Jika Perang Dagang AS-Eropa Pecah, Stabilitas Ekonomi Global Bakal Terguncang

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump tiba-tiba melunak soal Greenland.

Diterbitkan 23 Januari 2026, 04:35 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Hubungan dagang antara Amerika Serikat (AS) dan Uni Eropa kembali memanas. Ketegangan memuncak setelah Presiden Donald Trump melontarkan ancaman tarif tambahan hingga 35% bagi negara-negara yang menghalangi ambisinya untuk mengambil alih Greenland. Namun, hanya berselang beberapa jam setelah ancaman tersebut memicu gejolak pasar, Trump mendadak melunakkan posisinya.

Gertakan Tarif dan Ambisi Greenland

Ketegangan bermula ketika sekelompok anggota kunci Parlemen Eropa memblokir pemungutan suara ratifikasi kesepakatan dagang AS-UE pada Rabu waktu setempat. Langkah ini diambil sebagai respons atas ancaman Trump yang ingin menguasai Greenland dengan dalih keamanan nasional AS.

Trump bahkan sempat mengisyaratkan opsi militer, meski kemudian membantahnya saat berbicara di Forum Ekonomi Dunia di Davos, Swiss. Sebagai gantinya, ia mempertegas ancaman tarifnya yang konsekuensinya dapat menjangkau seluruh dunia, mengingat besarnya perekonomian negara-negara yang terlibat. Demikian mengutip CNN, ditulis Jumat, (23/1/2026).

"Berdasarkan pertemuan produktif dengan Sekjen NATO, Mark Rutte, kami telah membentuk kerangka kesepakatan masa depan terkait Greenland dan Wilayah Arktik," tulis Trump dalam unggahannya di Truth Social pada hari rabu

Dengan adanya "konsep kesepakatan" tersebut, Trump menyatakan batal memberlakukan tarif tambahan yang seharusnya berlaku pada 1 Februari 2026.

Uni Eropa Siapkan 'Bazooka Perdagangan'

Sebelum Trump menarik ancamannya, para pemimpin Eropa telah bersiap melakukan perlawanan sengit. Presiden Prancis Emmanuel Macron dilaporkan telah meminta Uni Eropa untuk mengaktifkan "instrumen anti paksaan" atau yang populer dijuluki sebagai "Bazooka Perdagangan."

Senjata ekonomi ini memungkinkan Uni Eropa untuk menangguhkan lisensi operasional perusahaan-perusahaan asal AS di Eropa, Mengenakan pajak khusus pada layanan digital dan jasa asal Negeri Paman Sam.

Ketua Komite Perdagangan Parlemen Eropa, Bernd Lange menuduh Washington telah melanggar komitmen perjanjian dagang yang diteken musim panas lalu, di mana tarif barang UE ke AS seharusnya dipatok di angka 15%.

 

Saling Tuding Pelanggaran Komitmen

Di sisi lain, pemerintah AS merasa dikhianati. Duta Perdagangan AS, Jamieson Greer, menyebut Uni Eropa gagal memenuhi janji untuk meningkatkan pembelian produk pertanian dan energi Amerika.

"Uni Eropa gagal melaksanakan komitmennya meskipun AS telah bergerak cepat mengurangi tarif tahun lalu," tegas Greer sebelum pengumuman kerangka kerja baru diumumkan.

Pertaruhan Nilai Perdagangan USD 1 Triliun

Konflik ini bukan perkara kecil. Berdasarkan data Departemen Perdagangan AS, nilai perdagangan antara AS dan Uni Eropa mencapai hampir USD 1 triliun pada 2024.

Jika perang dagang pecah, dampaknya tidak hanya dirasakan oleh kedua kawasan, tetapi juga akan mengguncang stabilitas ekonomi global dan rantai pasok dunia. Hingga saat ini, belum jelas apakah parlemen Eropa akan ikut melunak dan melanjutkan proses kesepakatan dagang yang sempat tertunda tersebut.

 

Pasar Global Berpeluang Bergejolak

Sebelumnya, pasar global menghadapi volatilitas setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump berjanji akan mengenakan tarif pada delapan negara Eropa. Hal ini hingga AS diizinkan membeli Greenland.

Sentimen itu mendorong euro ke level terendah dalam tujuh minggu pada akhir perdagangan 18 Januari 2026. Saat perdagangan awal dimulai di Asia-Pasifik, euro turun 0,2 persen menjadi sekitar USD 1,1572 (S$1,50), terendah sejak November. Poundsterling juga turun, sementara yen menguat terhadap dolar.

Trump akan mengenakan tarif impor tambahan 10% mulai 1 Februari pada barang-barang dari Denmark, Norwegia, Swedia, Prancis, Jerman, Belanda, Finlandia dan Inggris yang akan naik menjadi 25% pada 1 Juni jika tidak ada kesepakatan yang tercapai. Demikian mengutip Strait Times, Senin (19/1/2026).

Negara-negara Uni Eropa utama mengecam ancaman tarif atas Greenland sebagai pemerasan pada 18 Januari. Prancis mengusulkan untuk menanggapi dengan berbagai tindakan balasan ekonomi yang belum pernah diuji sebelumnya.

"Harapan bahwa situasi tarif telah mereda untuk tahun ini telah pupus untuk saat ini - dan kita mendapati diri kita berada dalam situasi yang sama seperti musim semi lalu,” ujar kepala ekonom Berenberg, Holger Schmieding.

Tarif “Hari Pembebasan” besar-besaran yang diberlakukan Trump pada April 2025 mengguncang pasar. Investor kemudian sebagian besar mengabaikan ancaman perdagangan AS pada paruh kedua tahun itu, menganggapnya sebagai gangguan dan merespons dengan lega ketika Trump membuat kesepakatan dengan Inggris, Uni Eropa, dan lainnya.

Meskipun masa tenang itu mungkin telah berakhir, pergerakan pasar pada 19 Januari dapat terhambat oleh pengalaman sentimen investor lebih tangguh dari yang diperkirakan pada 2025 dan pertumbuhan ekonomi global tetap sesuai rencana.

 

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6