Daftar Miliarder Dunia Meraup Cuan dari Celah Perang Rusia-Ukraina

Sejumlah miliarder justru mencatat rekor kekayaan dengan adanya perang Rusia-Ukraina. Simak daftar pengusaha global yang kekayaannya melonjak drastis.

Diterbitkan 05 Januari 2026, 21:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Perang Rusia–Ukraina yang telah berlangsung sejak Februari 2022 tidak hanya membawa kehancuran besar bagi Ukraina dan mengguncang stabilitas ekonomi global, tetapi juga menciptakan paradoks tajam di dunia bisnis. Di balik runtuhnya kota-kota, ratusan ribu korban jiwa, serta sanksi internasional yang melumpuhkan banyak sektor ekonomi, sejumlah miliarder justru mencatat lonjakan kekayaan berkat konflik bersenjata tersebut.

Dikutip dari sarajevotimes, Senin (5/1/2026), invasi Rusia ke Ukraina memicu gelombang sanksi Barat yang memutus Rusia dari sistem keuangan global dan mendorong eksodus massal perusahaan-perusahaan asing.

Namun, kondisi ini justru membuka peluang emas bagi para oligarki Rusia, pedagang energi, hingga pengusaha industri pertahanan, baik di dalam maupun luar Rusia. Mereka memanfaatkan kekosongan pasar, meningkatnya belanja militer, serta penjualan aset perusahaan Barat dengan harga diskon besar.

Laporan perusahaan investigasi Rusia, Proekt, pada Juli 2023 mengungkap bahwa 81 taipan Rusia, termasuk 63 miliarder versi Forbes, secara aktif memasok kebutuhan kompleks industri militer Rusia.

Dalam periode 2014 hingga 2023, mereka memenangkan kontrak publik senilai hampir USD 3 miliar, sekitar Rp 50 triliun dari sektor pertahanan, memperlihatkan keterkaitan erat antara kekayaan elite bisnis dan mesin perang Kremlin.

Data Forbes 2024 menunjukkan rekor baru, terdapat 120 warga Rusia dalam daftar miliarder dunia, naik dari 105 orang pada 2023, termasuk 19 nama baru. Total kekayaan mereka mencapai USD 537 miliar, hampir Rp 9.000 triliun meningkat sekitar 13 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Ironisnya, dari 55 miliarder Rusia yang dikenai sanksi oleh AS, Inggris, atau Uni Eropa, sebanyak 37 orang justru mengalami kenaikan kekayaan dalam setahun terakhir.

Fenomena ini menunjukkan bahwa perang, meski membawa penderitaan luas, juga menciptakan jalur akumulasi kekayaan baru bagi kelompok tertentu—mulai dari akuisisi aset murah, dominasi pasar domestik tanpa pesaing asing, hingga lonjakan permintaan energi dan persenjataan.

Eksodus Perusahaan Barat Jadi Ladang Emas

Salah satu sumber keuntungan terbesar datang dari hengkangnya perusahaan Barat dari Rusia pada 2022. Aset-aset yang ditinggalkan dijual dengan harga diskon besar dan diambil alih oleh pengusaha lokal. Ivan Tavrin, pendiri Kismet Capital, menjadi contoh paling menonjol.

Konsorsium yang dipimpinnya membeli aset raksasa konsumen Henkel di Rusia dengan harga sekitar USD 660 juta, sekitar Rp 11 triliun jauh di bawah nilai pasar. Pemerintah AS bahkan menyebut Tavrin sebagai salah satu “pencari keuntungan perang terbesar Rusia”.

Keuntungan tidak hanya dinikmati pengusaha Rusia. Sejumlah miliarder asing juga mencetak laba besar dengan memasok senjata ke Ukraina. Michal Strnad, miliarder asal Ceko, melalui Czechoslovak Group, menjadi salah satu pemasok senjata terbesar bagi Kyiv.

Sementara itu, perusahaan drone militer Turki Baykar, milik kakak beradik Seljuk dan Haluk Bayraktar, mengalami lonjakan ekspor setelah drone Bayraktar TB2 berperan penting di medan perang Ukraina.

Miliarder Ukraina Justru Terpuruk

Sebaliknya, kekayaan para miliarder Ukraina mengalami penurunan tajam. Forbes mencatat total kekayaan mereka turun 19 persen dibandingkan 2023. Orang terkaya Ukraina, Rinat Akhmetov, kembali terpukul setelah pasukan Rusia merebut Avdiivka pada Februari lalu, yang menghancurkan pabrik kokas utama miliknya.

Beberapa miliarder yang kekayaannya meningkat selama konflik antara lain:

  • George Procopiou (Yunani), pemilik armada tanker besar pengangkut minyak dan gas
  • RusiaIvan Tavrin, investor yang membeli aset perusahaan Barat dengan harga diskonHaluk dan Seljuk Bayraktar (Turki), pemilik produsen drone militer
  • BaykarArsen Kanokov, pengusaha properti yang mengambil alih gerai McDonald’s dan Starbucks di Rusia
  • Denis Frolov, pemilik Astra Group yang menyediakan infrastruktur digital bagi pemerintah dan militer Rusia

Perang Rusia–Ukraina menunjukkan bahwa di tengah krisis kemanusiaan dan kehancuran ekonomi, konflik bersenjata tetap menciptakan pemenang finansial—sebuah realitas pahit dari ekonomi perang global.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6