dukungan SKK Migas dan WNTS JV," imbuh Erma.

Bioenergi Jadi Andalan Percepat Penurunan Emisi Pembangkit Listrik

Sebelumnya, PT PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI) memperkuat pengembangan bioenergi, sebagai sebagai sumber energi Andalan dalan penurunan emisi karbon pada pembangkit yang sedang beroperasi.

‎Direktur Utama PLN EPI Rakhmad Dewanto mengatakan bioenergi memiliki peran strategis karena menjadi satu-satunya sumber energi terbarukan yang secara langsung menurunkan emisi karbon pada sistem pembangkit eksisting. Menurutnya, sebelum masuk pada opsi pensiun dini pembangkit, upaya reduksi emisi harus dimaksimalkan melalui pemanfaatan bioenergi.

‎“Dalam kerangka net zero emission, bioenergi menjadi kunci karena tidak sekadar mengganti kapasitas, tetapi benar-benar menekan emisi karbon pada sistem yang sudah berjalan. Ini penting untuk memastikan transisi energi tetap realistis dan berkelanjutan,” kata Rakhmad, Sabtu (10/1/2025).

Dalam mengembangkan bioenergi, PLN EPI menggandeng Balai Besar Survei dan Pengujian Ketenagalistrikan, Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (BBSP KEBTKE) Kementerian ESDM.

Kerja sama ini difokuskan pada pengujian, standardisasi, hingga penyusunan kajian teknis bioenergi guna mendukung target transisi energi, ketahanan energi nasional dan mendukung pencapaian target Net Zero Emission (NZE).

Rakhmad menambahkan, sinergi dengan BBSP KEBTKE diharapkan dapat memperkuat fondasi teknis pengembangan bioenergi, mulai dari pengujian hingga evaluasi proyek, agar implementasi di lapangan berjalan konsisten dan terukur.

‎Kepala BBSP KEBTKE Trois Dilisusendi menilai bioenergi merupakan salah satu jawaban penting dalam agenda transisi energi nasional. Saat ini, kontribusi bioenergi sudah menyumbang lebih dari separuh porsi energi terbarukan dalam bauran energi nasional.

‎“Bioenergi itu lengkap. Ketika kita bicara gas ada biogas, bicara batubara ada biomassa, bicara BBM ada biofuel. Bahkan bioenergi tidak hanya net zero, tapi berpotensi menuju karbon negatif. Semakin besar pemanfaatannya, semakin cepat target net zero bisa dicapai,” kata Trois.

Pengembangan Bioenergi

Menurutnya, BBSP KEBTKE siap mendukung pengembangan bioenergi melalui fasilitas pengujian yang mumpuni, penyusunan data potensi EBT, kajian _pra-feasibility_ study (pra-FS) dan feasibility study (FS), hingga pengembangan standar mutu.

“Kualitas menjadi kunci. Peningkatan persentase pemanfaatan bioenergi tidak akan berjalan jika standar mutu dan pengujian tidak dijaga dengan ketat,” ujarnya.

‎Direktur Biomassa PLN EPI Hokkop Situngkir menambahkan bahwa kerja sama ini menjadi salah satu yang tercepat direalisasikan karena kebutuhan teknis di lapangan sudah sangat jelas. Saat ini, PLN EPI saat ini mengelola pasokan bioenergi lebih dari dua juta ton per tahun dengan hampir seratus mitra, namun masih menghadapi tantangan besar dari sisi kualitas dan karakteristik biomassa.

‎“Kualitas terus membaik dari tahun ke tahun, tapi itu belum cukup. Kami butuh pengujian yang kredibel dan independen sejak awal agar standar bisa dijaga konsisten,” ujar Hokkop.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6