Bisnis Sejak Usia 20-an, Generasi Z Buktikan Usia Bukan Penghalang Sukses

Semakin banyak Generasi Z membangun bisnis sejak usia muda, mengandalkan teknologi AI dan kerja keras untuk menembus pasar global.

Diterbitkan 29 Januari 2026, 06:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Semakin banyak anak muda yang memilih jalur wirausaha sejak usia belia. Di Inggris, tren Generasi Z menjadi pengusaha kian menguat, seiring terbukanya akses teknologi dan pendanaan. Data Enterprise Nation mencatat, 62% Generasi Z—mereka yang lahir antara 1997 hingga 2012—berminat memulai bisnis sendiri.

Salah satu contohnya adalah Pablo Jiménez de Parga Ramos, Arnau Ayerbe, dan Bergen Merey. Tiga pemuda ini memulai bisnis mereka pada 2023, saat masih berusia 24 tahun. Dalam waktu singkat, perusahaan mereka, Throxy, berhasil menarik perhatian investor.

Dilansir dari BBC, Rabu (28/01/2025), Throxy telah mengantongi pendanaan sebesar EUR 5 juta dari dua putaran investasi. Tak hanya itu, perusahaan ini juga mencatatkan penjualan tahunan hampir EUR 1,2 juta.

Namun, jalan menuju kesuksesan tidak datang tanpa pengorbanan. Berbeda dari budaya kerja kebanyakan, Ramos menyebut mereka menerapkan etos kerja “9-9-6”, yakni bekerja dari pukul 9 pagi hingga 9 malam selama enam hari dalam sepekan.

“Jika saya tahu seberapa besar usaha dan kerja keras yang perlu saya lakukan untuk membawa perusahaan ini ke titik ini, saya mungkin tidak akan pernah memulainya,” ujar Ayerbe.

 

Pemahaman terhadap Kecerdasan Buatan

Para pendiri Throxy menilai, keunggulan utama mereka terletak pada pemahaman mendalam terhadap kecerdasan buatan (AI). Riset Investment Network menunjukkan, perusahaan berbasis AI yang dirintis oleh pendiri muda cenderung lebih sukses. Studi terhadap 3.512 pendiri perusahaan unicorn mengungkap bahwa usia rata-rata pendiri startup AI turun drastis, dari 40 tahun pada 2020 menjadi 29 tahun pada 2024.

Meski demikian, membangun bisnis di usia muda juga penuh tantangan. Rosie Skuse merasakannya secara langsung saat merintis Molto Music Group di usia 20-an. Ia kerap diremehkan oleh klien hanya karena usianya.

“Beberapa orang bahkan tidak mau berjabat tangan dengan saya. Itu sangat sulit, dan saya dulu sangat kesulitan menghadapinya. Sangat membuat frustrasi ketika orang tidak menganggap itu perusahaan Anda,” katanya.“Namun, ketika saya mulai berbicara, orang-orang bisa melihat bahwa saya tahu apa yang saya bicarakan,” lanjut Skuse.

Kini, di usia 29 tahun, Skuse berhasil membawa perusahaannya bekerja sama dengan klien-klien ternama seperti The Dorchester, The Savoy, Soho House, hingga Raffles. Molto Music Group mencetak pendapatan satu juta poundsterling pertamanya pada 2023 dan membukukan omzet EUR 1,6 juta pada 2025, dengan tujuh karyawan tetap.

 

Pengalaman Kerja juga Penting

Meski tren pengusaha muda terus berkembang, tidak semua sepakat bahwa memulai bisnis di usia sangat muda adalah pilihan terbaik. Sarah Skelton, salah satu pendiri Flourish—perusahaan perekrutan di industri penjualan—baru memulai bisnisnya pada usia 46 tahun.

Menurutnya, pengalaman kerja di lingkungan profesional tetap penting, terutama untuk membentuk kepemimpinan yang matang.“Sungguh luar biasa bahwa di zaman sekarang ini Anda dapat mendirikan bisnis dengan cukup cepat,” ujar Skelton.“Tetapi saya pikir Anda harus memiliki pengalaman hidup untuk benar-benar kuat dalam hal kepemimpinan, yang merupakan bagian yang sangat penting di sini,” katanya.

Cerita-cerita ini menunjukkan bahwa tak ada satu jalan tunggal menuju kesuksesan. Baik memulai bisnis sejak usia 20-an maupun setelah puluhan tahun bekerja, kunci utamanya tetap sama: kerja keras, ketahanan mental, dan kemampuan beradaptasi dengan perubahan zaman.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6