WEF 2026 Davos: CEO BRI Sebut UMKM Jadi Kunci Transisi Hijau dan Pembiayaan Berkelanjutan

CEO BRI menyampaikan peran UMKM sebagai kunci transisi hijau dan pembiayaan berkelanjutan dalam forum WEF 2026 Davos.

Diterbitkan 21 Januari 2026, 21:45 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Direktur Utama PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk, Hery Gunardi menjelaskan bahwa di negara berkembang, usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) memegang peran krusial dalam perekonomian. Sektor ini menciptakan lapangan kerja, menopang rantai pasok lokal, serta menjadi jangkar ketahanan komunitas. Namun demikian, UMKM kerap tidak menjadi bagian utama dalam diskusi global mengenai pembiayaan berkelanjutan.

Menurutnya, tidak akan ada transisi hijau maupun pertumbuhan inklusif yang berhasil tanpa keterlibatan UMKM.

“Pembiayaan berkelanjutan harus bersifat inklusif. Transisi hanya akan berhasil jika UMKM bergerak maju bersama, bukan tertinggal,” tegas Hery Gunardi  dalam diskusi panel bertajuk “Capital for Sustainability: Unlocking Sustainable Finance and Growth in Emerging Markets”, yang diselenggarakan di Indonesian Pavillion di World Economic Forum (WEF) 2026 di Davos, Swiss, Selasa (20/1/2026). 

Dalam konteks global, Hery menyoroti pentingnya peran bank lokal sebagai anchor bank dalam menyalurkan blended finance ke sektor riil. Menurutnya, tanpa kemampuan eksekusi di tingkat lokal, pembiayaan berkelanjutan berisiko berhenti pada tataran konsep dan sulit menjangkau kebutuhan nyata di lapangan.

Lebih lanjut, Hery menjelaskan BRI menjalankan peran sebagai anchor bank dengan menggandeng pemerintah, lembaga pembiayaan pembangunan, serta bank multilateral untuk menyalurkan blended finance ke sektor UMKM. Tanpa keberadaan bank jangkar lokal, pembiayaan berkelanjutan berisiko berhenti pada tataran konsep dan tidak mencapai sektor riil secara optimal. Selain peran kelembagaan, digitalisasi juga disebut sebagai faktor kunci dalam mendorong skala pembiayaan berkelanjutan.

Menurut Hery, digitalisasi memungkinkan penurunan biaya pembiayaan, perluasan akses kredit, serta pengumpulan data ESG hingga ke level UMKM. Dengan dukungan teknologi digital, pembiayaan berkelanjutan tidak lagi berhenti pada proyek percontohan, melainkan berkembang menjadi sebuah sistem yang terintegrasi.

“Digitalisasi memungkinkan keberlanjutan untuk berkembang dalam skala besar, menurunkan biaya pembiayaan, memperluas akses kredit, serta memungkinkan pengumpulan data ESG hingga ke tingkat UMKM,” katanya.

BRI Jadikan Keberlanjutan Fondasi Pembiayaan UMKM

BRI menempatkan keberlanjutan bukan sebagai inisiatif terbatas, melainkan sebagai strategi mass market. Hery menegaskan, keberlanjutan telah menjadi bagian dari DNA BRI dalam membiayai jutaan pelaku usaha setiap hari. Tantangan terbesar, menurut Hery, justru datang dari persepsi lama yang menilai UMKM tidak bankable dan sarat risiko.

Untuk mematahkan stigma tersebut, BRI berani melangkah lebih jauh dengan menggeser pendekatan pembiayaan. Dari yang sebelumnya bertumpu pada agunan, kini BRI mengandalkan kepercayaan berbasis data—mulai dari digital underwriting, pemanfaatan data transaksi, hingga penguatan ekosistem usaha. Dengan cara ini, risiko bisa dikelola lebih cermat, dan pembiayaan berkelanjutan pun dapat tumbuh lebih luas.

“Sustainability bukan inisiatif niche bagi kami, tetapi strategi mass market yang tertanam dalam cara kami membiayai jutaan pelaku usaha setiap hari,” kata Hery.

 Hery menegaskan bahwa pembiayaan berkelanjutan tidak seharusnya berhenti pada instrumen seperti green bond atau proyek infrastruktur besar.

“Keberlanjutan yang nyata terjadi ketika pembiayaan menjangkau desa, petani, dan micro-entrepreneur. Ini bukan bantuan sosial, melainkan aktivitas ekonomi yang layak secara komersial,” ujarnya.

 

(*)

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6