Ekonomi Indonesia 2026 Ditopang Suku Bunga hingga Kebijakan Fiskal

Dalam laporan Danantara menyebutkan, kebijakan fiskal diperkirakan menjadi pro-pertumbuhan yang didukung program unggulan.

Diterbitkan 12 Januari 2026, 13:30 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Danantara Indonesia memproyeksikan kebijakan fiskal dan moneter akan menjadi penopang utama perekonomian nasional pada 2026. Dalam laporan Danantara Economic Outlook 2026, disebutkan arah kebijakan pemerintah mulai bergeser dari fase penyesuaian dan pengetatan menuju strategi yang lebih mendukung pertumbuhan ekonomi domestik.

Sepanjang 2025, perekonomian Indonesia berada dalam fase konsolidasi akibat reprioritisasi anggaran, pengetatan likuiditas, serta transisi kebijakan di bawah pemerintahan baru. Kondisi tersebut sempat menekan pertumbuhan kredit dan konsumsi rumah tangga. Namun, memasuki paruh kedua 2025, berbagai indikator mulai menunjukkan perbaikan yang signifikan.

Danantara menilai perubahan arah kebijakan fiskal akan menjadi salah satu katalis terpenting pada 2026, terutama melalui percepatan belanja negara dan penguatan permintaan domestik. 

"Kebijakan fiskal diperkirakan akan beralih menjadi pro-pertumbuhan, didukung oleh eksekusi yang lebih kuat serta program-program unggulan yang memperkuat permintaan domestik,” menurut Danantara dalam laporannya, dikutip Senin (12/1/2026).

Salah satu faktor yang dinilai berperan besar adalah semakin solidnya pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG). Program ini dinilai tidak hanya mempercepat penyaluran belanja pemerintah, tetapi juga menciptakan dorongan permintaan yang lebih konsisten bagi perekonomian sepanjang 2026.

Di sisi moneter, Danantara melihat dampak pelonggaran kebijakan Bank Indonesia yang dilakukan sepanjang 2025 belum sepenuhnya tercermin dalam aktivitas ekonomi. Pemangkasan suku bunga acuan secara kumulatif sebesar 125 basis poin diperkirakan baru akan memberikan efek yang lebih nyata terhadap pertumbuhan kredit dan kegiatan usaha pada tahun depan.

"Pelonggaran moneter yang dilakukan pada 2025 akan sepenuhnya menyalurkan dampaknya, mendorong pertumbuhan kredit dan aktivitas bisnis,” tulis Danantara dalam laporan tersebut.

 

 

Kombinasi Kebijakan Fiskal

Pertumbuhan kredit modal kerja diproyeksikan menjadi salah satu penggerak utama, seiring meningkatnya aktivitas usaha dan kebutuhan pembiayaan operasional. Sementara itu, permintaan kredit investasi dinilai tetap kuat, mencerminkan minat investasi jangka panjang yang relatif terjaga meskipun perekonomian sempat mengalami tekanan.

Danantara menilai kombinasi kebijakan fiskal yang lebih ekspansif dan transmisi kebijakan moneter yang semakin efektif akan menciptakan fondasi pertumbuhan yang lebih kokoh pada 2026.

Meski demikian, laporan tersebut juga mengingatkan pentingnya kewaspadaan terhadap potensi risiko, termasuk tekanan inflasi, pergerakan nilai tukar, serta kualitas kredit di sektor keuangan.

 

Danantara Dinilai Efektif Dorong Produktivitas Lewat Investasi Jangka Panjang

Sebelumnya, Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Diponegoro (UNDIP), Firmansyah, menilai potensi terbesar Danantara tidak berasal dari ekspansi tenaga kerja atau peningkatan belanja jangka pendek. Menurutnya, kontribusi utama Danantara justru terletak pada peningkatan produktivitas dan efisiensi ekonomi melalui investasi jangka panjang yang terarah.

Firmansyah menjelaskan, Danantara dirancang sebagai platform investasi strategis, bukan sekadar instrumen penyaluran belanja. Fokus utamanya adalah mendorong proyek-proyek yang mampu meningkatkan kapasitas ekonomi nasional secara berkelanjutan.

“Potensi terbesar Danantara itu bukan dari menambah tenaga kerja atau belanja sesaat, tetapi dari peningkatan produktivitas dan efisiensi ekonomi,” ujar Firmansyah dalam diskusi daring INDEF, Kamis (8/1/2026).

Ia menyebut terdapat tiga mekanisme utama yang menjadi sumber kontribusi Danantara terhadap pertumbuhan ekonomi. Mekanisme pertama adalah investasi produktif jangka panjang, terutama pada sektor infrastruktur strategis, industri pengolahan, energi, dan pangan.

“Sebagai platform investasi jangka panjang, Danantara bukan sekadar menghimpun dana lalu membelanjakannya. Dana tersebut diarahkan ke proyek-proyek strategis, seperti infrastruktur, industri pengolahan, energi, dan pangan,” jelasnya.

Firmansyah menambahkan, penguatan industri pengolahan memiliki efek pengganda yang besar bagi perekonomian. Selain itu, investasi pada teknologi dan logistik juga dinilai krusial, mengingat karakteristik Indonesia sebagai negara kepulauan.

 

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6