CEO Nvidia Jensen Huang Santai Hadapi Pajak Miliarder, Ini Alasannya

Jensen Huang menanggapi santai rencana Pajak Miliarder California dan menegaskan komitmen Nvidia bertahan di Silicon Valley

Diterbitkan 10 Januari 2026, 06:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - CEO Nvidia Jensen Huang menyatakan sikap yang tidak biasa di tengah polemik rencana penerapan Pajak Miliarder California. Di saat sejumlah tokoh teknologi bereaksi keras bahkan mempertimbangkan hengkang dari negara bagian tersebut, Huang justru mengaku tak mempermasalahkan kebijakan pajak tersebut.

Dalam wawancara, Huang mengatakan, isu pajak tersebut bahkan tak pernah terlintas di benaknya. Menurut dia, keberadaan Nvidia di Silicon Valley bukan semata karena faktor pajak, melainkan kekuatan sumber daya manusia dan inovasi teknologi yang tak tergantikan.

"Kami bekerja di Silicon Valley karena di sanalah kumpulan talenta terbaik berada," ujar Huang, dikutip dari Forbes, Jumat (9/1/2026).

"Soal pajak apa pun yang ingin mereka terapkan, biarlah. Saya baik-baik saja dengan itu.”

Pernyataan ini menempatkan Huang pada posisi yang berbeda dibandingkan sejumlah miliarder teknologi lain yang secara terbuka menentang rencana Pajak Miliarder California. Beberapa di antaranya bahkan telah mengambil langkah nyata dengan memindahkan bisnis mereka ke negara bagian lain.

Berbeda dengan Thiel hingga David Sacks, sikap Huang kontras dengan respons dari tokoh seperti Peter Thiel, pendiri Palantir, dan Larry Page, salah satu pendiri Google. Keduanya sempat mempertimbangkan untuk meninggalkan California.

Thiel Capital bahkan telah mengumumkan pembukaan kantor baru di Miami sebelum akhir 2025. Sementara itu, sejumlah pemimpin teknologi lainnya, termasuk David Sacks penasihat kecerdasan buatan Presiden AS Donald Trump dan investor modal ventura Chamath Palihapitiya, meluapkan kemarahan mereka melalui media sosial.

Sacks diketahui telah membuka kantor di Austin, Texas, yang selama ini dikenal sebagai tujuan baru para eksekutif teknologi yang ingin menghindari tingginya pajak dan biaya hidup di California.Namun bagi Huang, perdebatan soal pajak tidak menjadi fokus utama, Huang dengan tegas menanggapi, "Tidak juga, bukan saya. Saya sedang berusaha membangun masa depan AI."

 

Potensi Pajak

Sebagai salah satu orang terkaya di dunia, dampak kebijakan ini terhadap Huang bukanlah angka kecil. Forbes memperkirakan kekayaan bersih Jensen Huang mencapai USD 162,9 miliar atau Rp 2.738 triliun (asumsi kurs dolar Amerika Serikat terhadap rupiah di kisaran 16.810), menjadikannya orang terkaya kedelapan di dunia.

Kekayaan tersebut sebagian besar berasal dari kepemilikan sekitar 3% saham Nvidia.Jika Rancangan Undang-Undang Pajak Miliarder California 2026 disahkan, individu dengan kekayaan bersih di atas USD 1 miliar atau Rp 16,8 triliun akan dikenakan pajak satu kali sebesar 5%.

Dengan perhitungan tersebut, Huang berpotensi menghadapi tagihan pajak lebih dari USD 8 miliar, atau setara sekitar Rp 134,47 triliun.Angka tersebut menjadikannya salah satu individu yang paling terdampak oleh kebijakan tersebut, jika tetap berdomisili di California.

Nvidia dan Dominasi Industri AI

Jensen Huang mendirikan Nvidia pada 1993 sebagai perusahaan kartu grafis. Dalam beberapa dekade terakhir, Nvidia bertransformasi menjadi pemain kunci dalam industri kecerdasan buatan (AI), berkat dominasi produk GPU berkinerja tinggi yang digunakan untuk pelatihan dan pengembangan AI.

Lonjakan permintaan GPU untuk kebutuhan AI menjadikan Nvidia sebagai perusahaan dengan kapitalisasi pasar terbesar di dunia, mengungguli raksasa teknologi lain seperti Apple dan Microsoft. .Di tengah kesibukannya memimpin ekspansi Nvidia dan membangun masa depan AI global, Huang tampaknya memilih untuk mengesampingkan polemik pajak dan tetap berfokus pada inovasi.

 

Latar Belakang Pajak Miliarder California

Rancangan Undang-Undang Pajak Miliarder California diperkenalkan oleh serikat pekerja sebagai upaya menutup potensi kekurangan anggaran negara bagian.

Dana dari pajak ini direncanakan untuk mendukung layanan kesehatan, bantuan pangan, serta pendidikan publik yang terancam pemotongan dana federal akibat kebijakan anggaran pemerintahan Trump.

Agar dapat masuk ke surat suara pemilu 2026, RUU ini membutuhkan 874.641 tanda tangan pemilih California. Hingga kini, belum diketahui secara pasti jumlah tanda tangan yang telah terkumpul.Jika disetujui oleh mayoritas pemilih, pajak ini hanya akan berlaku bagi miliarder yang telah tinggal di California sejak 1 Januari tahun penerapan kebijakan.

 

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6