KBI Perkuat Ekosistem Resi Gudang, Buka Akses Pembiayaan untuk Petani dan UMKM

KBI memperkuat ekosistem resi gudang lewat kolaborasi strategis untuk pembiayaan dan digitalisasi bagi petani, nelayan, dan UMKM.

Diterbitkan 30 Januari 2026, 13:20 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - PT Kliring Berjangka Indonesia (PT KBI), bagian dari Holding BUMN Danareksa, menegaskan komitmennya sebagai Pusat Registrasi Resi Gudang (PusReg) pertama di Indonesia dengan menggagas kerja sama strategis untuk mempercepat penguatan ekosistem resi gudang nasional.

Langkah ini diwujudkan melalui penandatanganan sejumlah kemitraan lintas sektor guna memperkuat integrasi sistem serta menciptakan nilai tambah bagi pelaku usaha komoditas. Inisiatif tersebut juga diarahkan untuk memperluas akses pemanfaatan resi gudang bagi petani, nelayan, serta pelaku UMKM di berbagai daerah.

Dalam kolaborasi ini, KBI menggandeng PT Dana Aguna Nusantara (Danamart) yang akan mendukung pembiayaan ekosistem resi gudang melalui pemanfaatan sistem digital Information System Warehouse Receipt (IS-Ware) Nextgen.

Selain itu, kerja sama juga melibatkan PT Kliring Perdagangan Berjangka Indonesia (KPBI) sebagai anak usaha KBI, bersama PT Karya Jasa Internasional, PT Scash Global Indonesia, Asosiasi Pelaku Usaha Desa Seluruh Indonesia (Apudsi), serta PT Daya Teknologi Nusantara dalam pengembangan dan pemanfaatan sistem resi gudang.

Direktur Pengembangan Bisnis dan Operasional PT KBI, Saidu Solihin, mengatakan kolaborasi ini menjadi bagian dari strategi memperkuat peran PusReg dalam mendorong akselerasi komoditas nasional berbasis sistem resi gudang.

 

Solusi Terintegrasi

Saidu menegaskan, kolaborasi multipihak tersebut tidak hanya bersifat administratif, tetapi dirancang untuk menghadirkan solusi terintegrasi bagi pelaku usaha komoditas di berbagai sektor dan daerah.

“Kolaborasi ini bukan sekadar kerja sama antar perusahaan multi sektor, tetapi menjadi bentuk nyata dari upaya kami menghadirkan solusi yang terintegrasi bagi pelaku usaha komoditas. Melalui pengembangan sistem IS-Ware serta dukungan pembiayaan dan asosiasi, kami ingin memastikan sistem resi gudang dapat memberikan manfaat langsung bagi petani, nelayan, dan UKM di berbagai daerah,” ujar Saidu dalam keterangan tertulis, Jumat (30/1/2026).

Menurut dia, penguatan sistem digital dan dukungan pembiayaan menjadi kunci agar resi gudang tidak hanya berfungsi sebagai instrumen penyimpanan, tetapi juga menjadi sarana akses likuiditas bagi pelaku usaha.

Dengan integrasi sistem dan dukungan mitra strategis, ekosistem resi gudang diharapkan makin mudah diakses, lebih efisien, dan mampu meningkatkan nilai ekonomi komoditas lokal.

 

Mengenai Sistem Resi Gudang

Sebagai informasi, Sistem Resi Gudang (SRG) merupakan instrumen penting dalam menjaga keamanan pasokan, meningkatkan efisiensi distribusi, serta membuka akses pembiayaan berbasis komoditas. Skema ini memungkinkan pemilik komoditas memperoleh pembiayaan dengan jaminan barang yang disimpan di gudang terdaftar.

SRG telah memiliki landasan hukum melalui Undang-Undang Nomor 9 Tahun 2006 tentang Sistem Resi Gudang, yang terus diperbarui agar tetap relevan dengan dinamika perdagangan dan kebutuhan dunia usaha.

Dalam implementasinya, Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti) berperan sebagai regulator yang melakukan pembinaan, pengaturan, dan pengawasan kegiatan terkait resi gudang.

KBI menilai sinergi kuat antara regulator, pengelola sistem, lembaga pembiayaan, dan pelaku usaha akan mempercepat terbentuknya ekosistem resi gudang yang inklusif dan berkelanjutan, sekaligus memperluas manfaat ekonomi bagi sektor riil di berbagai daerah.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6