Mengenal Istilah Go Around, Divert dan Holding pada Penerbangan Saat Cuaca Buruk

Berada di dalam pesawat namun terbang dalam kondisi cuaca buruk, tidak perlu panik

Diterbitkan 12 Januari 2026, 12:45 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Berada di dalam pesawat namun terbang dalam kondisi cuaca buruk, tidak perlu panik. Sebab pilot dan petugas ATC Airnav Indonesia, bakal melakukan langkah-langkah untuk keselamatan penumpang dan juga awak kabinnya.

Misalnya saja yang terjadi pada Senin pagi, 12 Januari 2026, Airnav Indonesia mencatat ada 15 penerbangan yang melakukan holding atau berputar-putar di udara, sebelum akhirnya berhasil mendarat. Baik itu di bandara tujuan ataupun melakukan divert atau mendarat di bandara terdekat.

"Go-around, holding, dan divert adalah prosedur normal penerbangan yang digunakan saat cuaca tidak mendukung. Ini menunjukkan pilot dan ATC mengutamakan keselamatan,"ungkap Direktur Operasi AirNav Indonesia Setio Anggoro.

Dia juga menjelaskan, Go Around merupakan prosedur, dimana pilot membatalkan pendaratan dan melakukan pendekatan ulang ke landasan pacu. Hal ini dapat dilakukan karena berbagai alasan. Seperti kondisi cuaca yang tidak memungkinkan, lalu lintas udara yang padat, masalah teknis pada pesawat, hingga instruksi dari pengendali lalu lintas udara.

"Lalu holding, ini prosedur dimana pesawat terbang pola tertentu di sekitar bandara atau titik tertentu di udara untuk menunggu izin pendaratan atau instruksi lebih lanjut dari pengendali lalu lintas udara,"katanya.

Hal ini dapat dilakukan karena lalu lintas udara yang padat, cuaca buruk, masalah teknis pada bandara.

Sementara divert adalah prosedur dimana pesawat dialihkan ke bandara lain karena alasan tertentu. Seperti cuaca buruk di bandara tujuan, masalah teknis pada bandara tujuan, keadaan darurat di pesawat, instruksi dari pengendali lalu lintas udara.

"Dalam semua kasus, pilot dan pengendali lalu lintas udara bekerja sama untuk memastikan keselamatan penerbangan dan mengurangi keterlambatan,"katanya.

 

Cuaca Buruk di Bandara Soetta: 15 Pesawat Sempat Tertahan di Udara

Cuaca buruk yang menimpa di sekitar Bandara Internasional Soekarno Hatta, membuat penerbangan pada Senin pagi, 12 Januari 2026, terganggu. Media sosial Threads pun diramaikan dengan gambaran penerbangan dari web flightradar24, dimana pesawat hanya berputar di laut Jawa.

"Pagi ini 12 Jan 2026 hujan petir di Jakarta yg sangat ekstrim akibatnya Bandara Soekarno Hatta lumpuh, total 30 pesawat tidak bs landing dan go around berulang” di sekitar laut Jawa! Please hati” buat yg lg traveling / dlm perjalanan ‼️," tulis felixpramono dalam akun Threadsnya.

Unggahan tersebut pun dia lengkapi dengan poto-poto langit yang hujan deras. Kemudian capture flightradar24 yang menggambarkan penerbangan menuju Bandara Soekarno Hatta, beberapa pesawatnya terlihat berputar di atas laut.

Meski begitu, beberapa warganet ada yang membenarkan langkah go around tersebut pada pagi tadi. Namun berakhir dengan pendaratan selamat di Bandara Soekarno Hatta.

'Alhamdulillah baru landing dg selamat setelah go around 25 mins,'tulis akun aotvya pada 1 jam yang lalu.

Efek cuaca ekstrem juga dirasakan penumpang Bandara Soekarno-Hatta yang akan terbang. Namun tak sedikit juga yang memberikan dukungannya kepada pilot dan petugas di menara pengawas atau ATC, di tengah cuaca ekstrem.

Direktur Operasi AirNav Indonesia Setio Anggoro menjelaskan, cuaca buruk terjadi sejak pagi pukul 05.00 Wib sampai pukul 10.00 WIB.

"Dimana visibility di bawah minimal untuk approach di runway sisi utara, RWY 06/24 dan 07L/25R,"katanya.

Approach adalah langkah akhir pesawat saat akan mendekati landasan pacu untuk mendarat, atau saat menjauhi bandara setelah lepas landas, yang diatur oleh unit khusus bernama Approach Control Unit (APP) untuk memastikan keselamatan, efisiensi, dan keteraturan lalu lintas udara.

 

15 Pesawat Sempat Tertunda Mendarat

Setyo menjelaskan, catatan terakhir Airnav Indonesia, hingga pukul 10.00 pagi tadi, ada 15 pesawat holding atau mengambil langkah berputar-putar di udara selama 15 hingga 60 menit.

Akhirnya, dari 15 pesawat itu, ada yang berhasil mendarat di Bandara Soekarno Hatta, namun ada juga yang divert atau landing di bandara terdekat.

"Ada yang di Palembang, Semarang, Halim, YIA, Lampung, Jambi, Pangkalpinang,"ungkapnya.

Setyo juga menegaskan, prosedur go around, holding ataupun divert adalah hal yang lumrah untuk keselamatan penerbangan atau penumpang.

"Go-around, holding, dan divert adalah prosedur normal penerbangan yang digunakan saat cuaca tidak mendukung. Ini menunjukkan pilot dan ATC mengutamakan keselamatan,"katanya.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6